Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



    POLLING WARGA
    Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
     

    Lontong Balango

    KOPI - Rabu sore sebelum senja menjemput malam, Gadis pergi ke simpang Bunian, mencoba melulur lidah dengan makanan yang di jajakan di depan bekas gedung pengadilan Payakumbuh, gedung yang mengisyaratkan adanya keadilan dan ketidak adilan dalam palu yang menghantam gendang telinga dan menciptakan otot-otot jemari yang terpaksa tunduk pada tulang. Sekilas mengenang pengadilan itu, tersibaklah sebuah kisah orang yang menentang hukum yang di usung mulai dari pasar sampai pada penjara hanya berjalan kaki, pokoknya salingka nagari.Malu, memang tapi tujuanya saat itu untuk memberikan pelajaran pada masyarakat agar berhati-hati dalam bertindak di tengah keramaian.

    Gadis terpana kedepan mencoba melihat dengan teliti gedung tua yang meninggalkan bekas mengerikan di tengah masyarakat tempo dulu, gedung yang makin lama makin tak terawat, dinding mulai keropos, kaca mulai pecah dan berkarat, dan begitu kusam, di tambah lagi kemegahan gedung itu di zaman dahulu telah di kentuti oleh bangunan liar yang numpang eksis meraup rupiah di sepanjang panggung matanya gedung tua.

    Gadis coba memesan dengan isyarat tak bersuara pada Buyuang, agar setelah memandang penuh tanda tanya di gedung tua bisa di bungkuskan satu porsi, ah..tapi isyarat itu tak di dengar olehnya, melainkan taparongoh melihat penduduk putih dalam mulutku yang hilang. Ompong. Gadis mencoba mendekati steleng yang saat itu kosong, tak ada mie kuning yang di rayu oleh minyak untuk menerima pertemanan dengan serai, bawang merah, bawang putih, juga rombongan garam yang bisa memadakan lidah juga menggelitik tenggorokan yang telah dulu di mandikan dengan air ludah. Begitu juga mihun sama- sama telah di tipu oleh minyak untuk bisa bersatu dengan sedikit ketumbar, tapi tipuan untuk mihun sedikit ekstrim, mihun yang hidupnya tegang telah menjelma menjadi keibuan pada mata, rasa yang menikmati.

    “Ah.., sudah tu kawan jangan mengerutu juga, lihat aku, aku hanya di mandikan dengan air mendidih, yang di kasih baju, mungkinkah beras itu masih bertahan dalam pelukan daun yang sesekali mati tergayut, walau aku terpaksa menjadi lontong.”

    “Kamu enak tak ada yang mendemomu, sedangkan aku mie kuning, harus dapatkan cekekan kuat sehingga badanku bisa di taklukan dengan air mendidih, sehingga aku pasrah pada keadaan, di belah dan di kepung massa pada bumbu-bumbu yang memedihkan mata.”

    “Eep.. tunggu dulu jangan merasa tersiksa dong.., aku kacang yang lagi enak hidup di tanah, di paksa minggat demi memuaskan hasrat manusia, hmm, geram rasanya aku lihat manusia, tahu aja bahwa manfaat dari tubuhku ini, apalagi aku harus menerima mentah-mentah disiram garam, cuka, dan cabei, menurutku kita lihat saja bagaimana kabar telur dan ayam yang juga di paksa memuaskan hasrat untuk mendapatkan rupiah yang berwajahkan Sukarno-Hatta, ataupun Patimura.

    “Akupun tak sama menderitanya dengan kalian semua, saat telur akan menjadi regenerasi antar kami di kandang majikan, di ambil di jadikan pameran untuk pelaris dagangan Buyuang, juga indukupun di tebas, di cincang-cincang menjadi empat suku kata. Kata yang tertuang pada kelapa dan perangkat desa lainnya untuk di jadikan gulai touco, gulai paku, dan gulai cempedak.

    “Sttt… sudah, lihat manusia itu akan menanyakan harga kita, mungkin juga kita semua akan di terkam hidup-hidup” api mencoba mengomandoi percakapan yang sengit antara; mie kuning, mihun, kacang, ayam dan lainnya.

    Semenjak delapan bulan kebelangan ini, pada awalnya daging mentah yang biasa diolah menjadi rendang, baso, suir lado dan kalio ingin di rubah rasa dengan menghadirkan olahan kuliner yang bisa suatu saat terkenal di Kota Batiah ini, kota yang telah ternama dengan beranekaragam masakan sehat.

    Seperti biasa dimanapun Gadis berada, ia selalu menanyakan ini dan itu, tepatnya menghilangkan kepenatan kaki yang marah pada betis berdiri menjulur pada jalan, dan menikmati alunan bising kendaraan yang lalu lalang persis di hadapan lontong, tanpa kaget maupun takut.

    “Bara bungkuih Ni..?”

    “Ciek sajo Da, masukkan semuanya, jangan lupa kerupuk berwarna putih itu. Bukan peyek.

    “Gulai cubadak, toco atau gulai paku Ni?”

    “Toco sajo Da.”

    Terkumpulah dalam satu wadah seterofom, lontong yang di belah kecil-kecil, mie kuning satu sendok makan, mihun dua sendok garpu, ayam goreng dengan kemulusan pahanya yang di keprok sehingga terpaksa menutupi itu semua, juga kerupuk ubi putih yang di paksa juga memagari, dengan tanpa bersalah siraman cabei yang diperkacangan dengan kecap juga ikut menghimpit menerobos ke jantung lontong. Tapi gulai tauco tadi hanya plastiklah yang bisa menghentikan aliran tubuhnya kedalam badan sterofom.

    “Bara Da?”

    “Limo baleh jo karupuak lado”

    Hmm, hanya segitu harga kalian semua kata balango,lihat aku, jadi figur dikala manusia datang kesini, duduk mengunjur sembari memandang tubuhku yang hitam, anakku, suamiku, dan sanak familiku. Kalian semua tak mesti bertengkar seperti itu, mengingat kalian akan di masukkan dalam goa gelap yang dilumatkan selumat-lumatnya, masuk pada ular putih yang bersemayam dalam perut manusia yang berjumlah dua belas jari, bagi yang beruntung bisa langsung berenang dengan air teh talua, kopi talua, air tawar dan penggodokan jus dalam blender. Haha..ha, aku tak perlu demikian walau ku terbuat dari tanah liat, tak perlu menangisi ini semua kecuali sesekali aku merasa hangat dikala di panggang, dan dingin menggigil saat aku harus di ceburkan dibawah kran airnya manusia.

    Lama-kelamaan suatu saat kalian semua akan mulai menumbuhkan rasa suka padaku. Berharaplah kalian semua agar suatu saat kalian bisa bermain dalam tubuhku, yang tak pernah ku otak-atik, bahkan memakan kalian, tapi hanya untuk persinggahan saja, menompang tidur, berdiam diri, bahkan bersembunyi dari ganasnya gigi manusia.

    Gadis mencoba menghitung uangnya yang berada di balik saku lengannya yang tampak sobek, pertanda tak adanya keinginan mengepung semua di hadapan matanya dari selera rakus yang terbatas. Bayaran tak seberapa dari pengorbanan semua pasukan lontong yang terkumpul di pinggan sebesar tapak tangan.

    Buyuang mencoba menatap bungkusan yang ia bungkus tadi, takut tak cukup, debaran jantungnya mewakili deru petir yang menyambar lidahnya saat dia mulai menonohkan tanpa seteguk yang singgah di giginya yang rapi. Hangat, dan pedih.Air kopi khas Kerinci, yang di hadiahkan kawanya waktu bertandang ke gunung kerinci. Tapi pungkasan Ni Reno tentang olahan si Buyuang membuah sedikit bangga, karena siapapun yang memberikan uang sebagai ganti yang tersaji di rak-rak di badan jalan, akan terus kembali, mengisi lambuang tengah di malam hari.

    Lebih kurang dua ratus empat puluh hari, kedai ini menyapa langit, menyapa malam dan berdamai pada hujan, agar lontong yang gulainya di olah dalam balango ini bisa diterima oleh semua mulut, rasa, dan lagi-lagi lambuang tengah. Laris seperti kacang goreng buatan mendiang Mande Itam, juga selaris lamang tapai Pak Mansyur, juga lontong pical Mak Karuik.

    Gadis mencoba memainkan rantai pada pedal kuncinya, menaruh perlahan bungkusan dari asoy berwarna putih transparan, seperti bungkusan mantel yang tahanya sama dengan batang bambu yang di tempel di depan wajah mantel tersebut.

    Buyuang melangkah kemeja yang direkayasa persis lesehan di pojok bank perkreditan rakyat, numpang eksis juga seperti eksisnya kedai-kedai mini di depan mata gedung pengadilan yang hanya tinggal nama dan kenangan itu.

    Bagi Gadis lesehan yang di dekor Buyuang merupakan tempat ternyaman disenja ini yang ia singgahi di kota kuliner .Walaupun sedikit macet menuju simpang Bunian, tapi keramah-tamahan, masakan yang merakyat juga sesuai dengan kantong pencinta kuliner seperti Gadis, yang sengaja memuji pramusaji demi terhindarnya dari rasa kecewa. Ya, memang ada makan dan tempat favorit Gadis di pasar sana, namun harganya selangit, hanya sekali sebulanlah Gadis bisa memakanya sembari menanti gajian dari menjual tertawa dalam frekuensi 98.

    “Bolehkah aku memakai nama lontong dan balango dalam tarian diatas tintaku, pada ujung pena yang tak pernah bengkok Da Buyuang?”

    “Pakailah kenalkan pada mata hati yang tak pernah buta, lidah yang tak pernah panduto dan mulut yang tak pernah berpenyakit.”

    Bagiku olahan tangan kreatif seperti ini patut di jadikan contoh untuk pegiat kuliner lainnya, punya cipta sendiri, tanpa menirukan masakan orang lain, aku bahagia memakai nama itu untuk ku jadikan baju keseharianku, baju pesta, baju anak-anak, dan baju adat. Juga menjadi bahan obrolan di manaku berada. Sekurang-kurangnya jadi bahan promosi gratis.

    Klakson sedan menghentikan pembicaraan antara Gadis, Buyuang. Pembicaraan yang sutu saat bisa di sambung dengan tema lainnya, yang masih membicarakan sisi keuntungan dan ruginya produk lokal dan moderen.

    “Baiklah Uni, nanti kita sambung lagi, tapi kami disini mencoba kembali melereai keinginan kami untuk mengikuti arus moderen, karena terlalu sedih ku rasa, produk tradisional ini di biarkan saja dipandang tak memiliki nilai. Cara inilah kami bisa membantu menaikkan harga diri para pengrajin, dan menghargai peluh mereka dengan sedikit harga yang mereka keluarkan.

    Buyuang meraih balango ukuran sebesar telapak tangan, ukuran paling kecil, dirabanya dengan penuh kehati-hatian, dan mencerminkan ada cinta yang melekat, baik itu cinta pada bentuk balango, maupun fungsinya yang besar. Balango yang dulu jadi primadona bagi kancah kuliner minang, yang kini hanya dibutuhkan sesekali saja, hanya memasak sampadeh, cincang daging di rebus dengan kulit pisang, juga sebagai perebus obat. Bagi Buyuang balango ini akan di pakai setiap hari, dalam kondisi apapun. Lagian rasa masakan dari balango ini sangat harum, enak dan aroma khas tanah liek memberikan warna tersendiri dalam kelezatan makanan ini.

    Apalagi ada trik tersendiri agar balango ini bisa sehati, dan padu padan dengan Buyuang, yaitu tiap selesai balango di pergunakan tenaganya sampai larut malam, waktu benar-benar memaksa angin untuk menghalau diri pulang, dan menghayalkan bahwa hari esok lontong balango ini akan lebih banyak yang membeli dari hari ini, dengan cara membersihkan semua sisi badanya, lalu di pijat memakai minyak manis, dengan tujuan, agar goresan yang berbentuk kudis di pinggul balango bisa menyatu dengan yang lain, jadi terkesan licin kembali serta kuat.

    “Ngo, terimakasih malam ini kau selalu menemaniku, memuaskan hasrat orang banyak, untuk mencicipi apa yang ada dalam tubuhmu, aku akan tetap merawatmu, dan tahanlah kau selalu sebagaimana aku akan tahan melihatmu selalu bergelimangan beraneka ragam olahan.

    Gadis terharu melihat dan mendengar kisah cinta Buyuang dengan balango, dengan senyuman yang masih mengambang, gadis memperhatikan dengan seksama komunikasi tersebut, dan sesekali menyengitkan dahinya, seakan komunikasi itu memantrai balango untuk tetap setia akan cintanya Buyuang.

    Makin senja, makin banyak pembeli yang datang, ada yang pesan lima sampai dua puluh porsi, Buyuang dalam kasmarannya melayani pembeli dengan tak mengabaikan Gadis sedikitpun. Gadis memberi kode, untuk pamit pulang, tapi belum juga bisa berangkat, melihat banyaknya kuda roda dua bermasin menghambat jalan Gadis.

    Gadis seakan terpesona, melihat kekasih Buyuang yang terpanggang api, tidak menangis, juga tak meminta untuk putus. Masih menanti untuk menunggu jalan mengepakkan lebarnya agar Gadis leluasa pulang menemui suaminya tercinta, dan menceritakan tentang seorang pria benar cinta mati pada balango.

    Sungguh macet di jalan raya menjadikan Gasis mencari jalan keluar, dengan itu Gadis memindahkan satu persatu yang menghalanginya, layaknya seperti juru parkir yang menyusunkan kendaraan lainnya, agar siapapun yang datang bisa di salekkan disana. Banyaknya kendaraan yang bolak balik melaju kencang dan perlahan di simpang Bunian, tak heran banyak yang mengalami kecelakaan, mewakafkan daranya tumpah ke tanah bundo, bisa jadi karena ke-tidak hati-hatian, atuapun suratan takdir yang berpihak saat itu.

    “Aku kagum padamu Da Buyuang!”

    “Hmm, kagum, ah janganlah. Masih banyak yang mesti Uni kagumi, aku hanya anak bujang yang mencoba menjadi pribadi yang kreatif, aku malu masih meminta uang jajan pada orang tua, apalagi meminta uang untuk beli kopiah yang berguna untuk dikemudian hari.

    “Apa rasanya menjadi pribadi yang mencintai apa yang tak di cintai orang Da..?”

    “Seperti menikmati aroma kentut kita sendiri, ha..ha..karena orang lain tak akan bisa menerima suara apalagi bau yang memekakkan hidung. Coba Uni renungkan, kalau di tahan tentunya akan menimbulkan penyakit, lagian biaya operasi sangat mahal, seharga lima sawah orang tua kita, kalau dilepas wah ada aja rasa lega di hati, perut dan pikira, bukan begitu Uni?”

    “Haha... memang benar Da kalau di bawakan pada azas manfaat.”

    “Dan Uni juga bisa mendefenisikan cinta itu seperti apa.”

    “Baiklah Da, suatu saat cinta Uda akan masakan dan peralatan yang kembali ke alam akan bisa mengembalikan ingatan tetua akan pentingnya balango yang pernah beranak pinak di rumah mereka, juga sebagai ilmu untuk sipapun yang bertanya, termasuk saya.”

    Gadis melambaikan tanganya sembari mengucapkan terimakasih atas ilmu yang didapat di senja ini. Meninggalkan Buyuang dalam kesibukannya, dan masih tampak jelas dari kaca spion Buyuang membelai balangonya semua, dan menatap dengan penuh cinta pada mie, kerupuk, telur, ayam, cabei, dan lainya, agar banyak yang akan kembali belanja lontong balango di simpang Bunian ini.

    Talawi, 15 Agustus 2015

    Catatan:

    Balango : terbuat dari tanah liat berbentuk mangkuk besar

    Buyuang : Panggilan nama laki-laki untuk orang minang

    Taparongoh : kaget

    Steleng : rak-rak

    Memadakan : rasa yang kaku pada lidah

    Kalio : olahan guali yang belum menjadi rendang

    Bara : berapa

    Bungkuih : bungkus

    Ciek : satu

    Sajo : saja

    Jo : dengan

    Teh taluah : teh telur

    Kopi Taluah : kopi telur

    Pinggan : piring

    Lambuang : lambung tengah

    Asoy : kresek

    Panduto : berbohong

    Di salekkan : bisa lewat di jalan yang kecil/ di selipkan

    Kopiah : peci dipakai untuk melakukan solat

    Penulis : Nova, lahir di Payakumbuh, 19 Juli 1982, bekerja sebagai guru, dan penyiar radio safasindo.

