by

Puisi Sederhana Sang Sufi

Betapa menakjubkan
Aku dapat mengambil gayung
Aku dapat menyiduk air

Itulah puisi sederhana dari seorang sufi tak dikenal yang tinggal di sebuah dusun, pinggir kota Bagdad. Puisinya hanya tertulis di pelepah kurma, tergeletak di pojok masjid, tempat sang sufi biasa salat. Saat itu, tak banyak orang yang mengerti makna puisi tersebut.

Mungkin, orang awam menganggap puisi itu teramat sederhana. Tapi, bagi sang sufi, puisi itu sungguh hebat karena ia mengungkapkan ketakjuban yang luar biasa dari kemampuan
dirinya. Apa yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, seperti berjalan, membaca, makan, dan minum — tampaknya sangat sederhana. Tapi tidak bagi sang sufi.

Orang awam tak merasakan sedikit pun bahwa semua itu merupakan rangkaian pelbagai proses yang amat rumit, kompleks, dan melibatkan perubahan fisika, kimia, dan biologi.
Berjalan, misalnya, sepintas tampak sederhana. Padahal di mata saintis, saat orang berjalan, terdapat ribuan reaksi biokimia — mulai dari instruksi otak, pembuluh darah, hingga kontraksi otot kaki. Bagi si lumpuh, berjalan sungguh merupakan suatu keajaiban luar biasa.

Ada miliaran reaksi biokimia lainnya yang membuat manusia bisa hidup sempurna. Di antaranya adalah reaksi biokimia yang mampu menetralisir zat berbahaya seperti radiasi ultraviolet, memblock radiasi sinar inframerah, membunuh virus yang ada di udara, dan membersihkan zat-zat pencemar dari makanan.

Dari situlah, kita bisa mengerti betapa Maha Penyayang dan Pemurahnya Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Impersonal. Manusia diciptakan Tuhan dengan kelengkapan dan kesempurnaan luar biasa — secara fisis, kemis, biologis, dan matematis — sehingga tubuh manusia tidak hanya mampu menghadapi segala kondisi atmosfir bumi yang penuh dengan zat-zat berbahaya, tapi juga mampu mengubah zat-zat berbahaya itu menjadi zat bermanfaat bagi tubuh melalui mekanisme dan proses biokimia yang rumit dan kompleks.

Tuhan juga telah menciptakan tubuh manusia dengan sangat indah dan sempurna. Tentu Dia telah menggunakan fungsi-fungsi matematik dengan kecermatan dan ketepatan yang tinggi untuk mendesain bentuk spesies homo sapiens ideal itu.

Tuhan berfirman, ”Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang seindah-indahnya” (QS 95:4).

Dari logika itu, kita bisa memahami betapa sang sufi sangat mengagumi kemampuan dirinya — yang bisa mengambil gayung dan menciduk air. Sang sufi yang menyadari betapa besar karunia yang telah Tuhan berikan kepadanya, tak bisa lain akan mengucapkan syukur dalam setiap geraknya. Karena, dalam setiap gerak manusia, terdapat paduan kerja yang amat indah, serasi, dan sempurna dari aspek matematis, fisis, kemis, dan biologis, yang mana hal itu sangat sulit dilakukan dalam keterbatasan otak manusia. Sungguh Tuhan Maha Tepat Perhitungan-Nya.

Tuhan itu Maha Pengasih dan Penyayang. Dia tak menuntut balasan atas semua yang diberikan-Nya kepada manusia. Tuhan hanya minta manusia berbuat sesuai petunjuk-Nya yang terdapat dalam kitab suci universe yang terdiri atas ayat-ayat kauniyah (natural laws), agar kesempurnaan dan keindahan itu tidak rusak.

Tuhan berfiman: Siapa yang menerima petunjuk itu, maka manfaatnya untuk dirinya sendiri, dan siapa yang mengingkarinya, maka akibatnya untuk dirinya sendiri juga (QS 39:41).

Begitu dalamnya sang sufi merenungi kehidupan manusia. Ia, seperti halnya saintis dan pujangga, memahami bahwa kitab-kitab suci yang ada di bumi hanya kumpulan password untuk menjelajahi ayat-ayat kauniyah yang nyaris tak terbatas jumlah ayatnya. Itulah sebabnya, sang sufi takjub, bisa mengambil gayung dan menyiduk air.

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA