by

Menghembuskan Nafas Cinta

-Resensi-1,446 views
Review Buku Denny JA: Spirituality of Happiness, Spiritualitas Baru Abad 21, Narasi Ilmu Pengetahuan

Oleh: Dr (H.C) Husein Muhammad

KOPI, Jakarta – هذا العالم غارق في الآلام والمآسي من رأسه إلى قدميه، وﻻ أمل له في الشفاء إﻻ بيد الحب.

Dunia tenggelam dalam lara dan penuh luka dari ubun-ubun hingga telapak kaki. Tak ada harapan untuk sembuh kecuali dengan sentuhan tangan Cinta. (Rumi)

Seorang sahabat lama mengirimi saya draf buku karya Denny JA : “Spirituality Of Happines”.

Saya lalu membacanya selembar demi selembar. Saya bilang buku ini dahsyat dan menggugat kemapanan tradisi beragama dan berpikir. Meski begitu ujung ceritanya dia mengajak berdamai, melalui cinta.

Buku ini telah memberi saya pengetahuan tentang istilah-istilah sains baru yang tak saya pahami sebelumnya. Sesudah merenung saya akhirnya memberanikan diri untuk menulis ini, apapun yang terjadi.

-000-

Denny JA seperti tengah galau dan menyimpan lama gelisah. Ia telah membaca sejumlah hasil riset ilmiah yang menakjubkan. Lalu ia merefleksikan bahwa manusia hari ini tengah dilanda kegelisahan, kecemasan, dan keguncangan spiritual.

Agama dalam banyak sejarah manusia sering terlibat atau dilibatkan dalam memporakporandakan sistem relasi kemanusiaan.

Permusuhan dan perang atas nama agama masih berlangsung di berbagai komunitas dunia, sampai hari ini. Bahkan justru terjadi konflik di tempat-tempat di mana agama-agama lahir.

Denny melihat upaya manusia, homo sapiens, berbekal potensi akal dan ruhnya, mencari dan terus berkelana menyusuri jalan tanpa henti untuk menemukan cahaya kebahagiaan.

Penemuan sains baru nan spektakuler dan tak pernah terbayangkan sebelumnya, seperti neuroscience, Artificial Intelligence, Face Transplant dan Internet of Everything.

Itu untuk sementara waktu terlihat bisa menjawab kegelisahan sekaligus meringankan dan menyejahterakan hidup manusia.

Revolusi ilmu pengetahuan dan sains yang berbasis pada akal intelek berikut produk-produknya itu telah mampu memberikan jalan untuk mengatasi kemelut hidup tanpa harus mengacu pada fatwa-fatwa agama.

Kini, kata Denny, berita gembira bisa dikumandangkan. Pesan bahagia bisa disuarakan, mulai dari kampung di atas bukit hingga pasar di tengah-tengah kota.

Denny menyampaikan deklarasi jalan baru baru, untuk dunia hari ini.

“Wahai manusia, ilmu pengetahuan sudah menyimpulkan. Apapun warna kulitmu, asal negaramu. Bagaimanapun tingkat pendidikan dan status ekonomimu.”

“Wahai manusia, riset sudah membuktikan lagi dan lagi. Apapun agamamu, etnikmu, kepercayaanmu. Semua kamu bisa hidup bermakna dan bahagia.”

Tetapi apakah dengan begitu, segala impian manusia untuk hidup bahagia, telah tercapai dan selesai?

Denny dengan jujur menyebut sejumlah kengerian dan petaka baru yang dialami masyarakat yang dianggap telah mencapai kebahagiaan dan “telah selesai’ itu. Beberapa peristiwa yang mungkin tak dinyana di antaranya adalah justru munculnya realitas baru yang tak membahagiakan.

Bunuh diri, obesitas, dan kesepian merebak dan terus menghantui manusia. Lebih dari satu juta orang bunuh diri setiap tahun. Kematian akibat obesitas berlipat-lipat daripada mati kelaparan dan rasa sepi yang terus menggamit relung hati dan menyiksa.

Ini, kata Denny, adalah ironi peradaban post materialism. Ketika kemakmuran materi melimpah, semakin banyak yang bunuh diri. Ini situasi jiwa yang mengalami putus asa dan menyiksa.

Lalu bagaimana Denny menjawab situasi kontradiktif dan ironis tersebut?. Dalam buku ini, ia mencoba menawarkan solusi. Ia menyebutnya Spiritualitas Baru. Dalam redaksi lain ia disebut Spiritualitas Gelombang Ketiga dan Spiritualitas Universal.

Spiritualitas baru itu bukan agama, tidak untuk menggantikan agama yang ada. Ia justru untuk memperkuat agama yang ada.

Tapi spiritualiatas baru ini tak lagi bersandar pada titah dari langit”. Ia juga tak bertumpu pada permenungan filsafat. Ia harus hasil dari riset panjang yang empirik. Tawaran ini sungguh menggoda, menantang, sekaligus menawan.

-000-

Merespons tawaran itu, biar clear saya ingin lebih awal memaknai kata “agama” yang menjadi tema kegelisahan Denny.

Syams Tabrizi, guru Maulana Rumi, seorang darwish dalam buku “Al-Qawa’id al-‘Isyq al-Arba’un” (40 Kaidah Cinta) mengatakan: “Kebanyakan masalah di dunia berakar dari kesalahan linguistik dan kesalahpahaman yang sederhana”.

Dengan kata lain, kekeliruan memahami kata, bisa membuat banyak kekeliruan dan kesalahpahaman yang bisa memunculkan kerentanan sosial.

Agama dalam Bahasa Arab disebut “din”, jamaknya “adyan”. Kata ini berbeda dengan kata “Al-Syari’ah” yang sering dimaknai oleh kita sebagai sama.

Seorang ahli tafsir klasik terkemuka dari kalangan Tabiin, Qatadah mengatakan, “al-Dîn wâhid wa al-Syarîah mukhtalifah” (Dîn hanyalah satu, sedang Syariat berbeda-beda).

Pernyataan ini dikemukakan Qatadah untuk menjelaskan makna Syir’ah (Syariah) dan Minhâj yang terdapat dalam ayat al-Qur`an, “Li kullin ja’alnâ minkum syir’atan wa minhâja” (Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan “syir’ah” dan “minhâj”.

Singkatnya, Din bukan Syari’ah. Syariah adalah cara, metode, jalan atau aturan baik legal formal maupun etika tradisi. Sebagai cara ia beragam dan kontekstual. Jika boleh saya ingin mengatakan syariah adalah kebudayaan.

Dan “al-Dîn” adalah keyakinan tentang Ke-Esa-an Tuhan. Seluruh agama sama dalam hal ini. Dan semua manusia beragama bercita-cita menempuh jalan spiritual menuju Dia melalui cara dan jalan yang berbeda-beda.

Tafsir serupa atas ayat di atas juga dikemukakan oleh mufassir besar, Ibn Katsir (w. 774 H). Ia mengutip sebuah pernyataan Nabi yang valid (sahîh), “Nahnu maâsyir al-anbiyâ` Ikhwah liallat. Dînunâ wâhid” (Kami para nabi adalah saudara. Agama kami satu).

Menurut Ibn Katsir, Agama yang satu tersebut adalah “Tauhid.” Ini sebuah prinsip ke-Esa-an Tuhan yang dibawa semua nabi-nabi dan diberitakan dalam kitab-kitab/dokumen-dokumen suci agama-agama.

Abu Rayyah, penulis buku yang kontroversial “Din Allah Wahid ‘ala Alsinah Jami’ al-Rusul”, mengemukakan hal yang sama. Ia mengatakan: “Agama Allah itu satu sepanjang sejarah umat manusia.

Perbedaan agama-agama hanyalah format dan ekspresi-ekspresi luar. Sementara ruh dan esensinya, yakni hal yang menjadi cita-cita semua manusia di dunia dan disampaikan para nabi dan utusan Tuhan, tidaklah berbeda dan tidak berubah.

Yakni percaya kepada Tuhan Yang Esa, ketulusan mengabdi kepada-Nya. Kerja sama membangun dunia yang baik dan sejahtera. Dan tidak bekerja sama dalam dosa dan permusuhan”.

“Bahasa kita berbeda-beda, tetapi Yang Indah hanyalah Satu. Masing-masing kita menuju Yang Indah itu”.

Sampai di sini agama-agama menemukan satu akar yang sama. Dialah asal dan akhir dari segala. Dialah Tuhan alam semesta yang kepada-Nya semuanya tenggelam dalam keindahan bersama-Nya.

Al-Hallaj menyanyikan lagu indah soal ini :
‎�تَفَكَّرْتُ فِى الْاَدْيَانِ جِدَّ تَحَقُّقٍ
‎فَأَلْفَيْتُهَا اَصْلاً لَهُ شُعَبًا جَمَّاَ
‎�فَلَا تَطْلُبَنْ لِلْمَرْءِ دِيْنًا فَإِنَّهُ يُصَدُّ عَنِ الْاَصْلِ الْوَثِيْقِ وَاِنَّمَا
‎يُطَالِبُهُ اَصْلٌ يُعَبِّر عِنْدَهُ جَمِيْعُ الْمَعَالِى وَالْمَعَانِى فَيَفْهَمَا

Aku telah merenung amat panjang soal agama-agama.

Aku temukan satu Akar dengan begitu banyak cabang.

Jangan kau tuntut orang memeluk satu cabang saja.

Itu akan memalingkannya dari akar yang menghunjam.

Biarkan dia mencari sendiri Akar itu.