    Pak Datuak

     

    Joko Widodo dan Prabowo Sama-sama Keturunan Tionghoa
    Rabu, 12 Desember 2018

    KOPI, Jakarta – Fakta, Prabowo Subianto adalah Warga Keturunan Cina/Tionghoa dan Penganut Agama Kristen. Pertama yang perlu diketahui adalah Fakta ini tidak bermaksud mendiskreditkan agama atau suku dan ras tertentu yang ada di Indonesia. Saya (red.Didi) secara pribadi sebenarnya bangga karena masih banyak masyarakat muslim yang menjadikan Prabowo yang merupakan warga keturunan Tionghoa sebagai idola dan panutan mereka meskipun Ayah Prabowo... Baca selengkapnya...

    Dulu Prabowo Teriak Anti Aseng - Asing, Kini Malah Merapat
    Minggu, 09 Desember 2018

    KOPI, Jakarta - Kehadiran Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan pengusaha Tionghoa Indonesia di sebuah hotel di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, Jumat (7/12/18) malam, mendapat sorotan dari Ketua Fraksi Hanura, Inas N Zubir. Inas menyebut Purnawirawan Jenderal bintang tiga itu semakin jinak terhadap asing dan aseng. "Ia juga kerap berteriak, 'Apa kalian mau dipimpin antek asing' atau 'Kekayaan negeri... Baca selengkapnya...

    Kunjungan Ketum Partai Nasdem ke Riau
    Minggu, 09 Desember 2018

    KOPI, Pekanbaru -  Ketua Umum (Ketum) Partai Nasional Demokrat nama bekennya Nasdem H. Surya Paloh melakukan kunjungan kerja  ke propinsi Riau, Sabtu ( 9 Desember 2018 )  .  Ribuan  kaderya  berasal dari dua belas kabupaten /kota se Riau hadir saat itu .   Surya Paloh  datang sekira jam 15: 30 WIB memakai baju stelan safari hitam, serta lansung memberikan hormat. Penyambutan kedatangan rombongan ketua umumnya oleh Iskandar Husein ketua... Baca selengkapnya...

    Pengamat : Perlukah BPJS Kesehatan Kita Bubarkan
    Jumat, 07 Desember 2018

    KOPI, Bogor – Pasal 34 (Undang-Undang Dasar) UUD 1945 menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Kini negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan memberdayakan yang lemah dan tidak mampu sesuai martabat dan kemanusiaan serta negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.   Ditempat kerjanya, Kangmas Sutisyoso... Baca selengkapnya...

    Hari Disabilitas Internasional 2018
    Selasa, 04 Desember 2018

    KOPI-Jakarta, Setiap tahun diperingati hari Disabilitas Internasional. Kegiatan ini diperingati setiap tanggal 3 Desember. Peringatan ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan masyarakat akan persoalan-persoalan yang terjadi berkaitan dengan kehidupan para penyandang cacat. Pemerintah kali ini mengangkat tema "Indonesia Inklusi dan Ramah Disabilitas," sedangkan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa mengambil tema dengan "Memberdayakan penyandang... Baca selengkapnya...

    Inilah Pidato Capres Prabowo di Reuni Akbar 212 Lapangan Monas
    Senin, 03 Desember 2018

    KOPI, Jakarta - Jutaan umat muslim dari penjuru daerah Indonesia menghadiri Reuni Akbar 212 di lapangan Monumen Nasional (Monas). Para peserta Reuni tersebut datang berkelompok dari daerahnya masing-masing memakai bus, pesawat udara, maupun kapal laut. Dari berbagai usia Balita, orang tua hingga remaja/abg, dewasa. Dari berbagai strata pekerjaan. Prabowo datang ke Reuni Akbar 212 Mantan Danjen Kopasus Prabowo Subianto datang keMonas... Baca selengkapnya...

    Disangkakan Menganiaya Tanpa Bukti, Anggota PPWI Praperadilankan Kapolres Bantul
    Sabtu, 01 Desember 2018

    KOPI, Jakarta - Anggota Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (APKOMINDO), Ir. Soegiharto Santoso alias Hoky kembali didera kasus dugaan kriminalisasi di Polres Bantul. Kali ini, ia harus menghadapi persoalan yang muncul dari kasus yang dilaporkan oleh Faaz, oknum yang merupakan lawan Hoky dalam serentetan cerita perjuangannya sebagai seorang Ketua Umum Apkomindo yang sah, yang... Baca selengkapnya...

    INTERNASIONALNetanyahu Suap Media, Beritakan yang Po.....
    05/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Israel – Hari Minggu (2/12), kepolisian Israel dan Otoritas Keamanan Israel menyatakan bahwa terdapat cukup bukti bahwa Netanyahu dan istrinya [ ... ]



    NASIONALPresiden Jokowi Kunker ke Aceh.....
    12/12/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI,Jakarta, Memasuki akhir tahun 2018 maka Presiden Indonesia Joko Widodo akan mengunjungi bumi Serambi Mekkah di Banda Aceh. Sesuai jadwal yan [ ... ]



    DAERAHTahun 2018, KIP Riau Menyelesaikan 62 S.....
    05/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Provinsi Riau Zufra Irwan menyebutkan. Pihaknya telah menyelesaikan sebanyak 62 sengketa infor [ ... ]



    PENDIDIKANProtes Pemilihan Rektor, Mahasiswa UMRI .....
    14/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Ratusan mahasiswa –mahasiswi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) melakukan aksi demontrasi , Senen (11-12-2018) di gedung rekto [ ... ]



    EKONOMISyahronie : Presiden Tak Perlu Berkeluh.....
    06/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta - Presiden Joko Widodo semestinya tidak perlu berkeluh kesah soal impor yang lebih besar daripada ekspor. Sebab, Presiden lah yang mesti [ ... ]



    OLAHRAGAIPSI Banda Aceh Target 4 Mendali Emas.....
    09/11/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta,Banyak olahraga yang digemari oleh setiap orang. Salah satunya adalah cabang olahraga pencak silat. Wadah yang menaunggi pencak silat [ ... ]



    PARIWISATAKunjungan Turis Mancanegara ke Riau .....
    04/09/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru – Ditempat kerjanya, sebut saja namanya Aji Sulung mengatakan “ Program promosi Pariwisata dan event lainnya yang diadakan oleh D [ ... ]



    HUKUM & KRIMINALOmbudsman RI Anugerahkan Predikat Kepatu.....
    12/12/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta, Pemerintah Aceh bersama Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat, Abdya, Bener Meriah, dan Kota Langsa mendapat penghargaan kepatuhan pemenuhan  [ ... ]



    POLITIKBappilu Partai Golkar Riau : Tandem Sak.....
    15/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Badan Pemenangan Pemilu  (Bappilu) Partai Golkar Propinsi Riau, pemilihan umum  serentak , pada 17 April 2019 nanti akan menggand [ ... ]



    OPINIPromosi Jabatan Cepat Para Pati TNI,.....
    03/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta – Ditempat Kerjanya, Kangmas Sutisyoso menyatakan “ Ingin jabatan strategis setingkat (Panglima, Kapolri, Kasad, Kasal, Ksau ,dll) p [ ... ]



    PROFILKompol Arvin Haryadi Jabat Kapolsek Si.....
    25/10/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Siak Hulu - Pisah sambut Kapolsek Siak Hulu dari Kompol Dedi Suryadi kepada Kompol Arvin Haryadi, S.ik, SH bertempat di Mapolsek Siak Hulu, keca [ ... ]



    ROHANIKanwil Kemenag Riau H. Ahmad Supardi Mut.....
    10/10/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin hari, Jumat (05/10) melantik M Nur kholis Setiawan sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Agama [ ... ]



    RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
    05/01/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



    CERPEN & CERBUNGSuami Genjot ecak, Istri Malah Kena Genj.....
    08/10/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI - Memang tak ada undang-undang yang melarang tukang becak beristri cantik, karena semua itu tergantung rejeki dan kelihaian lobi masing-masing. M [ ... ]



    PUISIMenatap Rasa.....
    07/06/2017 | Mas Ade

    Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



    CURAHAN HATIWaspada !.. Modus Penipuan Wajah Palsu, .....
    28/11/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Beraneka macam modus penipuan muncul era digitalisasi ini. Sasaran utama adalah oknum orang yang  melek/tak bisa memakai internet y [ ... ]



    SERBA-SERBIUltah Pertamina Aceh ke-61, Sumbang 53 K.....
    13/12/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta, Salah satu garda terdepan penyaluran minyak dan gas di dalam negeri Indonesia adalah PT Pertamina. Tidak terasa sekarang PT Pertamina te [ ... ]



    Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.