by

Tragedi Rasialisme Kembali Guncang Amerika

Oleh: Amidhan Shaberah,ketua MUI 1995-2015/Komnas HAM 2002-2007

KOPI, Jakarta – Kapan rasialisme pupus di negeri yang mengaku kampiun demokrasi itu? Entahlah. Publik internasional tampaknya makin pesimis. Amerika Serikat (AS), ternyata makin sulit mengatasi kasus rasialisme dari tahun ke tahun. Kondisinya, makin ke kini, kemelut rasialisme makin menjadi-jadi di Amerika.

Jacob Blake

Betapa tidak! Ketika air mata pejuang HAM belum kering setelah tragedi pembunuhan warga kulit hitam George Floyd (25/5/2020) oleh polisi kult putih Derek Chauvin dan kawan-kawannya di Minneapolis, tiga bulan kemudian, petistiwa serupa kembali terjadi. Seorang warga kulit hitam Jacob Blake (29) ditembak tujuh kali oleh polisi (23/8/2020) di Kenosha County, Wisconsin. Seperti halnya George Floyd, Jacob Blake juga diperlakukan seperti binatang. Jacob Blake memang tidak tewas. Tapi ia lumpuh setelah punggugnya ditembak tujuh kali oleh polisi.

Selesai? Tidak. Peristiwa lanjutannya makin tragis. Seorang remaja bernama Kyle Rittenhouse, juga di Wisconsin, menembaki para demonstrans yang tengah berunjuk rasa memprotes kematian George Floyd (GF) dan penembakan sadis Jacob Blake (JB). Akibatnya dua orang tewas. Jika para demonstran dalam unjuk rasa itu mengusung tagar Black Lives Matter, Kyle Rittenhouse, dalam aksinya mengusung tagar Blue Lives Matter. Dari tagarnya, aksi remaja tersebut, jelas mengusung kebencian terhadap orang kulit hitam. Khas perilaku kaum apartheid di negeri rasialis.

Kita ingat, sebelum penembakan JB, publik AS digegerkan dengan kematian seorang pria kulit hitam bernama George Floyd (GF), 46 tahun di Minneapolis. Floyd menjemput ajalnya ketika lehernya ditindih oleh seorang polisi, Derek Chauvin, selama beberapa menit. Demo protes kematian GF kini sudah menyebar ke seluruh Amerika. Bahkan ke seluruh dunia. Kini, demo tersebut niscaya akan makin marak setelah munculnya kasus Jacob Blake.

JB ditembak punggungnya saat hendak masuk ke mobilnya dan disaksikan langsung oleh ketiga anaknya yang berada di dalam mobil. Kemudian JB langsung diterbangkan ke rumah sakit di Milwaukee. Video penembakan JB beredar luas di jagat maya. Saat ini, kondisi JB sudah membaik, tetapi dokter menyatakan Blake akan mengalami kelumpuhan.

Otoritas Kenosha County telah mengumumkan jam malam sejak Senin pekan lalu. Pengunjuk rasa yang ricuh membakar beberapa kendaraan di kota dan merusak gedung pengadilan daerah pada Minggu malam pekan lalu. Gubernur Wisconsin Tony Evers terpaksa mengutus 125 anggota garda nasional ke Kenosha untuk menjaga ketertiban pada Senin malam itu. Selasa pekan lalu, jumlah garda nasional ditambah seiring dengan makin maraknya aksi pengunjuk rasa.

Kepolisian AS memang seperti monster untuk warga kulit hitam. Menurut The Washington Post, sebanyak 1.014 orang di AS ditembak mati oleh petugas kepolisian sepanjang 2019. Dari jumlah itu, korban tewas mayoritas orang kulit hitam. Mapping Police Violence Institute, misalnya, menyatakan bahwa orang kulit hitam kemungkinan tewas di tangan polisi Amerika, tiga kali lebih besar dibandingkan dengan orang kulit putih.

Dalam hal politik, AS sebetulnya pernah memberi harapan untuk menyelesaikan kasus rasialisme. Saat itu, tahun 2008, Barack Obama terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama di AS. Publik nasional dan internasional meyakini: Terpilihnya Obama adalah momen historis dalam sejarah kelam rasialisme dan perbudakan di Negeri Paman Sam. Obama dipercaya sebagai solusi kasus rasialisme yang akut di AS.

Faktanya? Dua kali Obama jadi presiden, kasus-kasus rasialisme tetap marak. Banyaknya orang kulit hitam di White House ternyata tidak berpengaruh terhadap turunnya kasus-kasus rasialisme.
Tragisnya, di masa kampanye pilpres AS tahun 2020 yang mulai memanas, isu rasialisme muncul kembali dan lagi-lagi mengguncang Amerika. Bahkan kampanye Presiden Donald Trump dari Partai Republik, ikut memanaskan isu-isu rasialisme. Trump, misalnya, menyerang aktivis kulit hitam, Al Sharpton. Menurut Trump, Sharpton adalah seorang penipu yang hanya bisa berbuat onar. Trump dinilai sejumlah pihak sedang mengeksploitasi isu rasial demi kepentingan politik. Trump menjadikan politik identitas kulit putih sebagai salah satu kekuatan utama dalam strategi kemenangan pilpres 2020.
Sebaliknya, Capres AS dari Partai Demokrat, Joe Biden, memanfaatkan isu rasial kulit hitam untuk kepentingan politiknya. Biden mengecam penembakan Jacob Blake dan meminta dilakukan investigasi menyeluruh. Capres dari Partai Demokrat itu mengatakan keadilan setara belum bisa tercapai secara nyata bagi warga Amerika yang berkulit hitam. Ia mengajak agar pendukungnya menghentikan rasisme sistemik sesuai dengan janji Amerika sebagai bangsa yang plural dan melting pot.

Partai Demokrat dalam sejarah Amerika memang kerap menyuarakan kesetaraan dan HAM. Tapi kenapa sejauh ini Amerika belum bisa melenyapkan rasialisme? Bahkan ketika presiden kulit hitam pertama AS, Barack Obama memerintah selama dua periode, kasus-kasus rasialisme tidak bisa dipecahkan secara tuntas.

Inilah tantangan terbesar AS sepanjang masa. Amerika harusnya tidak menjadikan rasialisme sebagai komoditi politik, tapi menjadi landasan perjuangan fundamental semua rakyat. Dengan demikian, Partai Republik pun, tidak mengambil sikap oposisi terhadap Partai Demokrat yang selalu memperjuangkan kesetaraan antarras. Negeri sebesar Amerika di mana kaum intelektual level dunia berada, mestinya sanggup mengatasi isu rasialisme yang primordial tersebut. Sudah terlalu banyak harta dan nyawa yang hilang akibat tragedi rasialisme di Amerika. Kasus George Floyd dan Jacob Blake hendaknya menjadi keprihatinan bersama. Tidak hanya untuk Amerika, tapi juga dunia.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA