by

1,5 Juta Tewas di Pulau Jawa oleh Spanish Flu Tahun 1918-1919

KOPI, Jakarta – Di pulau Jawa setidaknya ada 1,5 juta jiwa melayang karena pandemi Spanish Flu di tahun 1918-1919. Ada 500 juta orang yang positif saat itu dari 1,6 milyar populasi dunia (Wordometers). Itu berarti 30% penduduk dunia terinfeksi Spanish Flu. Total yang tewas di seluruh dunia setidaknya ada 50 juta nyawa atau 3% dari penduduk dunia.

Ada 3 gelombang kematian saat itu. Gelombang kedua yang paling banyak membunuh, yaitu di akhir tahun 1918 hingga awal tahun 1919. Data yang ada saat itu lebih mengerikan, karena yang tewas juga termasuk golongan produktif, atau usia muda.

Demikian angka-angka yang bisa peroleh jika kita Googling tentang pandemi yang mirip dengan COVID-19 di masa lalu, yaitu pandemi Spanish Flu di tahun 1918-1919.

Dengan jumlah populasi dunia yang cuma 1,6 milyar, tentu angka kematian 50 juta orang dalam waktu 2 tahun itu tentu cukup mengerikan. Tanpa vaksin, tanpa obat-obatan seperti antibiotik untuk mencegah akibat sampingan Spanish Flu, praktis mereka yang terinfeksi saat itu hanya seperti dibiarkan untuk sembuh sendiri meski mereka diisolasi di berbagai rumah sakit di dunia.

Ada banyak wilayah yang memberlakukan lockdown. Juga himbauan untuk tinggal di rumah saat itu disebarkan melalui surat kabar, karena belum ada radio atau media elektronik lainnya. Beberapa pejabat pemerintahan di beberapa negara saat itu ada yang meminta kantor-kantor agar mempraktikkan jam kerja yang bergelombang, untuk meminimalkan jumlah orang di transportasi umum.

Himbauan jaga jarak dengan orang lain dan 3M memenuhi surat kabar, termasuk surat kabar di pulau Jawa (bahkan himbauan dibuat dalam bahasa Jawa oleh pemerintah Belanda).

Lalu apa yang membuat Spanish Flu akhirnya berhenti saat itu? Menurut beberapa peneliti, virus itu bermutasi menjadi sangat mematikan. Itu artinya mereka yang terinfeksi mengalami gejala yang berat hingga tewas. Saat inangnya mati, maka virus tak bisa lagi menyebar ke orang lain. Juga karena cepatnya penularan, maka tak ada lagi orang yang bisa ditulari.

Meski angka positif waktu itu mencapai 500 juta orang, namun itu sebenarnya belum mencapai 70% untuk mencapai herd immunity dari populasi dunia saat itu yang hanya 1,6 milyar orang. Beberapa peneliti menyebut faktor mobilitas manusia saat itu yang masih terbatas atau belum seaktif sekarang telah membantu menghentikan penyebaran Spanish Flu di seluruh dunia. Herd Immunity tercapai secara lokal di banyak tempat di dunia secara bersamaan, hingga akhirnya Spanish Flu pun berhenti menyebar di tahun 1919.

Pandemi Spanish Flu berakhir dalam waktu 2 tahun. Sedangkan pandemi COVID-19 diperkirakan akan lebih lama, karena kita sekarang punya vaksin dan punya berbagai macam obat-obatan lain, seperti antibiotik untuk mengatasi akibat sampingan dari COVID-19. Bahkan kita sekarang juga memiliki berbagai multi vitamin dan supplement yang bisa mendongkrak immune system. Jangan lupa juga neuroscience sudah berkembang pesat sekali dan telah menemukan beberapa kegiatan yang bisa mendongkrak immune system, seperti meditasi dan kegiatan lainnya.

Pandemi COVID-19 diperhitungkan tak akan membunuh lebih banyak orang daripada pandemi Spanish Flu. Namun masa pandemi yang lebih panjang ini lebih berbahaya secara sosial dan ekonomi, meski juga akan melahirkan terobosan-terobosan baru dalam perkembangan peradaban manusia.

Tetap jaga jarak, 3M, ikut vaksinasi, dan jaga daya tahan tubuh agar tetap kuat!

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA