by

Cirebon Kota Udang

KOPI, Bekasi – Waktu saya pulang ke Cirebon dan bertemu teman-teman, saya bilang ke mereka: Tolong ya, dukung Cirebon sebagai Kota Udang.

Tiba-tiba Nasori — teman saya yang fanatik Cirebon — bilang sambil marah: Bukankah sejak dulu Cirebon adalah Kota Udang?

“Hai Udin, kamu jangan menghina orang Cirebon ya? Dari dulu Cirebon adalah Kota Udang. Kamu telah menghina orang Cirebon dengan mengatakan, kami diminta mendukung Cirebon sebagai Kota Udang. Kami kami ini sejak dulu sudah mendukung Cirebon sebagai Kota Udang. Kamu akan saya laporkan ke polisi karena telah menghina kami warga Cirebon. Kamu kira kami tak pernah mendukung Cirebon sebagai Kota Udang.” Nasori, teman saya yang fanatik ini marah dan mencak-mencak.

“Nasori, sabar dong. Saya kan belum menjelaskan kenapa saya minta teman-teman mendukung Cirebon sebagai Kota Udang.” timpal saya.

“Nasori, tolong mengerti kegusaran saya terhadap Cirebon sebagai Kota Udang. Kemarin, saya cari pindang rebon – lauk favorit saya waktu kecil – di Pasar Tegalgubug, Pasar Minggu, Pasar Plered, dan Pasar Sumber — ternyata tidak ada sama sekali. Adanya hanya udang, blekutak, blanak, dan grejeg. Tak ada pindang rebon. Kalau memang Cirebon Kota Udang mestinya pindang rebon ada di mana-mana. Pindang rebon harus dilestarikan. Bukankah nama Cirebon diambil dari kata cai rebon?” Jelas saya pada Nasori, teman kecil saya yang dulu sering berantem kalau main bal-balan di Tegalgubug.

Cai itu bahasa Sunda, artinya air. Rebon itu udang kecil-kecil ukuran satu senti meter. Dulu nelayan kecil kalau cari iwak di laut, dapat udang-udang kecil sebagai ikutan. Biasanya di buang.

Kemudian atas usulan Bi Ety Aslich dan Bi Chuzaimah, udang itu dimasak dengan rempah-rempah seperti bawang putih, bawang merah, laos, godong salam, dll. Jadilah masakan itu bernama pindang rebon. Ternyata air atau kuah pindang rebon itu enak sekali, sampai sampai Wali Songo yg datang ke Cirebon ketagihan. Saking enaknya.

Konon, Kanjeng Wali Sunan Gunung Jati kalau mau makan suka tanya — mana “cai rebon” nya? Nah sejak itulah wilayah Pantura yang berbatasan dengan Brebes di Timur dan Indramayu di Barat itu, dinamakan daerah Cai Rebon — alias Cirebon.

Nasori diam. Ia memahami penjelasan saya. Nasori pun batal mengadukan saya ke polisi. Sayangnya, teman-teman saya sudah banyak yang terprovokasi kemarahan dan omongan Nasori. Bahwa saya telah menghina orang Cirebon.

Gimana ya teman ini. Mengambil kesimpulan omongan saya tanpa memahami maksud saya. Padahal maksud saya baik, tapi disalahpahami. Bahkan diplesetkan. Lagian, mau dilaporkan ke polisi segala. Dasar tahun politik Pilkada! Saya membatin setelah dialog dengan Nasori — teman yang otaknya resek dan suka sensasi ini.

Maaf ya Udin, saya sebelumnya tidak mengerti maksud sampeyan — kata Nasori.

Ya…ya.. saya maafkan. Tapi ente jangan suka marah-marah lagi ya Nas. Mosok ente berpikir macam-macam tentang saya. Ente tahu kan…saya ini nasionalis Cirebon.

Nasori diam. Ia mengulurkan tangan, minta maaf. Tapi saya mengingatkan, ini musim pandemi. Gak boleh jabat tangan. Cukup dengan ucapan saja. Nasori mengerti.

Dalam hati saya masih ngedumel:
“Mosok sih orang Pancasilais suka cari sensasi. Suka nyinyir. Marah tanpa juntrungan.”

Nasori, di antara teman-teman kampung saya memang punya ciri khas, suka pakai topi dengan logo Pancasila. Entah kenapa? Meski saya sering tak sepaham dengan Nasori, tapi ada satu hal yang sama: suka makan di warung Padang.

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA