by

ODP Neng(?)

KOPI, Bekasi – Neng Sarah Fathima. Itulah nama anak pertamaku. Sarjana akuntasi Universitas Gunadarma, cumlaude tahun 2018. Sekarang kerja di DHL, perusahaan delivery internasional.

Tapi bukan soal itu yang ingin aku ceritakan. Ceritanya, kemaren, Kamis sore, Neng bilang kepada mamahnya.

“Mah sudah dua pekan swakarantina. Badanku sehat. Tak ada batuk. Tak ada demam. Berarti aku sehat kan?”

“Ada apa Neng?” aku nimbrung.

“Aku kan ODP Pah.”

Hah? Aku tersentak. Kenapa gak bilang-bilang ke Papah? Kalau saja Papah tahu, Neng aku bawa ke rumah sakit. Supaya diisolasi.

“Kenapa Neng yang ODP diam saja?”

“Papah kan parno corona. Kalau aku bilang Papah, malah keluarga stres semua,” kata Neng santai.

“La kenapa kamu ODP.”

“Teman dekat Neng di kantor PDP. Aku pun jadi ODP karena temanku menyebut Neng sering makan bareng.” Lagi-lagi Neng santai aja ngomong begitu. Sambil ketawa lagi.

“Papah sih terlalu parno dengan corona. Makanya Neng tak ngomong ke Papah.”

Aku memang parno gegara corona. Sampai marah-marah pada kasir Indomart. Gimana gak marah, wong Indomi dan roti yang aku beli dipegang kasir. Terus dibolak-balik lihat harganya. Uang kembaliannya juga dipegang kasir. Ini sudah berapa ribu virus yang nempel di indomi dan roti. Habis gitu, kasir bilang, Indomart tidak menyediakan plastik kemasan. Bajigur tenan! Indomart ini bisa jadi episenter corona. Aku marah.

“Hai aku gak mau ambil indomi dan roti itu. Aku juga gak mau ambil kembaliannya. Aku ambil lagi ya indomi dan roti. Aku ambil sendiri. Kan sudah bayar. Kembaliannya, kau masukkan saja di kotak amal. Cara kamu melayani pembeli bisa menularkan corona, tahu gak?” kataku sambil marah.

Kasir pun terdiam. Gak berani berkata apa apa.

https://www.tokopedia.com/madubaduy

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA