by

Modal Asing Dunia Kompak Nyungsep, Akankah Kompak Bangkit?

Oleh: Rizal Calvary Marimbo, Anggota Komite Investasi BKPM

KOPI, Jakarta – Pada Q1-2020 (Triwulan 1, Januari-Maret), modal asing (PMA) kita Rp 98 triliun. Turun dari periode yang sama tahun lalu Rp 107,9 triliun. Nyungsep-nya 9,2%. Nyungsep-nya ini tidak jauh-jauh amat dari perkiraan UNCTAD, United Nations Conference on Trade and Development, di tahun Covid-19.

Covid-19 bukan wabah lokal. Dia wabah global. Makanya, PMA negara-negara lain juga kompak nyungsep berjamaah. Bukan cuma kita. Kawan-kawan, tetangga, sohib kita —negara lain— juga begitu.

Ada yang salah tafsir. Dikira hanya PMA Indonesia doank yang nyungsep sendirian. Tidak. Teman-temannya banyak kok. Bahkan ada yang lebih parah.

PMA Tiongkok misalnya. Nyungsep 10,8%. Rusia lebih parah. Sampai 98%. Gara-gara Covid-19 ini. Penurunan paling parah dialami negara-negara yang pandemiknya paling parah juga. Sebab permintaan di negara-negara itu juga ikutan jeblok. Rumusnya begitu.

Lokdonnya juga resiprokal. Baik home country —negara asal— investasi. Juga, host country —negara tujuan investasi. UNCTAD bilang nyungsep rame-rame tahun ini dikisaran -5% sampai -15%. Ada datanya. Lebih dari dua per tiga perusahaan multi nasional (MNE’s) di UNCTD’s Top 100, sudah bikin pengakuan. Isi pengakuannya sama: kewalahan.

Efek kejut Covid-19 memang bikin kaget luar biasa. Semua proyeksi optimis tahun lalu, diobrak-abrik. Diamuk. Perusahaan-perusahaan kakap dan yang nyantol di bawahnya, shock berat. Kayak penumpang pesawat baru diguncang turbulensi berkali-kali.

Dalam situasi shock berat, rame-rame menginjak rem. Rem belanja modalnya (Capex). Tidak pelan-pelan nginjaknya. Kencang-kencang. Keras-keras. Utamanya perusahaan-perusahaan negara terdampak parah tadi Covid-19-nya. Ada yang mengaku cuan-nya anjlok enggak ketulungan.

Soal pendapatan akhir 2020, tidak ada yang tidak merevisi targetnya. Yang paling babak belur adalah perusahaan otomotif (-44%), maskapai (-42%), disusul energi dan industri dasar (-13%) dan sebagainya. Tapi cuan korporasi-korporasi dunia ini rata-rata masih lumayanlah. Asal Covid-19 enggak awet-awet banget. Utamanya, di pasar negara-negara berkembang. Atau biasa kita dengar emerging market. Di negara-negara berkembang ini, cuan korporasi-korporasi ditaksir jeblok dikisaran 16%. Itu sudah mendingan. Dibandingkan negara-negara maju yang jeblok banget. Dalam.

Lantas, kenapa Covid-19 terlalu kejam, sampai-sampai bikin PMA global sempoyongan? Sisi permintaan ekonomi dunia lagi terpukul. Permintaan turun drastis. Utamanya dinegara-negara yang paling parah pandemiknya. Di sana produksi juga otomatis menurun. Rantai pasok berantakan habis. Negara yang paling pangling adalah negara-negara yang tingkat ketergantungannya kepada pasokan global sangat besar. Seperti China, Korea, Jepang, dan ASEAN.

China adalah episentrum wabah Covid-19. Maka tak heran kalau PMA kita ikut jeblok. Belum lagi selesai dengan China, datang Singapura. Negara ini tiba-tiba tersengat pandemik Covid-19 akhir-akhir ini. Padahal kedua negara ini teratas di daftar home country PMA kita. Singapura nomer satu. China nomer tiga. Tahun lalu, China menyikut Jepang dari tiga besar home country PMA kita.

Covid-19 tidak saja memprovokasi perusahaan kakap dunia mengerem investasinya. Tapi juga membuat mitra-mitra perusahaan kakap itu menjadi ikut-ikutan loyo. Banyak proyek-proyek greenfield (baru) dan sudah jalan, eehh tiba-tiba disetop. Yang lagi konstruksi, juga disetop sementara. Tidak terkecuali.

Perusahaan-perusahaan global —kadang saya sebut dunia atau kakap— juga mengerem aksi korporasinya. Merger dan akuisisi (M&As) misalnya. Makin sepi dari pemberitaan. Yang biasanya per bulan bisa US$ 40-50 miliar, kini tinggal dibawa US$ 10 miliar. Anjloknya permintaan benar-benar sudah duluan dirasakan di China. Toyota misalnya. Jawara otomotif Jepang ini mengaku 70% sales-nya anjlok di China. Selama Februari 2020. Gara-gara orang China tak lagi boros berbelanja.

So far, PMA global 2020 bakal nyungsep bareng. Itu sudah di depan mata. Nyungsep itu biasa. Tapi nyungsep kali ini akan menjadi tidak biasa. Sebab penurunan PMA global sudah memasuki tahun ke lima secara berturut-turut. Lagi-lagi ini bukan hanya kita. Global.

Tanpa ada Covid-19 sekalipun. Ditambah lagi om Covid-19 datang mengamuk. Sempurnalah ketidaksempurnaan pasar global PMA. Pada 2019, PMA global menurun menjadi US$ 1,39 triliun dari US$ 1,41 triliun 2018. Sebab itu, berharap semata-mata pada PMA tentu cukup berat. Ditambah lagi, persaingan dipasar PMA Global super kencang. Masing-masing negara membanting harga. Insentif dan fasilitas diobral ke investor.

Ditopang Domestik

Maka dari itu, tak hanya berharap dari pasar PMA global, setiap negara musti mengeksplorasi potensi investor di dalam negerinya masing-masing (domestic market). Sambil terus dan silakan merayu modal asing. Bagusnya, potensi itu, domestik, di Indonesia, sangat besar. Kinerja PMDN atau modal domestik ini, terus membaik. Pelan-pelan tapi pasti. Selalu saja konsisten naik. Porsi dan nominalnya juga terus membaik.

Porsi PMDN terhadap total investasi terus meningkat. Pada 2018 porsi PMDN kita sebesar 45,56%. Pada 2019, naik terus menjadi 47,7% dari total investasi. Ditekan Covid-19 di Q1-2020, PMA melempem. Porsinya menyusut menjadi 46,5%. sedangkan modal domestik 53,5%. Modal domestik inilah yang menopang kenaikan 8,0% di Q1-2020.

Luar Jawa

Terakhir, BKPM juga mencatat progres yang menggembirakan. Utamanya untuk investasi di luar Pulau Jawa. Sambil investasi di Pulau Jawa terus meningkat, rupanya sebaran investasi di luar Pulau Jawa juga tak mau kalah. Porsi Jawa dan luar Jawa saat ini sudah beti. Beda-beda tipis.

Sebesar Rp 102,4 triliun atau 48,6% di luar Pulau Jawa. Di Pulau Jawa sendiri sebesar Rp108,3 triliun atau 51,4%. “Ke depan Jawa dan Luar Jawa bisa berimbang,” kata Kepala BKPM Bahlil Lahadalia di rilis Q1-2020.

“Ini merupakan dampak dari pembangunan infrastruktur yang massif di luar Pulau Jawa, yang dibangun pemerintah pusat dalam lima tahun terakhir.” Demikian kesimpulan Kepala BKPM saat melaporkan kinerja investasi Q1-2020 di depan Presiden Jokowi baru-baru ini dalam suatu ratas. Selain PMA kompak nyungsep, kita optimis PMA akan kompak bangkit (rebound) setelah Covid-19. Kita doakan, semoga segera.

Selamat menjalankan Ibadah Puasa bagi yang menjalankan. Mohon Maaf Lahir Batin.(*)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA