by

Wali Murid Keluhkan Siswa yang Tak Kunjung Masuk Sekolah

KOPI, Lubuklinggau – Merebaknya virus corona Covid-19 membuat metode belajar mengajar berubah. Sekarang semua sekolah menerapkan belajar online atau belajar jarak jauh. Namun metode ini dikeluhkan banyak wali murid atau orang tua.

Wali murid mengeluh dengan keadaan belajar online di rumah yang ribet dan merepotkan. Selain itu, beberapa wali murid merasa beban tugas kepada siswa tanpa memberikan bimbingan. Sehingga orang tua merasa kewalahan dan dinilai kurang efektif karena tidak adanya pemahaman mendalam.

Sama halnya yang di alami oleh Hasan salah satu wali murid yang anaknya bersekolah di kota Lubuklinggau, mengatakan “ini yang di katakan daring itu seperti apa? Jam belajarnya gimana? Aplikasinya apa? Sejauh ini saya tidak melihat anak saya di ajarkan secara online, yang ada hanya grup WhatsApp wali murid dan guru ya ada. Yang miris lagi pada acara hajatan tetap berlanjut sedangan sekolah tidak diperbolehkan tatap muka, padahal sekolah juga bisa diterapkan protokoler kesehatan,” ucapnya, Selasa (16/02/2021).

Terpisah awak media menjumpai salah satu tokoh pemuda, Ustadz Moch Atiq Fahmi merupakan pemilik dari pondok pesantren modern Ar-Risalah Kota Lubuklinggau.

“Pendidikan Adalah Bagian Penting Dalam Kelangsungan Kepemimpinan dalam Sebuah Negara. Perhatian Pemerintah dalam hal ini harus istimewa, karena jika pendidikan ini bermasalah maka sesungguhnya inilah bagian dari permasalahan sesungguhnya,” kata Ustad Fahmi saat ditemui di Ponpes Ar-Risalah.

Permasalahan corona yang dianggap hebat saat ini semestinya penanggung jawab pendidikan harus punya solusi yang lebih hebat tidak hanya mengeluarkan kebijakan daring dan daring.

Bagi pemerintah daring memang dianggap solusi tetapi tidak bisa dianggap menyelesaikan masalah justru timbul permasalahan baru. Berdasarkan fakta di lapangan berapa banyak orang tua mengeluh dengan kebijakan ini.

Tidak semua orang tua mampu dan punya waktu untuk mendampingi anak-anak sendiri sering berpaling dari program daring ketika tidak diawasi.

“Saat mereka (siswa) tidak di sekolah justru kegiatan mereka lebih tidak terkontrol. Maksud hati mereka tidak berkerumun di sekolah, eh malah berkerumun di tempat yang justru lebih banyak madhorotnya,” papar Ustad Fahmi.

Selain beberapa kendala kecil di atas, orang tua sering kali merasa iri dengan kegiatan lain selain pendidikan, Pilkada, pesta pernikahan, dan acara lainnya lancar-lancar saja.
Melihat fenomena ini banyak orang tua bertanya-tanya kenapa hanya pendidikan yang disikapi keras dan tegas bahkan diberikan ancaman pencabutan izin sekolah jika sekolah punya mekanisme untuk melakukan tatap muka.

Dunia pendidikan itu punya target baik sekolah negeri maupun swasta. Terutama pendidikan yang memiliki perhatian dibidang agama. Dengan daring banyak target yang tidak tercapai dan dengan adanya daring menjadi ancaman bagi yang melakukan tatap muka sekalipun orang tua menandatangani surat persetujuan.

Seharusnya Mekanisme bisa diatur, seperti bisa jadi dalam seminggu siswa bisa tatap muka selama tiga hari dan dibatasi jumlah siswa, dan tetap menerapkan protokoler kesehatan yang dianjurkan pemerintah.

“Bagi saya pribadi sebagian orang yang berkecimpung di dalam dunia pendidikan, keberadaan aiswa di sekolah jauh lebih terkontrol kegiatan mereka dan protkes mereka, saya hanya berdoa semoga pemangku kebijakan bisa berfikir ulang sambil memohon kepada Allah petunjuk dan perlindungan,” jelas Ustad Fahmi. (Vhio)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA