by

GPIB Jemaat Jembrana Diresmikan Bupati Tamba

KOPI, Jembrana – Bupati Jembrana I Nengah Tamba meresmikan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Jemaat ‘Jembrana’, ke 7 yang ada di Bali. Peresmian tersebut dengan penandatanganan prasasti bersama Ketua Umum Majelis Sinode GPIB, Pendeta Drs. Paulus Kariso Rumambi, M.Si, di Negara, pada Minggu (9/10/2022).

Terkait hal tersebur Bupati Tamba sangat mendukung segala bentuk kegiatan peribadahan, hal tersebut disampaikan dalam sambutannya di hadapan seluruh jemaat yang hadir. “Saya memberikan dukungan sepenuhnya setiap langkah atau kegiatan untuk ibadah. Saya yakin bahwa setiap orang yang ibadahnya kuat pasti bagus dalam bekerja dan memiliki tanggungjawab yang tinggi,” ucap Bupati Tamba.

Lanjutnya, Bupati Tamba mengatakan bahwa tujuan jemaat hadir ke Gereja hendaklah secara tulus berdoa dan mengucap syukur serta memohon pengampunan atas dosa-dosa yang telah diperbuat. “Kedatangan kita ke tempat suci itu jangan terkesan glamor, tetapi kita lebih untuk menyampaikan rasa terima kasih kepada Tuhan atas segala limpahan karunianya serta untuk pengampunan dosa,” ucap Bupati Tamba.

Foto: Bupati Jembrana I Nengah Tamba menandatangani peresmian GPIB Jemaat ‘Jembrana’.

Lebih lanjut Bupati Tamba berpesan agar dalam berbagai proses untuk meningkatkan kualitas Gereja tersebut agar disampaikan kepadanya, karena ini merupakan tanggungjawab kita bersama untuk menyediakan tempat ibadah yang aman dan nyaman untuk seluruh umat.

“Tolong disampaikan apabila ada suatu pembangunan di Gereja ini, apalagi Gereja ini sudah memakai nama Jembrana seyogyanya Pemerintah Kabupaten Jembrana turut bertanggungjawab,” pesannya.

Sementara itu Ketua Umum Majelis Sinode GPIB, Pendeta Drs. Paulus Kariso Rumambi, M.Si mengatakan bahwa pemilihan nama GPIB Jemaat ‘Jembrana’ merupakan usulan dari Bupati dan hal tersebut juga juga diinginkan oleh GPIB itu sendiri. “Nama GPIB Jemaat ‘Jembrana’ ini adalah usulan dari Bapak Bupati, terima kasih Pak Bupati telah memberikan nama Gereja yang sangat kontekstual, dan itu memang GPIB yang diinginkan. Karena kami memang Gereja yang multi etnis, nasionalis dan Pancasilais,” ucapnya.

Pendeta Paulus Kariso Rumambi menyampaikan bahwa Gereja diibaratkan sebagai bengkel bukan showroom, sebagai tempat untuk memperbaiki diri bukan sebagai tempat untuk menampilkan diri tanpa dosa. “Gereja memang tempatnya memperbaiki secara rohani dan spiritual, tempatnya memulihkan, mendampingi dan membuatkan kehidupan rohani spiritual umat, itulah fungsinya. Bukan sebagai showroom, bukan tempat orang hadir untuk menjaga image. Karena Tuhan kami datang ke dunia untuk mencari orang berdosa bukan mencari orang yang merasa diri tidak berdosa,” tutupnya. (AM)

______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: [email protected] Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA