by

Masjid Syuhada

Loading…

KOPI, Jakarta – Dulu tahun 1980-an saya dikenal militan dan ekstrim di Yogya. Tinggal di Asrama Yasma Putra Masjid Syuhada, Kota Baru Yogya, menjadikan ekstrimitasku menjadi-jadi. Obesesinya menjadikan Indonesia negeri Islam seperti cita-cita Abu Bakar Baasyir. Saya aktif ikut mendengarkan ceramah dan selalu mendukung ide ABB.

Saya juga sering ceramah dan hampir tiap Jumat jadi khotib di masjid-masjid sekitar Yogya. Karena saya rajin menulis artkel di media massa (di Kedaulatan Rakyat hampir tiap minggu), saya harus rajin membaca buku. Butuh charging ilmu. Lama-lama, saya merasa aneh pada ide Negara Islam, keharusan berjilbab, dan membenci nonIslam.

Suatu malam, saya kedatangan tamu dari Jakarta. Ia kenal saya lewat tulisan saya di koran dan majalah Panji Masyarakat. Setelah memperkenalkan diri, saya kaget. Ternyata tamu itu Pak Djohan Effendi, peneliti Litbang Depag dan penulis buku Pergolakan Pemikiran Islam Ahmad Wahib. Sejak itu, saya mulai diperkenalkan pengajian Reboan di Jakarta yang pesertanya orang-orang hebat seperti Dawam Rahardjo, Nurcholish Madjid, Masdar Masudi, Eki Syachrudin, Sutjipto Wirosardjono, Mansur Faqih, dan lain-lain. Ketika kerja di Batan Jakarta, tiap bulan saya selalu diajak Djohan Effendi untuk mngikuti kajian Islam di groupnya. Mulailah saya terbuka tentang apa itu Islam dan warna-warni pemikiran agama asal gurun pasir Hijaz itu.

Dari sanalah saya belajar Islam dan mulai menjaga jarak dengan kelompok militan dan ekstrim di Yogya. Persahabatan dengan mereka tetap baik, tapi pikiran keislaman saya sudah tidak seperti mereka. Belakangan, 35 tahun kemudian, ternyata teman-teman akrab saya di Yogya tidak move on. Tetap berada di lingkungan militan dan ekstrim grup. Pilihan politiknya PKS dan PBB. Idenya, hanya sistem khilafah yang akan memperbaiki Indonesia. Mereka, teman-teman di Yogya yang tak move on itu, merekayasa Masjid dan kegiatan Syuhada sesuai ide mereka. Masjid Syuhada jadi Pusat Islamis eksklusif.

Dalam Pilpres 2019, mereka pun jadi fanatikus PraSan. Ekstrim dan ProPrasan adalah identitas mereka. Katanya itulah Islam kaffah. Orang seperti Prof. Dr. Khairul Saleh dari UII, misalnya, sangat antiJokowi. Begitu pula advokat Elyasa (PKS Cikampek), Faqih Syuhada aktivis Mugamadiyah pusat, menganggap Prabowo sebagai pejuang Islam. Dan Jokowi antiIslam. Aneh kan? Entah bagaimana pikiran mereka setelah politik berubah dan PS mulai mendekat ke Jokowi. Apakah mereka akan tetap mempertahankan Masjid Syuhada sebagai islamic center ala mereka?

Masjid Syuhada adalah monumen perjuangan umat Uslam pro NKRI dan Pancasila. Saya pernah menjadi aktivis di masjid itu selama lima tahun. Jika sekarang dikuasai aktivis pro khilafah, Syuhada sudah jauh terpinggirkan dari mission aslinya. Celakanya, kini tak hanya masjid Syuhada yang dikuasai mereka, tapi juga, saya duga, masjid Kauman, masjid UGM, masjid Mardiyah, dan masjid Sudirman, dijadikan markas mereka.

Lebih mengerikan lagi, jika Dewan Guru Besar UI saja seperti ditulis Dr. Ade Armando bisa dikuasai mereka, apalagi kampus-kampus kecil di kota “Islam”. Kampus, masjid kampus dan masjid besar telah dikuasainya, tinggal sedikit langkah lagi mereka menguasai paradigma pemikiran muslim Indonesia. Apakah kita akan membiarkan Indonesia menjadi Indonistan atau Indosuria?

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Loading…

BACA JUGA...