by

Seri Belajar Jurnalistik: DASAR-DASAR BAHASA INDONESIA (3)

Penggunaan Kata ‘Di’ dan ‘Ke’ sebagai Partikel dan Imbuhan

Pemahaman dalam penggunaan kata ‘di’ dan ‘ke’ harus benar-benar diperhatikan. Teramat sering dijumpai kesalahan penulisan kedua unsur kata itu dalam tulisan atau artikel, baik berbentuk berita, pengumuman, ulasan, laporan, bahkan dalam tulisan ilmiah. Kesalahan itu selalu terjadi karena penulis tidak dapat membedakan penggunaan kata “di” dan “ke” sebagai partikel dan sebagai imbuhan (unsur awalan). Untuk menghindari salah tulis dalam penggunaannya, setiap penulis diharapkan dapat mengerti fungsi partikel dan awalan “di” dan “ke” itu dalam sebuah kata atau frasa.

Fungsi pertama kata ‘di’ dan ‘ke’ adalah sebagai imbuhan. Imbuhan adalah unsur kata yang dilekatkan pada sebuah kata dasar untuk menjadi kata bentukan yang memiliki makna tertentu. Imbuhan terdiri atas awalan, sisipan, dan akhiran. Awalan ditambahkan di depan kata dasar, sisipan disisipkan di tengah kata, dan akhiran ditambahkan di belakang kata dasar.

Kata ‘di’ dan ‘ke’ adalah awalan yang sangat sering digunakan dalam karya tulis. Sebagai awalan, kedua partikel ini harus bin wajib melekat pada kata dasar yang diawalinya.

Contoh penggunaan partikel ‘di’ sebagai awalan: dibuka, ‘di’ sebagai awalan dan ‘buka’ kata dasar (jenis kata kerja). Penulisannya tidak dipisah.

Contoh lain: diributkan, ‘di’ sebagai awalan, ‘ribut’ sebagai kata dasar (jenis kata sifat), dan ‘kan’ sebagai akhiran. Penulisannya tidak dipisah.

Contoh lainnya lagi: diperjuangkan, dihukum, dipersilahkan, diburu, dimiskinkan.

Contoh penggunaan partikel ‘ke’ sebagai awalan: kesalahan, ‘ke’ sebagai awalan, ‘salah’ sebagai kata dasar (jenis kata sifat), dan ‘an’ sebagai akhiran. Umumnya, awalan ‘ke’ berpasangan dengan akhiran ‘an’. Penulisannya tidak dipisah.

Contoh lainnya lagi: kebingungan, kemiskinan, kepergian, kesombongan, kebaikan, kerelaan.

Fungsi kedua kata ‘di’ dan ‘ke’ adalah sebagai preposisi atau penunjuk (benda, tempat atau waktu). Penggunaan kedua partikel ini selalu dan selalu dan sekali lagi selalu terpisah dengan kata benda atau tempat atau waktu yang ditunjukkannya.

Contoh penggunaan kata ‘di’ sebagai preposisi atau penunjuk: di sekolah, ‘di’ sebagai penunjuk, ‘sekolah’ sebagai benda atau tempat. Keduanya ditulis terpisah.

Contoh lainnya: di pagi hari, ‘di’ sebagai preposisi, frasa ‘pagi hari’ sebagai waktu. Keduanya ditulis terpisah.

Contoh lainnya lagi: di kebun, di bandung, di perjalanan, di museum, di musim haji, di ruang karantina, di persimpangan jalan, di zaman batu, di akhir tahun 2019.

Contoh penggunaan kata ‘ke’ sebagai preposisi atau penunjuk: ke sekolah, ‘ke’ sebagai preposisi, ‘sekolah’ sebagai benda atau tempat. Keduanya ditulis terpisah.

Contoh lainnya: ke zaman reformasi, ‘ke’ sebagai preposisi, frasa ‘zaman reformasi’ sebagai waktu. Keduanya ditulis terpisah.

Contoh lainnya lagi: ke kebun binatang, ke Bangkok, ke pemakaman, ke masa lalu, ke pinggiran kota, ke kehidupan abadi.

Kiat membedakan penulisan kata ‘di’ dan ‘ke’ terpisah atau tidak terpisah dari kata setelahnya adalah dengan mengajukan pertanyaan: apakah kata setelahnya merupakan kata benda, tempat, dan waktu? Jika jawabannya “Ya!”, maka penulisan kata ‘di’ dan ‘ke’ harus dipisahkan dari kata setelahnya. Jika jawabanya “Bukan!”, maka penulisannya harus disambungkan dengan kata setelahnya.

Kiat lainya, ajukan pertanyaan pada kata ‘di’ dan ‘ke’, apakah fungsi mereka sebagai preposisi atau awalan? Jika sebagai preposisi, berarti penulisannya harus terpisah dari kata setelahnya. Jika sebagai awalan, penulisannya disambung dengan kata setelahnya.

Tugas:

  1. Buatlah daftar kata, minimal 20 kata menggunakan awalan ‘di’ dan 20 kata menggunakan preposisi ‘di’!
  2. Buatlah daftar kata, minimal 20 kata menggunakan awalan ‘ke’ (umumnya berpasangan dengan akhiran ‘an’ dan ‘kan’) dan 20 kata menggunakan preposisi ‘ke’!

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA