by

Kerusuhan Rasial Di AS, Pelajaran Berharga Bagi Indonesia

Oleh: Dr. KH Amidhan, Ketua MUI (1995-015)/Komnas HAM (2002-07)

KOPI, Jakarta – Rasialisme sudah mengakar dalam kehidupan masyarakat sepanjang peradaban manusia di muka bumi. Rasisme telah lama muncul. Bahkan ketika manusia baru mengenal pengelompokan dan peradaban, puluhan ribu tahun lalu.

Rasisme dan rasialisme erat kaitannya dengan perbudakan. Dan perbudakan sudah terjadi sejak zaman Sumeria di Mesopotamia, 3500 SM. Perbudakan ini terus berlanjut karena adanya peperangan-perangan antaretnis dan suku. Pihak yang kalah perang, misalnya, akan dijadikan budak oleh yang menang perang. Lebih jauh lagi, perbudakan pun terus berlangsung ketika manusia telah mengenal peradaban industri.

Ras kulit putih Eropa, misalnya, setelah berhasil menemukan mesin (Revolosi Industri) pada abad ke-18 berusaha menguasai dunia. Revolusi Industri menyebabkan bangsa Eropa memperluas wilayahnya ke berbagai penjuru dunia. Bangsa Eropa seperti Inggris, Prancis, Belanda, Itali, dan Portugis dikenal sebagai kolonialis dan imperialis di seluruh dunia.

Bersamaan dengan Revolusi Industri, bangsa-bangsa Eropa menguasai benua Amerika. Orang kulit putih dari berbagai bangsa di Eropa berhasil mendirikan Amerika Serikat (4 Juli 1776), lepas dari jajahan Inggris, negara kolonial terbesar di dunia saat itu.

Meski Amerika telah merdeka dari Inggris, tapi perbudakan yang sebelumnya diberlakukan terhadap orang kulit hitam tetap berlangsung. Ini karena budak-budak kulit hitam dibutuhkan untuk membangun pertanian di Selatan dan industri di Utara Amerika yang baru merdeka. Kondisi tersebut adalah niscaya. Karena tanpa budak-budak pekerja murah, pembangunan fisik negeri baru Amerika bisa terbengkalai. Dengan demikian perbudakan yang basisnya warna kulit atau ras, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari terbentuknya negara Amerika. Itulah sebabnya, perbudakan telah menjadi semacam “budaya” di Amerika, sehingga sulit dihapuskan.

Perjuangan melawan perbudakan di AS jatuh bangun. Tokoh antiperbudakan Amerika, antara lain, Presiden ke-16 AS Abraham Lincoln (1809-1865), Harriet Tubman (1822-1913), dan Martin Luther King JR (1929-1968). Abraham Lincoln dan Martin Luther King JR terbunuh karena menentang perbudakan.

Perbudakan berbasis rasisme dan rasialisme yang mengakar kuat di AS, ternyata sulit dihapuskan, bahkan sampai sekarang. Itulah sebabnya kematian George Floyd, 25 Mei 2020 karena kebrutalan polisi kulit putih memicu sentimen rasisme di seluruh Amerika. Kematian Floyd seperti memantik kemarahan historis warga kulit hitam yang tertindas di Amerika selama ini

Di Indonesia rasisme terjadi baik penjajahan kolonial Belanda maupun Pendudukan Jepang. Pada zaman Hindia Belanda diberlakukan Undang-Undang (Ordonantie) 163 IS yang membagi masyarakat menjadi tiga golongan: Golongan Eropah, Golongan Timur Asing, dan Golongan Bumi Putera (inlandar). Pada pendudukan Jepang umat Islam digencet aktivitasnya oleh Dai Nippon. Ini terjadi karena para ulama menolak upacara seikerei, yaitu, penghormatan terhadap Dewa Matahari.

Semoga setelah merdeka 75 tahun hari ini, benih diskriminasi yang ditanamkan oleh Kolonialis Belanda lenyap di persada Indonesia. Tapi yang pasti karena lamanya dijajah, rakyat Indonesia bermental menderheid complex, rendah diri.

Kerusuhan di Minneapolis dan kota-kota besar di Amerika hari-hari ini terjadi karena kematian warga kulit hitam George akibat kekerasan polisi kulit putih. Berdasarkan sejarah, kekerasan semacam ini sudah berabad-abad lamanya di Amerika. Sejak dulu orang kulit hitam hanya dianggap budak dan hak-hak mereka dibatasi oleh orang kulit putih (yang merasa yakin kedudukannya lebih tinggi dari orang kulit hitam). Kasus kasus pelanggaran rasial oleh aparat kepolisian berulang kali terjadi di Amerika Serikat berkelindan dengan kesenjangan di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Potret sosial yang diskriminatif di Amerika itu, menjadi bara yang terus menyala dan mudah menyulut kerusuhan sosial. Betul tahun 2009 untuk pertama kalinya Amerika memilki presiden kulit hitam. Ia adalah Barrack Hussein Obama yang dilantik pada 20 Januari. Tentu saja terpilihnya Obama jadi Presiden AS, membawa angin segar bagi warga kulit hitam. Tapi bagaimana kenyataannya?

Pemerintahan Obama, Presiden kulit hitam dua periode (2009-2017) meski cukup berhasil di bidang pemerintahan tidak mempunyai arti banyak. Karena kebencian dan diskriminasi terhadap orang kulit hitam, sudah mendarah daging bagi orang kulit putih di Amerika. Bagi orang kulit hitam, meski tidak salah atau kesalahannya sangat kecil, tapi karena “kulit hitam”nya — ia selalu mendapat perlakuan tidak adil oleh polisi atau aparat hukum.

Selama pemerintahan Barrack Obama, banyak juga orang Afrika Amerika tak bersenjata dibunuh oleh polisi. Untungnya media sosial meningkatkan kesadaran akan ketidakadilan ini dan membantu menciptakan gerakan Black Lives Matter (BLM). BLM kini menjadi tagar populer. Kematian George Flyod, harus menjadi emas perjuangan untuk memghabisi rasisme.

Sebaliknya Donald Trumpt (DT) mengeluarkan perintah eksekutif untuk “menghapus perlindungan hukum bagi perusahaan media sosial”. Apakah akhir dari unjuk rasa ini akan membangkitkan social movement yang berujung pada Nopember (Pemilu) sehingga DT tidak terpilih lagi, ataukah hanya sekedar gerakan tagar di sosial media, kita tunggu.

Minneapolis, lokasi insiden terbunuhnya George Floyd, warga kulit hitam di kaki polisi kulit putih, sebenarnya adalah kota yang layak berbangga atas keberhasilannya menyemai multikulturalisme .Walikota Minneapolis Jacob Prey, yang mulai menjabat tahun 2018 bernjanji memperbaiki hubungan antara polisi dan masyarakat setelah dua kasus penembakan fatal yang dilakukan polisi terhadap warga. Sehari setelah kematian George Flyod, Frey mantan pengacara hak-hak sipil itu segera mengecam para petugas polisi yang terlibat.

Melalui cuitan di akun Twitter, DT menyalahkan kelompok anarkis yang dipimpin “Antifa” dan Anarkis Kiri Radikal atas kerusuhan itu. Tapi DT tak memberikan penjelasan yang lebih spesifik. DT tidak merinci bagaimana atau kapan ia akan memasukkan Antifa sebagai organisasi teroris. Oleh DT Garda Nasional pasukan cadangan militer AS untuk keadaan darurat domestik telah dikerahkan di 15 Negara Bagian untuk membantu pasukan polisi menangani kerusuhan tersebut. Di luar yang saya baca di media, ada pendapat bahwa DT sendirilah yang mengidap “penyakit rasisme” . DT pernah menolak kedatangan Muslim di Negara Amerika Serikat, siapapun dia. Memang rasisme tidak hanya berbasis warna kulit, tapi juga etnis dan agamis.

Orang non Kristen, terutama Islam mendapatkan perlakuan diskriminatif di Amerika Serikat. Menurut Gallup, lembaga riset terkenal di AS, dari 10 orang kulit putih Amerika, 8 di antaranya tidak menyukai Islam. Kondisi ini pun berdampak pada perilaku dunia bisnis Amerika yang mempekerjakan orang Islam. Orang Islam dinilai rendah dan gajinya lebih kecil dari orang kulit putih meski posisi jabatannya sama.

Al-Quran, yang saya imani dan yakini, sangat melarang rasisme dan rasialisme. Banyak ayat yang menegaskan itu. Surat Al Hujarat ayat 13, yang artinya : “Hai manusia sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di anatara kamu” . Bayangkan 14,5 abad yang lalu Al-Quran menegaskan bahwa perbedaan itu suatu kewajaran, karena begitulah Allah menciptakannya.

Tujuan dari ayat 13 Al Hujarat di atas adalah agar umat manusia saling mengenal, saling mengerti dan saling memahami untuk menambah wawasan hidupnya. Ingat suku yang berbeda memiliki budaya yang berbeda pula. Bangsa yang berbeda memiliki bahasa masing-masing. Ayat Al-Quran di atas memerintahkan kita untuk beranggapan bahwa perbedaan warna kulit dan ras adalah keputusan dan penciptaan Allah yang tidak bisa diganggu gugat. Kita tidak boleh mempersalahkan hal itu. Karena kemuliaan manusia bukan karena warna kulit dan etnisnya. Tapi ketakwaannya.

Allah tidak menilai kemuliaan seseorang dari rasnya. Apakah ia orang Eropah, Afrika, Asia, orang Arab, orang Tionghoa, dari bangsa penjajah atau terjajah sama sekali tidak dinilai dari rasnya. Allah menilai dari ketakwaannya dalam beribadah kepadaNya.

Tegasnya Al Quran melarang keras rasisme dan rasialisme. Perbedaan kebangsaan, etnis, dan suku yang ditandai dengan perbedaan warna kulit dan rambut sebenarnya bukan merupakan lambang supremasi dan superiorita. Tapi sebagai identitas untuk saling mengenal.

Di Indonesia mempermasalahkan perbedaan ras, etnis, golongan dan agama (SARA) merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) dan moral. Ia sangat sensitif yang akibatnya sangat jauh. Peristiwa dugaan ucapan rasis dan rasialis terhadap mahasiswa Papua di Surabaya, misalnya, belum sempat diklarifikasi. Padahal masyarakat Papua tersinggung dan marah mendengar ucapan rasis semacam itu. Akibatnya meletus demonstrasi massa secara besar-besaran diikuti pengrusakan dan pembakaran di beberapa kota di Papua.

Melihat kondisi masyarakat Indonesia yang sensitif terhadap rasisme, maka peristiwa kerusuhan rasial di Amerika Serikat hendaknya jadi pelajaran. Betul, kerusuhan rasial di AS tempatnya
sangat jauh secara geografis. Tapi ingat, kasus itu sangat dekat dan real time secara digital. Karenanya, bangsa Indinesia harus waspada. Lantaran potensi kerusuhan semacam itu ada di tengah-temgah kita. Peristiwa kerusuhan Mei 1988 menjadi bukti adanya potensi tersebut.

Bangsa yang kukuh adalah bangsa yang memiliki fondasi multikulturalisme yang kuat dan sikap toleransi yang benar benar demokratis. Hanya dengan cara itulah bangsa Indonesia akan berkembang dan berkelanjutan.

Sebagai penutup, saya sebagai anak bangsa bersyukur dan berterima kasih kepada Proklamator kita, Bung Karno yang menetapkan Jakarta sebagai ibukota pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bahasa Indonesia (Bahasa Melayu) sebagai bahasa persatuan. Padahal Bahasa Melayu adalah bahasa etnik kecil di Propinsi Riau, Pulau Sumatera. Tak terbayangkan apa yang terjadi jika Bung Karno menetapkan Manado sebagai ibu kota. Padahal mayoritas populasi Indonesia berasal dari Pulau Jawa.

Akhirul kalam kita harus menyadari, Indonesia adalah negeri majemuk. Majemuk dalam suku bangsa, majemuk dalam bahasa, majemuk dalam budaya, dan majemuk dalam agama. Karena itu, kita wajib menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia melalui Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA