by

Sekilas Pandang Tentang PPWI

Loading…

KOPI, Jakarta – Persatuan Pewarta Warga Indonesia atau disingkat PPWI adalah sebuah organisasi yang menjadi wadah para jurnalis warga (citizen journalists) yang didirikan di Jakarta pada tanggal 11 November 2007. Tujuan utama PPWI adalah mewujudkan komunitas warga masyarakat Indonesia yang cakap-media, yakni yang cerdas, kreatif, dan bertanggung jawab dalam berbagi informasi melalui media massa serta mampu merespon dengan benar setiap informasi yang diperoleh dari media massa.

Sejalan dengan kehendak luhur untuk membantu usaha-usaha pemerintah dan masyarakat Indonesia dalam meningkatkan kehidupan bangsa yang cerdas, sejahtera dan berkebudayaan tinggi, serta mengembangkan peradaban yang sesuai dengan kehendak masyarakatnya melalui program dan kegiatan ke-media-massa-an, PPWI konsisten untuk mendorong terciptanya sistim publikasi yang jujur, benar, dan beretika, dan memberi manfaat bagi masyarakat banyak. Untuk itu PPWI berupaya senantiasa menjalankan misinya, yakni:

1.   Memperjuangkan dan memasyarakatkan kebebasan dan kemerdekaan memperoleh dan memberi informasi yang benar, bebas dari kepentingan kekuatan tertentu dan bertanggung jawab;

2.   Meningkatkan kemampuan mengemukakan informasi, pendapat, aspirasi, keinginan dan buah pikiran dalam bentuk lisan maupun tulisan kepada semua anggotanya dan seluruh lapisan masyarakat;

3.   Melakukan upaya pembelaan/advokasi yang berkenaan dengan kegiatan jurnalisme warga kepada pewarta warga Indonesia dan masyarakat umum;

4.   Menegakkan Kode Etik Pewarta Warga Indonesia dan mempertahankan integritas Pewarta Warga Indonesia;

5.   Menjalin dan memajukan kerjasama dengan semua pihak (pemerintah maupun swasta, dalam dan luar negeri) serta dengan jejaring pewarta warga internasional.

Edukasi Jurnalisme bagi Rakyat

Sejak awal berdirinya hingga saat ini, PPWI telah menyelenggarakan ratusan event pelatihan jurnalistik warga di hampir semua kalangan, seperti mahasiswa, guru dan dosen, organisasi pemuda dan organisasi masyarakat, lingkungan pesantren, perusahaan-perusahaan hingga kepada kalangan militer dan kepolisian. Juga, PPWI banyak melaksanakan kegiatan seminar, forum dialog, pameran, dan pertunjukan di banyak tempat, seperti seminar pendidikan bagi guru dan dosen di Luwu dan Banda Aceh, dialog antar generasi di Manado, pagelaran seni-budaya sisingaan di Subang, mapun pelatihan penulisan karya tulis ilmiah. Berbagai lomba menulis dan fotografi telah banyak dilakukan selama ini, bekerjasama dengan berbagai pihak, antara lain Lomba Menulis bertema Presiden Ideal dan Anggota DPR Ideal di Masa Mendatang, Lomba Menulis Surat kepada Presiden Republik Indonesia, Lomba Foto Pilpres 2014, dan lain-lain.

PPWI berpandangan bahwa jurnalisme warga adalah kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh warga masyarakat dari kalangan manapun tanpa pengecualian dengan maksud berbagi informasi di antara sesama warga menggunakan sistim jurnalisme, publikasi dan media massa. Kegiatan jurnalistik yang dilakukan oleh pewarta warga pada hakekatnya bukan mencari uang atau materi sebagai tujuan utama, tetapi untuk menginformasikan, menginspirasi, memberi semangat, berbagi ide dan pemikiran, serta sebagai usaha kontrol sosial di antara sesama pengemban fungsi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu, setiap pewarta warga didorong untuk merencanakan dan melaksanakan beragam kegiatan sesuai kapasitas, profesi, dan kemampuannya demi menghasilkan karya-karya, yang selanjutnya kegiatan dan hasil karyanya tersebutlah yang menjadi sumber pemberitaan mereka untuk dipublikasikan.

Media Online dan Penerbitan Buku

Di bawah kepemimpinan ketua umumnya, Wilson Lalengke, organisasi yang digagas oleh sang Ketua Umum bersama Bapak Robert Nio, Bapak Suprianto, SH, dan sejumlah jurnalis warga lainnya, telah menerbitkan beberapa buah buku, antara lain: Booming Profesi Pewarta Warga, Wartawan dan Penulis karya Supriyanto, salah seorang anggota PPWI. Selain itu, PPWI juga berhasil menerbitkan buku Indonesia-Maroko: Lebih dari Sekedar Persahabatan yang menjadi salah satu karya emas PPWI yang tercipta sebagai hasil kerjasama PPWI dengan Kedutaan Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dalam bidang publikasi dan media massa, PPWI sejak 2008 telah membangun dan mengelola media online nasional yang dikenal dengan nama Koran Online Pewarta Indonesia (KOPI) dan telah menjadi rujukan informasi oleh berbagai kalangan, baik pemerintahan, swasta dan masyarakat umum. PPWI juga telah menghimpun tidak kurang dari 200-an media massa, baik cetak, elektronik, maupun online yang dikelola oleh para anggota dan pengurus PPWI di berbagai wilayah di Indonesia, terbagung ke dalam PPWI Media Group.

Hingga saat ini, PPWI telah memiliki 22 Dewan Pengurus Daerah di 22 provinsi, diantaranya DPD PPWI Aceh dan DPD PPWI Papua, serta 75 Dewan Pengurus Cabang di 75 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, diantaranya DPC PPWI Aceh Timur di Provinsi Aceh dan DPC PPWI Jayawijaya di Provinsi Papua, dengan jumlah anggota aktif tidak kurang dari 4.000 orang.

Selain bidang jurnalistik warga, PPWI juga senantiasa bergerak untuk membantu warga yang sedang mengalami masalah sosial, konflik, bencana, dan sejenisnya. Walau dalam skala yang belum begitu masif, namun gerakan peduli warga yang selalu muncul secara spontanitas dari para pewarta warga telah menjadi bagian penting dari usaha-usaha PPWI, baik dalam skala nasional maupun lokal, untuk membantu meringankan beban penderitaan yang dialami warga masyarakat di berbagai wilayah. PPWI umumnya menjalin kerjasama kemitraan dengan elemen rakyat lainnya, baik pemerintah, swasta, maupun kelompok organisasi dan individu dalam menjalankan misi, program dan kegiatan-kegiatan sosialnya. Kolaborasi tersebut bahkan telah menjadi kekuatan utama dalam mensukseskan berbagai kegiatan yang direncanakan.

PPWI juga menaruh perhatian besar dalam hal pemberdayaan anggota maupun warga masyarakat kebanyakan, terutama di bidang ekomoni dan kesejahteraan rakyat. Untuk merealiasikan keinginan tersebut, PPWI mengupayakan berbagai program pemberdayaan ekonomi anggota melalui pendirian badan usaha koperasi, yayasan, maupun bentuk badan usaha lainnya.

Kepengurusan Nasional PPWI

Sejak deklarasi pendirian organisasi PPWI oleh sekitar 75 pewarta warga di Aula Gedung SMA Regina Pacis Palmerah, Slipi, Jakarta Barat, hingga saat ini telah terjadi tiga periode kepengurusan PPWI di tingkat nasional. Pada periode kepengurusan pertama (2007-2012), Ketua Umum dijabat oleh Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA dan Sekretaris Jenderal Ruslan Andy Chandra, Dipl.PR. Kepengurusan ini terus berlanjut sesuai keputusan Silatnas Nasional pada November 2011 yang kemudian disetujui oleh Dewan Pendiri, dengan beberapa perubahan susunan kepengurusan. Pada kepengurusan periode 2012-2017 ini, Ketua Umum tetap dijabat oleh Wilson Lalengke.

Kongres Nasional PPWI berhasil dilaksanakan pada tanggal 11-12 November 2017 di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen Senayan Jakarta yang dihadiri tidak kurang dari 300 orang pengurus DPN, DPD, DPC, dan Simpul Informasi PPWI seluruh Indonesia. Dalam kongres tersebut diputuskan sebuah kepengurusan PPWI Nasional yang lengkap dengan pengembangan susunan pengurus, yakni adanya beberapa Koordinator Regional. Kepengurusan periode 2017-2022 ini dipimpin oleh Wilson Lalengke sebagai Ketua Umum dan Fachrul Razi, SIP, MIP sebagai Sekretaris Jenderal.

Kongres Nasional PPWI berikutnya direncanakan berlangsung pada tahun 2022 mendatang.

Bagi setiap anggota PPWI diberikan Kartu Tanda Anggota (ID Card), yang bisa didapatkan DI SINI.

Alamat Sekretariat PPWI Nasional saat ini: Jl. Anggrek Cendrawasih X Blok K No. 29, Kelurahan Kemanggisan, Kecamatan Palmerah, Slipi, Jakarta Barat 11480 – Indonesia, Phone: +62-21-53668243; Call/SMS Center: 08137101875 (Mbak Wina), Email: [email protected], Homepage: www.pewarta-indonesia.com.

Latar Belakang Pendirian PPWI

Sejak fasilitas internet menjadi bagian dari kehidupan masyarakat umum, banyak sekali bermunculan penulis berbakat. Mereka dengan sangat bersemangat menuangkan berbagai ide, buah pikiran, pengalaman, informasi, dan lain-lain dalam bentuk tulisan. Tidak sedikit di antara hasil karya mereka yang tergolong berkualitas tinggi dan perlu dibaca oleh orang lain.

Namun sayangnya para penulis ini kurang mendapat perhatian dan bahkan tidak diakui oleh kalangan pekerja dan pengelola media massa professional. Bahkan lebih banyak dari mereka harus puas menjadi bahan cibiran sebagai penulis amatiran dan termarginalkan oleh masyarakat pers mainstream. Derita dan kekalutan para “penulis amatiran” tidak berakhir di situ saja. Mereka pun amat kesulitan untuk mendapatkan media yang mau mengakomodasi kebutuhan publikasi hasil karyanya. Beruntunglah, internet memberi berkah bagi semua orang dalam bentuk penyediaan wadah menulis bagi sesiapa saja yang ingin mengekspresikan segala kreativitas kemanusiaannya. Jadilah fenomena blogger melahirkan berjuta penulis blog, yang telah menjadi pemandangan umum hari ini.

Pada perkembangan lebih lanjut, beberapa kalangan telah menginisiasi pembentukan media massa tanpa batas yang didedikasikan bagi siapa saja yang ingin menulis dan menyampaikan informasi atau berita yang dimilikinya untuk dipublikasikan pada media-media massa yang mereka bangun. Sebutlah beberapa media di Indonesia seperti koran online KabarIndonesia, halamansatu, panyingkul, dan lain-lain. Baru pada saat paling terakhir ini, beberapa media massa utama, seperti Kompas dan Republika mencoba memberi ruang bagi penulis pewarta warga untuk ikut berpartisipasi di media mereka, namun masih terbatas pada media online yang mereka kelola.

Dari pojok lain, keberadaan para “hobi-nulis” tersebut cukup kesulitan menjalankan aktivitas menulis karena terkendala oleh sumber informasi primer yang sukar diakses akibat ketiadaan wadah atau organisasi yang menaungi dan mendukung mereka. Kenyataannya, untuk bisa bergabung di salah satu persatuan penulis (wartawan) profesional, para penulis nonprofesional tersebut harus memenuhi berbagai macam persyaratan yang tidak mungkin dapat dipenuhi oleh mereka yang tidak memiliki media tetap ataupun profesi sebagai reporter.

Hal ini menimbulkan hambatan bagi setiap penulis untuk mendapatkan akses ke berbagai sumber, terutama yang bersifat protokoler, karena akan dianggap sebagai pengumpul informasi liar, dan lain sebagainya. Hal inilah yang medorong para penulis pewarta warga untuk mendirikan suatu organisasi yang dapat menampung semua penulis pewarta warga dari latarbelakang apapun.

Yang dimaksud dengan Pewarta Warga (citizen reporter) adalah mereka yang memiliki hobi menulis, baik untuk konsumsi media massa online dan offline, maupun menulis di blogger ataupun di milis dan media lainnya. Pewarta warga juga termasuk mereka yang beraktivitas memberitakan informasi dan berita berbentuk berita foto, berita video/film, dan pemberi informasi via telepon ke stasiun radio dan televisi. Pada saat ini siapa saja bisa menjadi reporter tanpa harus memiliki latar belakang pendidikan jurnalisme atau apapun juga. Setiap pemilik blog ataupun setiap orang yang pernah menulis di milis, dapat dikategorikan sebagai citizen reporter.

Umumnya, pewarta warga menulis bukan untuk konsumsi media mainstream atau media utama seperti majalah atau koran-koran lainnya, melainkan untuk sesama pembaca. Reporter-reporter orang biasa ini lebih dikenal dengan sebutan para Pewarta Warga atau Citizen Reporter. Mereka tidak terikat dengan/oleh media massa elektronik (online) ataupun media massa cetak tertentu. Dengan demikian, mereka bisa jauh lebih bebas mengungkapkan pendapat maupun pikiran mereka masing-masing.

Pemberitaan menggunakan system pewarta warga biasanya disebut Citizen Journalism (jurnalisme warga atau jurnailsme orang biasa). Citizen Journalism adalah jurnalisme akar rumput yang muncul dan tumbuh dari bawah ke atas, dari masyarakat di level bawah, dan bukan dari atas ke bawah. Citizen jurnalism dapat disebut juga sebagai jurnalisme advokasi, karena melalui sistem jurnalisme warga setiap penulis dapat memberitakan atau menceritakan perjuangan mereka, misalnya memberitakan tentang pencemaran lingkungan hidup mulai dari pembakaran hutan sampai dengan semburan lumpur panas. Mereka bisa menuturkan secara detil, faktual, dan menyeluruh peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Bahkan, pola ini bukan sekedar dalam bentuk berita ”kering” belaka, tapi mereka menghayati dan menjiwai apa yang mereka ceritakan, sebab hal itu adalah hasil pengamatan ataupun pengalaman mereka sendiri. Bukan hanya sekedar berita yang tawar melainkan berita yang ditulis, digambar, dan disampaikan dengan penuh perasaan.

Berangkat dari gairah untuk berjuang dan bercerita inilah timbul jurnalisme orang biasa yang akhirnya menciptakan jutaan Pewarta Warga. Untuk mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan para Pewarta Warga Indonesia, baik dalam maupun di luar negeri, didirikanlah organisasi Persatuan Pewarta Warga Indonesia disingkat PPWI. Salah satu keunikan organisasi ini dibandingkan dengan organisasi wartawan professional adalah bahwa PPWI bersifat global, tanpa sekat batas-batas negara, umur, pendidikan, latar belakang ekonomi dan pekerjaan, dan lain-lain. Semua Pewarta Warga Indonesia di pelosok dunia mana pun dapat turut bergabung menjadi anggota.

PPWI dideklarasikan oleh para Pewarta Warga pada tgl. 11 November 2007, bertempat di Aula SMA Regina Pacis, Palmerah, Slipi, Jakarta Barat. Sebagai Ketua Umum PPWI dijabat oleh Wilson Lalengke, S.Pd, M.Sc, MA dan Sekretaris Jenderal Ruslan Andy Chandra, Dipl.PR(Aust).

Sekretariat awal PPWI Nasional (2007 – 2010) di Gedung Dewan Pers (Jakarta Media Center) Lantai 5, Jl. Kebon Sirih Raya No. 32 – 34 Menteng, Jakarta Pusat 10110, Indonesia, Phone: +62-21-3341766

Email: [email protected], [email protected]

Homepage: www.pewarta-indonesia.com (*)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Loading…

Comment

Berita menarik lainnya...