Seluruh keanggunan dan keindahan semesta
akan membawanya menemukan Akar
Maka dia akan mengerti.

(Diwan al-Hallaj, 50)

Lalu bagaimana kita bisa menemukan “Akar”? Para pencari Tuhan menyebutnya dengan kata “‘Isyq”, Cinta. Ibnu Arabi, bersenandung indah:

Aku memeluk agama Cinta
Ke manapun ia bergerak
Aku di sana
Cinta adalah agamaku
keyakinanku

Jika kita mencari dan menginginkan kebahagiaan,
jemputlah cinta.

Maulana Jalal al-Din Rumi menggubah:

“Cintalah yang mengubah
pahit jadi manis,
pasir jadi permata,
keruh jadi bening,
sakit jadi sembuh,
penjara jadi taman”.

“Cintalah yang
membuat besi jadi lunak.
Yang menghancurkan batu
Yang membangkitkan kematian
Dan yang menggerakkan kehidupan”.

Dengan begitu makna sesungguhnya dari agama adalah spiritualitas kemanusiaan yang sepenuhnya diliputi oleh cinta, bukan selain itu. Ahmad Amin, cendekiawan, sastrawan, sekaligus sejarawan Mesir meringkas Spiritualitas Kemanusiaan itu dalam 7 poin:

  1. Tuhan hanyalah Satu, Esa, Tunggal.

Dia Eksistensi Yang Abadi, Eternal. Tidak ada tuhan selain Dia. Meski nama-Nya berbeda-beda, karena keragaman bahasa. Tetapi Dia adalah Dia.

  1. Tak ada hakim atas semesta, kecuali Allah.

Dialah yang memberi cahaya bagi setiap jiwa. Dialah yang membebaskan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Dialah sumber segala pengetahuan.

  1. Semua agama adalah jalan atau cara mendekati Tuhan.

Sebagian ada yang lebih maju dari yang lainnya sesuai dengan konteks zamannya. Semua agama menuntun manusia untuk melakukan proses menuju Eksistensi Paling Tinggi, yakni Allah.

  1. Meskipun dalam kenyataannya agama-agama berbeda-beda dalam ritus-ritusnya, akan tetapi tujuannya adalah sama; mencapai kedekatan dengan) Tuhan.

Seorang sufi menurut Ibnu Arabi “Melihat Tuhan di Ka’bah, di Masjid, di Gereja.”

  1. Memang ada banyak jalan mendekati Tuhan, akan tetapi ada satu jalan yang lurus. Yaitu meniadakan egoisme dan kepentingan diri.
  2. Tidak ada persaudaraan selain persaudaraan atas dasar kemanusiaan.

Maka di bumi ini hanya ada satu kehidupan, yakni kehidupan bersama. Keberbedaan yang ada hanyalah fenomena belaka.

Seorang manusia adalah menyatu dengan yang lain dalam relasi dalam keluarga, lalu dalam kebangsaan, kemudian dalam kemanusiaan universal.

Seorang sufi tidak suka terhadap orang yang mengklaim kebenarannya sendiri. Karena baginya yang lain adalah sama dalam kemanusiaannya.

  1. Tidak ada kode moral tertinggi, selain cinta yang mengingkari Ego dan mengembangkan kebaikan.

Meskipun ada banyak kode moral, akan tetapi dasar utamanya adalah cinta. Cintalah yang melahirkan harapan, kesabaran, ketabahan, toleran dan semua moral baik.

Penghormatan, toleransi, memberikan kebaikan, semua lahir dari cinta.

Lalu di manakah cinta itu? Semua orang menjawab ia ada di setiap hati. Dan jika kau mencari Tuhan, maka ia adalah di dalam dirimu sendiri.

Maulana Rumi mengatakan:

‎انت تبحث عن الله . وهذا تكمن المشكلة كيف تبحث عنه وهو فيك

“Kau mencari Tuhan. Ini sungguh menyimpan problematika. Bagaimana bisa kau mencari Dia, padahal Dia ada dalam dirimu”.

Di tempat lain Rumi mengatakan:

“Kau mencari pusaka berharga di seluruh dunia, pada ia adalah kau sendiri. Bila kau tertarik pada roti, pasti kau akan menemukan roti. Kau menjadi apa yang kau cari”. (*)

Sumber tulisan: https://www.facebook.com/322283467867809/posts/3148844548545006/?extid=a6DGhRw0cYtyzEFF&d=n

-000-

Buku Denny JA: Spirituality of Happiness, Spiritualitas Baru Abad 21, Narasi Ilmu Pengetahuan, dapat dibaca, diunduh, diprint, disebar luaskan, melalui link ini: https://www.facebook.com/322283467867809/posts/3148844548545006/?extid=uTw0UG7xFcymvJAf&d=n

This image has an empty alt attribute; its file name is madu_banner_PERSISMA.jpg

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA