by

Bersama Fahd Pahdepie

KOPI, Bekasi – Fahd Pahdepie? Itulah nama “manusia unik” yang sering disebut-sebut Neng dan Joan, dua putriku. Kedua putriku, ternyata sudah lama, mungkin 7-8 tahun lalu, mengetahui siapa Fahd! Aku sendiri baru kenal penulis kreatif ini, tiga tahun lalu. Kenalnya saat ikut diskusi “Terorisme yang Meruyak” di Ciputat School, Ciputat, Tangerang Selatan.

Fahd adalah manusia multitalenta. Gaya bicaranya menarik. Runtut, perspektif, intelek, dan enak didengar – lebih bagus ketimbang Eep Saifulloh Fatah dan Taufik Rahzen. Wawasannya luas dan menembus batas. Tulisan-tulisannya merangsang otak kanan. Lebih bagus ketimbang Emha Ainun Najib. Buku-buku yang ditulis Fahd – meski kadang hanya surat-surat cinta kepada istrinya – selalu best seller. Minimal 30.000 eksemplar laku. Di Facebook, Twitter, dan IG, followernya jutaan. Kepiawaiannya “memainkan” IT, menjadikan Fahd adalah “pemimpin” masa depan yang terus bergerak mengikuti zaman digital. Tak hanya itu. Kisah-kisah keluarga Fahd, kata Olenka, novelis Yogya, adalah kisah kemesraan emas seperti Habibie-Ainun dan Sah Jahan-Mum Taj Mahal.

Fahd yang pinter menulis, pinter bertutur, pinter mendobrak tembok kejumudan, dan pinter menyenangkan istri – adalah produk Pesantren Muhammadiyah Darul Arqom, Garut. Sejak masih di ponpes, Fahd telah memenangkan berbagai lomba menulis dan seni baca Qur’an tingkat nasional. Melanjutkan kuliah “Hubungan Internasional” di Universitas Muhammadiyah Yogya dan master dalam bidang International Studies di Monash University, Aussie, Fahd makin luas cakrawalanya. Ide-idenya menggempur kejumudan beragama, bernegara, dan bermasyarakat tradisional. Indonesia ini akan maju, kata Fahd, jika bangsa ini punya dendam positif. Seperti Korea Selatan yang maju karena “dendam” terhadap Jepang. The Power of Dendam – kata Fahd – adalah api untuk melecut kreativitas dan kerja keras.

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA