by

Ritual Demo Kamisan di Sebrang Istana

(Resensi Film Puitis Kutunggu di Setiap Kamisan)

KOPI, Bekasi – Jakarta membara 12 Mei 1998. Senjata menyalak. Menembaki para demosntran. Empat mahasiswa Universitas Trisakti — Elang Mulia Lesmana (1978-1998), Heri Hertanto (1977 – 1998), Hafidin Royan (1976 – 1998), dan Hendriawan Sie (1975 – 1998) tewas.

Setelah tragedi Trisakti, masih di tahun 1998, penembakan terhadap warga sipil dan mahasiswa masih terus terjadi. Menurut Tim Relawan Untuk Kemanusiaan, tercatat 17 orang tewas, 4 di antaranya mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi: Teddy Mardani, Sigit Prasetya, Engkus Kusnadi dan Bernardus Realino Norma Irawan atau Wawan, putra Maria Catarina Sumarsih, tokoh demo Kamisan sebrang Istana.

Ratusan orang luka tembak dan terkena benda tumpul. Sebelum peristiwa Trisakti, puluhan aktivis hilang. Jasad mereka sampai sekarang tak tahu di mana berada. Salah satunya, penyair Wiji Thukul, yang salah satu penggalan puisinya – Hanya Satu Kata: Lawan! – menjadi iconic bagi aktivis reformasi.

Itulah latar belakang puisi esai Denny JA “Tentang Kisah Cinta Yang Terselip di Aksi 400 Kamis Seberang Istana ” (TKCTAKSI). Lalu, oleh Denny, puisi esai panjang ini didesain menjadi film animasi yang asoi. Film TKCTAKSI ini cantik animasinya. Menarik kisah cintanya. Indah puisi esainya.

Barangkali, inilah racikan sastra dan seni film yang komplit. Sehingga enak dilihat dan didengar. Sepanjang film, penonton tak hanya disuguhi kisah cinta yang romantis – tapi juga bahasa puitis yang esais, atau esai yang puitis. Cobalah klik tautan film tersebut.

Aku kira, inilah kreativitas Denny yang lain, setelah mengusung puisi esai. Denny bercerita, kenapa itu terjadi? Katanya, karena dunia puisi mati suri pasca reformasi. Tak pernah ada kejutan dan peristiwa besar dalam dunia puisi. Dunia puisi harus bangkit, tegas Denny. Lalu, Denny mengagas puisi esai.

https://www.tokopedia.com/madubaduy

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA