by

Khilafah Islam: Halusinasi Massal Berbalut Agama

Oleh: Satria Dharma

KOPI, Surabaya – Mungkin ada benarnya bahwa kadang kebodohan itu tidak ada batasnya. Begitu Anda tidak menggunakan akal Anda dalam memahami sesuatu maka Anda akan bablas terus sampai tiba-tiba Anda sadar dan menggunakan akal Anda lagi.

“Enak jamanku toh…?!”

Ungkapan ini menjadi populer untuk membandingkan keadaan zaman Soeharto dengan saat ini. Maksudnya banyak orang yang dulu mengalami keadaan jaya di zaman Soeharto dan kini tercekik karena sumber pendapatannya mampet dan mereka merindukan zaman ketika mereka bebas korupsi sebanyak-banyaknya. Kita bisa maklum jika ada orang yang ngomong begini. Tapi kebanyakan orang hanya bergurau dengan ungkapan ini. Tak ada orang waras yang mau balik ke zaman Soeharto kecuali mereka yang pernah jaya dan sekarang tercekik.

Bagaimana kalau ada usul agar kita kembali ke zaman kejayaan Nusantara dulu? Adakah di antara kita yang merindukan untuk kembali ke zaman Majapahit, umpamanya? Bukankah kita pernah sangat jaya ketika zaman kerajaan Majapahit yang berkuasa selama ratusan tahun? Atau ada yang rindu pada zaman keemasan Sriwijaya, Demak, Samudera Pasai, Singosari? Bukankah kita pernah mengalami masa-masa kejayaan di zaman itu? Maukah Anda menukar kehidupan Anda kini dan balik ke zaman kerajaan Majapahit dan dijanjikan akan hidup sangat nyaman, kaya raya, punya gundik tiga, dlsb? Jika Anda percaya dan bahkan bersedia bergabung dengan kelompok orang yang memperjuangkan kembalinya kejayaan Majapahit maka Anda pasti akan diketawai oleh banyak orang.

Tapi toh memang ada orang-orang seperti ini…

Ingat kasus Sunda Empire? Sunda Empire atau lengkapnya Sunda Empire – Earth Empire adalah sebuah perkumpulan yang mendasarkan diri pada romantisisme sejarah pada masa lalu, di mana mereka mencita-citakan kerajaan Sunda akan kembali menjadi besar sebagaimana pada masa Tarumanegara. Nama promotornya Rangga Sasana dan pernah tampil di ILC lengkap dengan pakaian kebesarannya. Ia pernah nyaleg tapi gagal. Lalu terpengaruh ide Sunda Empire sampai akhirnya ditahan. Sekarang di penjara katanya ia tobat. Rangga Sasana bilang bahwa dirinya diperdaya oleh Nasri Banks dan Rd Ratnaningrum. Nasri Banks dan Rd Ratnaningrum adalah petinggi-tertinggi Sunda Empire. Nasri Banks mengaku sebagai Grand Prime Minister, sedangkan istrinya, Ratna sebagai Bunda Ratu. Senasib dengan Rangga Sasana, keduanya pun kini mendekam di balik penjara.

Kok bisanya ya ada orang yang mengalami halusinasi demikian dan mampu menarik orang lain untuk berhalusinasi yang sama? Mungkin begitu pikir Anda…

Oh, ini mah belum seberapa…. Sungguh…! Soal berhalusinasi orang Indonesia itu jagonya. Numero Uno. Dan bukan hanya masyarakat awamnya tapi bahkan para ustad, ulama, kyai, cendekiawan muslimnya bisa berhalusinasi tingkat tinggi.

Bayangkan…! Ada sangat banyak umat Islam Indonesia tiba-tiba berhalusinasi bangkitnya sebuah kekhilafahan Islam di negaranya. Masih mending kalau mereka mengkhayalkan bangkitnya kembali kerajaan Islam macam Samudera Pasai, Demak, atau Pajang, sebagaimana Rangga Sasana berkhayal soal Sunda Empire. Paling tidak memang dulunya pernah ada. Tapi ini mereka mengkhayalkan sebuah kekhilafahan yang tidak pernah ada di Nusantara dan mereka bersedia menyerahkan kehidupan mereka untuk itu.

Mereka bukan hanya mengkhayalkannya tapi sungguh-sungguh ingin mendirikan sebuah kekhilafahan khayal yang menurut mereka lebih baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, lebih diberkahi oleh Allah, full syar’i, dan penduduknya lebih terjamin masuk sorga ketimbang NKRI yang thogut dan penuh kemaksiatan tersebut. Kalau mereka ditanya seperti apakah negara khayalan halusinatif yang mereka ingin dirikan maka mungkin mereka akan bilang di negara tersebut segalanya akan gratis, sekolah gratis, pajak gratis, parkir gratis, lewat tol gratis, makan minum gratis, pokoknya serba gratis.

Pemimpinnya selalu salat jamaah di masjid dan memakai gamis dan surban sebagai baju dinasnya. Kaset pengajian dan lantunan ayat suci selalu terdengar di kantor-kantor. Kepala daerahnya akan sangat mengayomi para wanita sehingga akan menggalakkan poligami. Tidak akan ada lagi artis yang ‘menjemput rejeki’ ke hotel-hotel. Pokoknya serba syariah deh…!

Karena MLM Khilafah ini disebarluaskan oleh some ustad, kyai, ulama, cendekiawan bergelar doktor dengan menggunakan kedok agama, maka berbondong-bondonglah mereka percaya bahwa mendirikan kekhalifahan khayali inilah tujuan hidup mereka. Mereka bersedia menyerahkan seluruh kehidupan mereka yang ada saat ini untuk mencapainya. Allahu Akbar…! Maka bertakbirlah mereka tiga kali untuk mengusir keraguan yang ada di dalam hati. Pokoke wis mantep…tep…! Lha wong mualaf top macam Felix Siauw dan professor ahli hukum UNDIP PTN aja ikut dalam barisan tersebut (ada banyak daftarnya tapi tidak perlu saya sebutkan).

Kalau saya pikir rakyat Turki itu jauh lebih cerdas ketimbang kita dalam hal ini.
Mengapa…?!

Mereka kan pernah mengalami kejayaan kekhilafahan selama ratusan tahun. Bahkan kekhilafahan terakhir kan ada di Turki. Dan itu juga belum lama berselang. Tapi begitu mereka memerdekakan diri dari cengkraman Sekutu yang ingin menjajah mereka maka mereka langsung mengubah bentuk negara mereka menjadi Republik. Mustafa Kemal Pasha, pahlawan besar mereka yang sangat mereka hormati dan mereka beri gelar “Attaturk” alias Bapak orang Turki, mencampakkan Kekhalifahan Ottoman Empire (Kesultanan Ustmaniyah) dan mengubahnya menjadi negara republik.

Apakah kehidupan mereka sekarang jauh lebih jaya ketimbang zaman kekhalifahan dulu? Begitulah tampaknya. Mereka juga mengalami masa-masa sulit, apalagi saat ini. Apakah ada orang semacam Rangga Sasana di Turki yang ingin kembali ke masa Kekhalifahan Utsmani dan promosi kekhilafahan? Ada juga beberapa tapi langsung ditangkap dan dijebloskan ke penjara. Bodoh boleh tapi kalau mengajak warga lain untuk jadi bodoh juga adalah kejahatan yang patut dihentikan. Erdogan tidak main-main dalam soal ini.

Kalau dipikir-pikir semestinya warga Turki yang lebih berhak untuk memimpikan kembali kejayaan kekhilafahan Islam di masa lalu karena mereka memang pernah mengalami selama ratusan tahun. Tapi kalau orang Indonesia…?! Dapat berapa perkarakah sehingga mereka mengkhayalkan datangnya kejayaan khilafah Islam di Indonesia?

Bayangkan kalau tiba-tiba warga Turki mengkhayalkan bisa mendirikan Kerajaan Majapahit atau Kerajaan Samudera Pasai di negaranya dan mereka mati-matian mempromosikannya. Kita yang pernah mengalami sendiri Kerajaan Majapahit mungkin akan terheran-heran. Kok bisa-bisanya mereka itu mengkhayalkan sesuatu yang mereka tidak pernah alami ya…?! Itu penyakit Halu Level Tujuh kayaknya…!

Turki itu sadar bahwa mabok agama bisa membuat orang bodoh, kejam, dan ngawur tak terbatas. Makanya mereka langsung memutuskan untuk menjadi Negara Sekuler dan tidak menjadikan satu pun agama sebagai agama resmi negara mereka. Turki adalah satu-satunya negara mayoritas Islam yang menganut paham sekuler. Di Turki urusan Agama terpisah dengan urusan negara dan pemerintahan. Sebagian besar penduduk Turki menganut agama Islam dengan persentase sebesar 99,8% umat muslim dari keseluruhan penduduk Turki. Mungkin ini yang menyelamatkan Turki dari kemungkinan warganya menderita Halu Level 7 karena mabok agama. 🙏

Lalu jika ada warga Indonesia yang tiba-tiba mengkhayalkan untuk mengubah negaranya menjadi negara kekhilafahan dan menjadikan Taqiyuddin An-Nabhani sebagai ‘nabi’ mereka dan menjadikannya sebagai Tokoh Idola penggagas Negara Khilafah Khayalan mereka sebenarnya mereka ini menderita ‘Halu Disease’ level berapa ya…?!

Sampai sekarang kita tidak tahu apa langkah berikutnya dari pemerintah kita untuk menghadapi halusinasi massal berbalut agama yang terjadi pada para pemimpi khilafah di negara kita. Tapi as I say, stupidity has no limit. This country will go more and more stupid kalau kita biarkan. Semakin stupid seseorang maka semakin ngawur mereka nantinya. Apa tidak kasihan pada warga yang terus menerus dibodohi dengan halusinasi ini?

Surabaya, 26 Agustus 2020
Satria Dharma

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA