by

Menelusuri Jejak Gemilang Literasi di DIY

Oleh: Muhammad Mufti AM

KOPI, Yogyakarta – Minat baca di Indonesia selalu menjadi persoalan tak kunjung usai. Hal itu melatarbelakangi terbentuknya Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) pada 25 Oktober 2001 silam. Tujuannya mengangkat minat baca masyarakat Indonesia. Sebagaimana diketahui, sejumlah survei badan dunia mengenai literasi membaca menempatkan Indonesia di peringkat tak memuaskan.  Akhir 2019 lalu, The Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui survei Programme for International Student Assesment (PISA) mengumumkan Indonesia berada di posisi ke-72 dari 78 negara.

Kabar gembiranya seperti disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando, bahwa Global English Editing ‘World Reading Habits 2018’ mengungkapkan Indonesia menduduki peringkat ke-16 kegemaran membaca. Posisi yang lebih baik dari Inggris, Jepang, Amerika Serikat, dan Korea. Indikatornya terletak pada lamanya waktu membaca. Orang Indonesia menghabiskan waktu selama 6 jam 15 menit perminggu untuk membaca buku.

Bagaimana dengan Yogyakarta yang berpredikat Kota Pelajar, atau Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) secara keseluruhan? Menurut hasil kajian UNESCO, Indeks Minat Baca masyarakat DIY adalah 0,042 persen. Artinya dari seribu orang penduduk, 42 diantaranya mempunyai minat membaca. Berdasarkan kajian tersebut DIY menduduki peringkat tertinggi se-Indonesia. Satu kejutan menggembirakan bagi insan pegiat literasi di Yogyakarta.

Kajian Kegemaran Membaca Perpustakaan Nasional 2019 meliputi 102 kabupaten/kota di 34 provinsi memperlihatkan hasil bagus. Lima provinsi memiliki rata-rata tingkat kegemaran membaca (TGM) peringkat tinggi. Di level provinsi, DIY menempati peringkat teratas (TGM 63,02%), sedangkan kota Yogyakarta menempati peringkat ke-2 (TGM 68,29%) untuk kategori kabupaten/kota. Yogyakarta tetap berpredikat bagus dalam hal kegemaran membaca meski masih di level kategori sedang, karena belum melampaui skor TGM 80,01%. Interval TGM peringkat sedang antara 40,01-80,00%.

Kabupaten/kota sesungguhnya turut mengangkat wajah DIY di kancah nasional. Bantul contohnya, salah satu wilayah di bagian selatan DIY ini memelopori terbitnya regulasi terkait literasi di tingkat kabupaten. Produknya berupa Peraturan Daerah Nomor 21 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan dan Pengelolaan Perpustakaan. Dua tahun berselang, terbit Peraturan Bupati Nomor 52 Tahun 2017 tentang Pedoman Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 21 Tahun 2015.

Selanjutnya, terbit pula Instruksi Bupati Bantul Nomor 03 Tahun 2017 tentang Gerakan Bantul Literasi Dalam Rangka “Makarya mBangun Desa” untuk Mewujudkan Bantul Cerdas. Gerakannya fokus menumbuhkan minat baca masyarakat di pelosok desa. Pemerintah Desa mengalokasikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa bagi kegiatan pengembangan perpustakaan desa dan pojok baca di pedukuhan.

Regulasi lainnya, Surat Edaran Sekretaris Daerah Bantul Nomor 041/01659/Dispusip tentang Gerakan Bantul Literasi. Surat edaran yang ditujukan kepada Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), camat, dan lurah se-kabupaten ini memperkuat instruksi bupati. Isinya menekankan penyediaan pojok baca di setiap layanan publik, merintis dan mengalokasikan anggaran kegiatan untuk pengelolaan perpustakaan di setiap kecamatan dan desa. Selain itu mendukung dan melakukan pembinaan perpustakaan komunitas di wilayahnya masing-masing.

Banyaknya perpustakaan terakreditasi memberi kesan betapa literasi di DIY telah berjalan mulus. DIY telah menghasilkan sebanyak 273 perpustakaan terakreditasi dengan 75% perpustakaan berpredikat terakreditasi A. Bahkan perpustakaan desa menorehkan prestasi Juara Lomba Perpustakaan Desa Tingkat Nasional dalam kurun waktu empat tahun terakhir. Perpustakaan Desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman (Juara I, 2016), Perpustakaan Desa Sukoharjo, Ngaglik, Sleman (Juara II, 2017). Kemudian Perpustakaan Desa Wukirsari, Imogiri, Bantul (Juara III, 2018), dan Perpustakaan Desa Balecatur, Gamping, Sleman (Juara I, 2019).

Perpustakaan sekolah pun turut mewarnai prestasi literasi DIY. Sejak 2016, perpustakaan sekolah tingkat SLTA mencatatkan prestasi gemilang di level nasional. SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta meraih Juara I Lomba Perpustakaan Sekolah (2016) disusul SMA Negeri 2 Bantul (2017). SMA Negeri 1 Wonosari Gunungkidul melanjutkan tren Juara I (2018), sedangkan SMA Negeri 1 Jetis Bantul meraih Juara II (2019).

Tiga tahun terakhir, beberapa taman bacaan masyarakat (TBM) menerima anugerah penghargaan sebagai TBM Kreatif-Rekreatif Tingkat Nasional dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Diawali Teras Baca Guyub Rukun Sedayu, Bantul dan TBM Wijayakusuma Wedomartani, Sleman (2018). TBM Helikopter Sedayu, Bantul meneruskan raihan yang sama pada tahun 2019. Prestasi terus berlanjut sampai 2020, TBM Perpustakaan Umum Dusun Jeglongan, Sleman mendapatkan penghargaan serupa. Penghargaannya diberikan setiap tanggal 8 September, bertepatan dengan peringatan Hari Aksara Internasional.

Sudah pasti, prestasi tercipta karena aktivis pengelola TBM-nya begitu manis memberdayakan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan berbasis literasi. Termasuk diantaranya pengelola TBM Delima Jetis Bantul, Siti Aminah. Sosok perempuan asal Jawa Barat ini punya prestasi tersendiri di tempatnya bekerja. Baru-baru ini, ia menduduki jabatan penting sebagai Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pengalamannya berkecimpung di bidang pengembangan masyarakat membuat dirinya menciptakan produk literasi berupa pembalut kain wanita ramah lingkungan.  Pelatihan-pelatihan di berbagai daerah yang dimentorinya sangat menginspirasi. Produknya pun mudah dibuat, dikenal dan dimanfaatkan masyarakat. Aktivitas terkait literasinya selain menjadi dosen serta mengelola TBM adalah menginisiasi terbentuknya komunitas ‘Moco Buku Rame-rame’ (Mobura). Ia menggelar lapak baca setiap minggu pagi di sisi timur Stadion Sultan Agung Bantul bersama dengan sesama aktivis TBM dibantu para relawan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga. Mobura sempat berjalan tiga tahun sebelum dihantam badai pandemi Covid-19 yang menyebabkan aktivitasnya sementara non aktif.

Catatan prestasi DIY kian lengkap ketika para pustakawan mencapai hasil luar biasa di ajang bergengsi Pemilihan Pustakawan Berprestasi Terbaik yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional. DIY menjadi juara pertama, lima kali berturut-turut (2015-2019) dalam kompetisi tingkat nasional yang diikuti perwakilan pustakawan dari 34 provinsi. Kelima pustakawan berprestasi itu ialah: Siti Indarwati (Perpustakaan Daerah Gunungkidul, 2015), Agung Wibowo (Perpustakaan Daerah Gunungkidul, 2016), Purwani Istiana (Universitas Gadjah Mada, 2017), Anang Fitrianto Sapto Nugroho (Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah DIY, 2018), dan Arda Putri Winata (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 2019).

Sampai tulisan ini turun, peluang DIY menambah predikat juara di tingkat nasional masih terbuka. DIY memiliki wakil dalam ajang pemilihan pustakawan berprestasi, lomba perpustakaan desa, dan lomba perpustakaan sekolah tingkat SMA tahun 2020 yang belum digelar. Bila ditelusuri lebih jauh tentu masih banyak potensi yang bakal terungkap sebagai gambaran wajah literasi Yogyakarta. Guru-guru maupun pustakawan menghasilkan tulisan perorangan atau kolektif berwujud buku misalnya. Begitu pula para aktivis/penggiat gencar menumbuhkan gerakan dan budaya membaca berorientasi produk literasi.

Rekam jejak 10 tahun terakhir pun menunjukkan sejumlah TBM di DIY pernah mencatatkan predikat membanggakan. Belum lagi bertebarannya kampung literasi bentukan pemerintah maupun komunitas setempat. Hal itu makin menambah masif wajah literasi Jogja Istimewa. Bergerak bersama menumbuhkan literasi masyarakat dan membudayakan kegemaran membaca dari Yogyakarta untuk Indonesia. Wajah literasi Indonesia niscaya makin bersinar gemilang apabila didukung oleh adanya sinergi yang melibatkan berbagai pihak.*

Muhammad Mufti AM, Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul DIY, Anggota Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI)

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA