by

Optimisme dalam Mendayagunakan Tantangan demi Mewujudkan Kemandirian Energi

KOPI, Semarang – Tahun 2014 sampai dengan 2018, Indonesia menghadapi berbagai tantangan terutama bidang energi, yaitu: dampak negatif akibat turunnya harga minyak mentah dunia sampai terbatasnya ruang pertumbuhan akibat perubahan politik, kebijakan pemerintah, dan birokrasi perizinan. Penurunan harga minyak dunia telah membawa perubahan besar dalam tatanan ekonomi global dan berimbas pada perlambatan kinerja seluruh korporasi dunia. Penurunan tersebut diakibatkan berkurangnya cadangan minyak di dalam negeri akibat minimnya sumber-sumber minyak (fosil) yang baru.

Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan, produksi minyak mentah nasional pada 2017 diproyeksikan hanya 661,7 juta barel per hari (bph). Produksi diproyeksikan turun menjadi 643,67 juta bph pada 2018 dan hanya 560,21 juta bph pada 2023. Untuk menyeimbangkan penurunan maka dilakukan impor. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor migas periode Januari-September 2016 mencapai level USD13,74 miliar. Salah satu hal yang bisa dilakukan agar kemandirian energi dan ketahanan energi tercapai yakni dengan mendorong penggunaan energi alternatif dan energi baru & terbarukan.

Mau tidak mau dengan membaiknya perekonomian dan meningkatnya daya beli masyarakat, penggunaan energi terus meningkat, harus ada solusi untuk memenuhi kebutuhan energi. Energi alternatif sebagai solusi cepat sedangkan energi baru dan terbarukan untuk masa kini dan masa depan. Untuk penggunaan energi alternatif pemerintah Indonesia dalam hal ini PT. Pertamina sudah melaksanakannya yakni konversi Minyak Tanah dengan LPG. Liquified Petroleum Gas (LPG) adalah bahan bakar alternatif yang bersih. Selain dapat digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak, LPG dapat juga dimanfaatkan sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar minyak untuk kendaraan (Autogas/Vigas), dan untuk kebutuhan mesin kapal Nelayan. Dengan suksesnya program konversi tersebut, sejak 2009 konsumsi LPG di Indonesia mengalami peningkatan. Dari hanya sekitar 1 (satu) juta Metrik Ton per tahun pada tahun 2009 menjadi hampir mencapai 7 juta Metrik Ton di tahun 2016 (atau tumbuh sebesar 700% selama 9 tahun).

Mengelola Energi Baru Terbarukan (EBT)

Disisi lain, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), bauran pemanfaatan sumber energi per 2015 yang lalu masih dikuasai oleh energi fosil. Dimana, sumber energi minyak bumi mencapai 43 persen. Diikuti energi batubara sebesar 28 persen kemudian gas bumi 22 persen. Sedangkan penggunaan EBT baru mencapai 6,2 persen. Untuk menyeimbangkan penurunan maka dilakukan impor. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, nilai impor migas periode Januari-September 2016 mencapai level USD13,74 miliar. Salah satu hal yang bisa dilakukan agar kemandirian energi dan ketahanan energi tercapai yakni dengan mendorong penggunaan energi alternatif dan energi baru dan terbarukan.

Mau tidak mau dengan membaiknya perekonomian dan meningkatnya daya beli masyarakat, penggunaan energi terus meningkat, harus ada solusi untuk memenuhi kebutuhan energi. Energi alternatif sebagai solusi cepat sedangkan energi baru dan terbarukan untuk masa kini dan masa depan. Indonesia memiliki cadangan panas bumi urutan ke 2 terbesar di dunia yakni sekitar 40 persen. Hal itu dikarenakan, Indonesia berada pada jalur ring of fire. Dengan potensi panas bumi sebesar 29.543,5 MW, Amerika Serikat sebagai negara dengan potensi energi terbarukan geothermal terbesar di dunia. Amerika Serikat sendiri memiliki potensi panas bumi sebesar 30.000 MW. Indonesia baru sekitar 1.438,5 MW yang terpasang. Sebagian besar berada di Jawa dengan jumlah listrik yang dihasilkan panas bumi masih sebesar 1.224 MW.

Data yang dimiliki oleh kemeterian ESDM tahun 2015, Indonesia memiliki Potensi Energi Baru Terbarukan (EBT) yang cukup besar yaitu, mini/micro hydro sebesar 450 MW, Biomass 50 GW, energi surya 4,80 kWh/m2/hari, energi angin 3-6 m/det dan energi nuklir 3 GW. Terpuruknya harga minyak mentah dunia sejak awal tahun 2015 memberikan tantangan berat bagi perusahaan-perusahaan di sektor migas tidak terkecuali Pertamina. Untuk menopang stabilitas perusahaan di tengah kondisi tersebut, Pertamina mencanangkan program 5 (lima) prioritas strategis yang terdiri dari pengembangan sektor hulu, efisiensi di semua lini, peningkatan kapasitas kilang dan petrokimia, pengembangan infrastruktur dan marketing, serta perbaikan struktur keuangan.

Potensi sumber daya energi terbarukan, seperti; matahari, angin dan air, ini secara logika memang dapat diperbarui, karena melimpah di alam. Namun, nyatanya potensi tersebut terbatas untuk dijadikan energi. Tidak selalu setiap daerah dan setiap waktu; matahari bersinar cerah, angin bertiup dengan kencang  dan air jatuh dari ketinggan dan mengalir deras secara konstan. Dikarenakan hal tersebut, sumber daya energi baru dan terbarukan saat ini belum dapat menggantikan kedudukan sumber daya energi fosil sebagai bahan baku produksi energi utama.

Telaah Kendala Menuju Kemandirian Energi

Selain potensi yang telah disampaikan, ada beberapa kendala yang harus dihadapi. Kendala tersebut harus dihadapi guna mewujudkan kemandirian energi bangsa ini. Adapun beberapa kendala, yakni dalam rekayasa teknologi energi baru dan terbarukan dimana sebagian besar komponen utamanya belum dapat di produksi di Indonesia, jadi masih harus mengimport dari luar negeri; biaya investasi dalam pengembangan yang tinggi secara finansial sehingga butuh kebijakan negara; belum tersedianya data potensi sumber daya yang lengkap salah-satunya Sumber Daya Manusia; terbatasnya studi dan penelitian yang dilakukan, tehnologinya masih dimiliki negara maju, secara ekonomis belum dapat bersaing dengan pemakaian energi fosil. Dalam kontinuitas penyediaan energi listrik rendah, karena sumber daya energinya sangat bergantung pada kondisi alam yang perubahannya tidak tentu, misal kecerahan langit dan hembusan angin.

Selanjutnya, kemampuan bangsa ini untuk bertahan dalam situasi yang sulit ini diharapkan mampu meningkatkan keandalan dan kesiapan perusahaan seperti Pertamina dalam menghadapi perubahan situasi global di masa mendatang. Bagi Pertamina, 2017 juga menandai 60 tahun kiprahnya sebagai perusahaan pertambangan minyak & gas yang telah bertransformasi menjadi perusahaan energi terkemuka. Dengan berbagai pengalaman dan kemampuan yang telah terasah selama enam dekade, Pertamina diharapkan terus maju menuju dekade-dekade selanjutnya untuk kembali mencapai berbagai keberhasilan dan pencapaian signifikan lainnya, hingga mampu turut membawa bangsa dan negara ke tingkat kesejahteraan yang lebih baik. Semoga.

Comment

Berita menarik lainnya...