Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



    POLLING WARGA
    Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
     

    Soekarno: Mien Hessels “Bunga Tulip Belanda”

    KOPI, Tiga setengah abad atau 350 tahun negara Indonesia dijajah Belanda, berbagai penderitaan rakyat Indonesia zaman penjajah dahulu.

    Berbagai macam perlakukan diskriminatif orang Belanda terhadap rakyat pribumi dijaman penjajahan. Ini cuplikan perjalanan kisah cinta mantan Presiden RI pertama (alm) Bung Karno.

    Cerita perjalanan hidup Presiden Republik Indonesia Pertama (alm) Soekarno saat menempuh pendidikan di sekolah Belanda. Ketika itu Soekarno berusia muda sekitar umur 18 tahun bersekolah Hogere Burger School atau Hoogere Burgerschool (HBS) .

    Bung Karno memang seorang remaja yang cakap di antara 20 siswa Pribumi HBS yang merupakan minoritas Pribumi ditengah-tengah 300 siswa sinyo Belanda. Tak ada satu pun gadis Pribumi yang jadi murid HBS. Yang ada hanya gadis-gadis Belanda.

    Dalam waktu yang singkat Bung Karno telah tampil sebagai pemimpin dari siswa Pribumi yang minoritas itu dalam menghadapi sinyo-sinyo Belanda siswa HBS (singkatan dari bahasa Belanda: Hogere Burger School atau Hoogere Burgerschool) adalah sekolah lanjutan tingkat menengah (SMU) pada zaman Hindia , yang suka menghinanya.

    Bung Karno sendiri mengaku tak punya bakat berkelahi. Tetapi semangatnya untuk membela penghinaan dari para sinyo Belanda sesama siswa HBS itu, membuat Bung Karno sering terlibat perkelahaian dan tampil sebagai jagoan.

    "Suatu hari ketika masih sebagai siswa baru HBS, ada seorang siswa Belanda yang berdiri mengangkang di jalan menghalangi jalanku sambil mengejek," Menyingkir dari jalanku anak Inlander," tutur Bung Karno pula." Ketika aku berdiri di sana tiba-tiba dia melepaskan tangannya ke wajahku. PANGGGG! Sebuah pukulan tiba-tiba mendarat di hidungku. Jadi, kupukul dia kembali. PANGGGG! Ya, hampir setiap hari aku pulang dengan babak belur. Sebenarnya aku tak suka berkelahai. Tetapi sekalipun aku dapat menahan penghinaan, aku tak dapat menghindari perkelahaian. Kadang-kadang kukalahkan mereka. Tetapi terkadang mereka pun mengalahkan aku"

    Tetapi keberanian Bung Karno melawan para sinyo siswa HBS itu, malahan menaikkan gengsi Bung Karno di mata gadis-gadis Belanda temannya di HBS. Bung Karno di mata mereka dianggap sebagai seorang hero. Tentu saja Bung Karno senang dikagumi gadis-gadis Belanda yang cantik-cantik itu.

    "Aku memang sangat tertarik dengan gadis-gadis Belanda itu. Aku ingin sekali mengadakan hubungan percintaan dengan mereka," kata Bung Karno berterus terang mengenai perjalanan cintanya  pada masa remaja. "Hanya inilah satu-satunya jalan yang kuketahui untuk memperoleh keunggulan terhadap bangsa kulit putih dan membikin mereka tunduk pada kemauanku. Bukankah ini menjadi idam-idaman mereka juga? Apakah seorang jantan kulit sawo matang dapat menaklukan seorang laki-laki kulit putih dalam soal urusan cinta? Ini adalah suatu tujuan yang hendak aku perjuangkan.

    Menguasai seorang gadis kulit putih dan membikinnya supaya mengingini diriku merupakan suatu kebanggaan....Aku mengakui bahwa aku sengaja mengejar cinta gadis-gadis kulit putih," renung Bung Karno saat memikirkan keinginannya untuk mengungguli para remaja pria Belanda dengan cara bersaing merebut cinta gadis-gadis Belanda siswi HBS yang cantik-cantik itu.

    Ternyata Bung Karno memang berhasil menjadi idola teman-temannya gadis Belanda siswa HBS. Sebab disampng Bung Karno tampan dan pemberani, juga cerdas sehingga disenangi juga oleh para guru-gurunya. Sayang sekali para gurunya itu dalam memberikan nilai selalu pilih kasih. Sepandai-pandainya seorang siswa Pribumi, maksimal hanya akan mendapat nilai enam. Sedangkan siswa Belanda akan diberi nilai maksimal tujuh. Hanya siswa yang luar biasa yang akan diberi nilai delapan.

    "Seakan-akan memang berlaku ketentuan, nilai sepuluh hanya untuk Tuhan. Nilai sembilan untuk Profesor. Nilai delapan untuk anak jenius. Nilai tujuh untuk anak-anak Belanda. Sedangkan nilai enam, untuk anak-anak Pribumi," kenang Bung Karno dengan getir saat mengungkapkan perlakuan diskriminatif penilaian dalam sistem pendidikan kolonial yang dibenci anak-anak Pribumi.

    Bung Karno memberi contoh pengalaman nyata yang dialaminya dalam mata pelajaran melukis dengan cat air. Dalam waktu yang singkat Bung Karno yang punya bakat melukis itu, mampu membuat sketsa seekor anjing yang berada di dalam kandang lengkap dengan rantainya. Sedang murid-murid  yang lain masih berkutat membuat lay outnya. Guru menggambarnya yang melihat hasil lukisan Bung Karno, langsung kagum. Diambilnya lukisan Bung Karno dan diperlihatkan kepada seluruh murid di dalam kelas sambil memberi komentar bahwa gambar Bung Karno adalah salah satu gambar yang terbaik yang memenuhi syarat-syarat yang ditugaskan.

    "Gambar ini begitu hidup dan penuh perasaan. Karena itu patut mendapat nilai yang setinggi mungkin," puji guru menggambar itu yang membuat bangga Bung Karno. Tetapi betapa kecewanya Bung Karno, ketika nilai tertinggi yang diberikan di dalam raport hanya enam. Protes? Tidak mungkin, karena hanya akan mendatangkan kesulitan bagi dirinya sendiri. Ya, itulah praktek diskriminasi yang diterapkan penjajah Belanda dalam dunia pendidikan.

    Sekalipun begitu Bung Karno tetap merupakan siswa paling favorit. Salah satu guru wanita yang menyukai Bung Karno adalah guru bahasa Perancis. Sampai-sampai Bung Karno diberi nama Karel. Dia bahkan memanggil Bung Karno dengan panggilan kesayangan,"Slacht", yang berarti Sayang. Bung Karno bercerita  jika ada barang yang ketinggalan di kamar gurunya seperti kunci atau barang yang lain, gurunya itu tak akan segan-segan memerintah Bung Karno untuk mengambilkannya.

    "Slacht, maukah engkau pergi ke kamarku untuk mengambil kumci?" perintah gurunya itu dengan nada suara yang halus. Tentu saja perintah itu dilakukannya dengan senang hati.

    "Ah, ini adalah hak istimewa yang sangat besar," kata Bung Karno dalam hati bangga, karena merasa menjadi kesayangan guru wanita. Cantik pula. Tentu saja semua itu telah menaikkan gengsi Bung Karno di antara siswa-siswi HBS yang lain. "Sampai pada suatu ketika dia mengajakku ke rumahnya untuk menerima pelajaran tambahan bahasa Perancis," kata Bung Karno menceriterakan pengalamannya dengan guru bahasa Perancis yang menyayangi dirinya. Tentu saja Bung Karno gemetar karena menerima anugerah yang luar biasa itu.

    Bung Karno mengaku pada saat menjadi siswa HBS itu, mula-mula  tertarik pada gadis Belanda yang namanya Paulina Goobe, anak salah seorang gurunya di HBS. Menurut Bung Karno Paulina itu cantik dan sempat membuatnya tergila-gila. Tapi tak dijelaskan apa sebabnya tiba-tiba Bung Karno melepaskan Paulina dan berpaling sejenak pada Laura. Tetapi lagi-lagi Laura pun ditinggalkannya. Kali ini perhatian Bung Karno tertuju pada anak-anak gadis Indo dari keluarga Rat.

    "Mereka ini keluarga Indo yang memiliki sejumlah gadis yang ayu-ayu. Gedung HBS letaknya berlawanan dengan arah keluarga Rat. Sekalipun demikian setiap hari selama berbulan-bulan, aku mengambil jalan keliling hanya untuk bisa lewat di depan rumah keluarga Rat," kata Bung Karno kali ini menceriterakan petualangannya mengejar cinta gadis-gadis Belanda. Sampai suatu ketika Bung Karno merasa benar-benar jatuh cinta pada gadis Belanda dari keluarga lain yang bernama Mien Hessels. Kepada Mien Hessels ini Bung Karno merasa benar-benar telah menemukan sosok gadis idamannya.

    "Dia sama sekali milikku. Dan aku tergila-gila kepada "kembang tulip berambut kuning dan berpipi merah mawar". Aku rela mati untuknya kalau dia menghendakinya. Umurku saat itu baru 18 tahun dan tak ada yang lebih kuinginkan dari kehidupanku ini selain dari pada memiliki jwa dan raga Mien Hessels." tutur Bung Karno mengisahkan perjalanan cinta reamajanya yang menggebu-gebu itu dengan gadis Belanda pujaannya.

    Agaknya memang Mien Hessels menjadi gadis Belanda terakhir  dari sejumlah gadis Belanda yang sempat singgah di hati Bung Karno dalam petualangannya cinta masa remajanya untuk bisa menaklukkan gadis-gadis Belanda. Dengan Mien Hessels Bung Karno nekad untuk melamarnya sendiri kepada orang tuanya.

    "Akhirnya aku memberanikan diri untuk berbicara kepada Bapaknya. Aku memakai pakaian yang terbaik dan mengenakan sepatu. Sambil duduk di kamarku yang gelap, aku melatih kata-kata yang akan aku ucapkan di hadapan Bapaknya. Akan tetapi pada waktu aku mendekati rumahnya yang bagus itu, aku menggigil oleh perasaan takut," kenang Bung Karno saat mengingat pengalamannya melamar kekasihnya Si Bunga Tulip berambut kuning dan berpipi merah kembang mawar.

    "Aku tak pernah sebelumnya bertamu ke rumah seperti ini. Pekarangannya luas menghijau seperti beludru. Kembang-kembang berdiri tegak baris demi baris lurus dan tinggi bagai prajurit. Aku tidak punya topi untuk dipegang. Maka sebagai gantinya aku pegang hatiku," kata Bung Karno melanjutkan kisahnya ketika mencoba melamar gadis Belanda cantik idaman hati, Mien Hessels.

    Tentu saja Bung Karno sangat bergetar ketika berhadapan dengan ayah gadis Belanda yang cantik itu. Ayah Mien Hessels dilukiskan oleh Bung Karno sebagai seorang pria Belanda yang bertubuh tinggi besar seperti menara menatap tajam ke bawah ke arah Bung Karno dengan pandangan tatapan mata yang tajam langsung menghunjam dan tentu saja heran dan penuh tanda tanya.

    "Seperti aku ini dipandangnya bagaikan kutu di atas tanah," kata Bung Karno ketika mengenang tatapan tajam ayah gadis Belanda idaman hatinya itu.

    Pada saat itu usia Bung Karno baru 18 tahun, duduk di Klas III HBS. Tapi demi cintanya pada Mien Hessels, Bung Karno nekad untuk melamarnya langsung.

    "Tuan," kata Bung Karno ketika itu dengan nada bergetar dan gemetar campur aduk jadi satu.Tentu saja Bung Karno mengutarakan maksud kedatangannya dengan menggunakan Bahasa Belanda sebaik mungkin agar tidak mengecewakan ayah Mien Hessels.

    "Kalau Tuan tidak keberatan, saya ingin minta anak Tuan." Akhirnya meluncur juga kata-kata lamaran gaya Bung Karno itu.

    Alih-alih mendapat jawaban yang memuaskan. Bung Karno langsung kena semprot Tuan Hessels, ayah Si Bunga Tulip idola Bung Karno itu. Bung Karno pun langsung dihujani kata-kata kotor dan kasar atas kelancangannya dan keberaniannya.

    "Kamu? Inlander kotor seperti kamu? Kenapa kau berani-beraninya mendekati anakku? Keluar! Keluar kamu binatang kotor!," umpat Tuan Hessels yang tinggi besar itu  menyembur Bung Karno memuntahkan amarahnya.

    Bung Karno mengaku rasa sakitnya ada di dada akibat penolakan secara kasar yang dilakukan atas dirinya ketika nekad mencoba melamar bidadari cantik gadis Belanda itu.

    "Ya, Tuhan! Aku tak dapat melupakan persitiwa ini. Dan jauh di dalam lubuk hatiku aku merasa pasti bahwa aku tidak akan dapat melupakan dewiku yang berparas bidadari itu, Mien Hessels," kenang Bung Karno dengan nada getir.

    Dan rupanya sejak kejadian yang menyakitkan itu, Bung Karno langsung menghentikan peburuannya mengejar-ngejar cinta gadis Belanda. Pelan-pelan bayangan Mien Hessels yang dilukiskan sebagai bunga tulip berkulit halus, berambut kuning dan berpipi merah mawar itu, lenyap dari ingatannya.

    Tetapi dua puluh tahun kemudian, di luar dugaan, Bung Karno ketemu kembali dengan Mien Hessels. Ketika itu sudah jaman Jepang tahun 1942. Bung Karno juga baru saja dibebaskan tentara pendudukan Jepang. Dan dunia pun berputar. Semua orang Belanda ditangkap dan dimasukkan ke dalam kamp-kamp tawanan yang dibangun Jepang. Tidak diceriterakan oleh Bung Karno apakah Tuan Hessel tewas oleh tusukan bayonet Jepang ataukah dijebloskan ke dalam kamp-tawanan.

    Yang pasti Bung Karno nyaris tidak lagi mengenal Mien Hessels, bidadari gadis Belanda yang pernah menggodanya dulu. Mien Hessels yang rupanya tidak ditahan Jepang itu, bertemu kembali dengan Bung Karno di depan etalase toko pakaian.

    "Dapatkah kau mengenal siapa diriku ini ?" tanya Mien Hessels tiba-tiba Bung Karno yang memang tidak lagi mengenal seorang wanita Belanda yang badannya sudah jadi gemuk, jelek nampak tua dan tak terpelihara. Tapi wanita Belanda itu masih dapat tertawa.

    "Tidak Nyonya. Saya sama sekali tidak mengenal Nyonya. Saya juga tidak dapat menerka. Siapa Nyonya?" tanya Bung Karno heran dengan menggunakan bahasa Belanda.

    "Mien Hessels!" kata wanita Belanda itu sambil tertawa yang membuat Bung Karno terkejut dan heran bukan main.

    Dua puluh tiga tahun telah berlalu. Dengan cepat sang waktu telah merubah seorang gadis cantik Belanda menjadi seorang wanita yang nampak sudah renta. Bung Karno tidak menceriterakan lebih lanjut mantan bidadari gadis idamannya bekas temannya di HBS Surabaya dulu. Bung Karno hanya mengucapkan syukur kepada Tuhan bahwa dulu ketika mencoba melamar gadis pujaannya itu telah ditolak dengan kasar. Seandainya Mien Hessels benar-benar jadi istri Bung Karno, dapat dipastikan karir Bung Karno bisa-bisa  berakhir di kamp tawanan Jepang atau malah sudah tewas ketika Jepang menyerbu dan menaklukan Hindia Belanda pada tanggal 9 Maret 1942.

    Ya, itulah rahasia kehidupan. Penolakan Tuan Hessels yang kasar dulu, ternyata telah menyelamatkan karir dan perjalanan Bung Karno sebagai pejuang bagi bangsanya. Akhirnya Soekarno dapat juga menikah dengan resmi dengan gadis Jepang "Dewi Fujin" alias Dewi Soekarno nama asli Naoko Nemoto.

    Foto . SBY dengan Dewi Soekarno alias Naoko Nemoto (istimewa)

    Teks Foto.I. II, III Soekarno , Ratna Sari dewi (net)

    Penulis : Anwar Hadja

     

    Joko Widodo dan Prabowo Sama-sama Keturunan Tionghoa
    Rabu, 12 Desember 2018

    KOPI, Jakarta – Fakta, Prabowo Subianto adalah Warga Keturunan Cina/Tionghoa dan Penganut Agama Kristen. Pertama yang perlu diketahui adalah Fakta ini tidak bermaksud mendiskreditkan agama atau suku dan ras tertentu yang ada di Indonesia. Saya (red.Didi) secara pribadi sebenarnya bangga karena masih banyak masyarakat muslim yang menjadikan Prabowo yang merupakan warga keturunan Tionghoa sebagai idola dan panutan mereka meskipun Ayah Prabowo... Baca selengkapnya...

    Dulu Prabowo Teriak Anti Aseng - Asing, Kini Malah Merapat
    Minggu, 09 Desember 2018

    KOPI, Jakarta - Kehadiran Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan pengusaha Tionghoa Indonesia di sebuah hotel di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, Jumat (7/12/18) malam, mendapat sorotan dari Ketua Fraksi Hanura, Inas N Zubir. Inas menyebut Purnawirawan Jenderal bintang tiga itu semakin jinak terhadap asing dan aseng. "Ia juga kerap berteriak, 'Apa kalian mau dipimpin antek asing' atau 'Kekayaan negeri... Baca selengkapnya...

    Kunjungan Ketum Partai Nasdem ke Riau
    Minggu, 09 Desember 2018

    KOPI, Pekanbaru -  Ketua Umum (Ketum) Partai Nasional Demokrat nama bekennya Nasdem H. Surya Paloh melakukan kunjungan kerja  ke propinsi Riau, Sabtu ( 9 Desember 2018 )  .  Ribuan  kaderya  berasal dari dua belas kabupaten /kota se Riau hadir saat itu .   Surya Paloh  datang sekira jam 15: 30 WIB memakai baju stelan safari hitam, serta lansung memberikan hormat. Penyambutan kedatangan rombongan ketua umumnya oleh Iskandar Husein ketua... Baca selengkapnya...

    Pengamat : Perlukah BPJS Kesehatan Kita Bubarkan
    Jumat, 07 Desember 2018

    KOPI, Bogor – Pasal 34 (Undang-Undang Dasar) UUD 1945 menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Kini negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan memberdayakan yang lemah dan tidak mampu sesuai martabat dan kemanusiaan serta negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.   Ditempat kerjanya, Kangmas Sutisyoso... Baca selengkapnya...

    Hari Disabilitas Internasional 2018
    Selasa, 04 Desember 2018

    KOPI-Jakarta, Setiap tahun diperingati hari Disabilitas Internasional. Kegiatan ini diperingati setiap tanggal 3 Desember. Peringatan ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan masyarakat akan persoalan-persoalan yang terjadi berkaitan dengan kehidupan para penyandang cacat. Pemerintah kali ini mengangkat tema "Indonesia Inklusi dan Ramah Disabilitas," sedangkan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa mengambil tema dengan "Memberdayakan penyandang... Baca selengkapnya...

    Inilah Pidato Capres Prabowo di Reuni Akbar 212 Lapangan Monas
    Senin, 03 Desember 2018

    KOPI, Jakarta - Jutaan umat muslim dari penjuru daerah Indonesia menghadiri Reuni Akbar 212 di lapangan Monumen Nasional (Monas). Para peserta Reuni tersebut datang berkelompok dari daerahnya masing-masing memakai bus, pesawat udara, maupun kapal laut. Dari berbagai usia Balita, orang tua hingga remaja/abg, dewasa. Dari berbagai strata pekerjaan. Prabowo datang ke Reuni Akbar 212 Mantan Danjen Kopasus Prabowo Subianto datang keMonas... Baca selengkapnya...

    Disangkakan Menganiaya Tanpa Bukti, Anggota PPWI Praperadilankan Kapolres Bantul
    Sabtu, 01 Desember 2018

    KOPI, Jakarta - Anggota Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (APKOMINDO), Ir. Soegiharto Santoso alias Hoky kembali didera kasus dugaan kriminalisasi di Polres Bantul. Kali ini, ia harus menghadapi persoalan yang muncul dari kasus yang dilaporkan oleh Faaz, oknum yang merupakan lawan Hoky dalam serentetan cerita perjuangannya sebagai seorang Ketua Umum Apkomindo yang sah, yang... Baca selengkapnya...

    INTERNASIONALNetanyahu Suap Media, Beritakan yang Po.....
    05/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Israel – Hari Minggu (2/12), kepolisian Israel dan Otoritas Keamanan Israel menyatakan bahwa terdapat cukup bukti bahwa Netanyahu dan istrinya [ ... ]



    NASIONALPresiden Jokowi Kunker ke Aceh.....
    12/12/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI,Jakarta, Memasuki akhir tahun 2018 maka Presiden Indonesia Joko Widodo akan mengunjungi bumi Serambi Mekkah di Banda Aceh. Sesuai jadwal yan [ ... ]



    DAERAHTahun 2018, KIP Riau Menyelesaikan 62 S.....
    05/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Provinsi Riau Zufra Irwan menyebutkan. Pihaknya telah menyelesaikan sebanyak 62 sengketa infor [ ... ]



    PENDIDIKANProtes Pemilihan Rektor, Mahasiswa UMRI .....
    14/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Ratusan mahasiswa –mahasiswi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) melakukan aksi demontrasi , Senen (11-12-2018) di gedung rekto [ ... ]



    EKONOMISyahronie : Presiden Tak Perlu Berkeluh.....
    06/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta - Presiden Joko Widodo semestinya tidak perlu berkeluh kesah soal impor yang lebih besar daripada ekspor. Sebab, Presiden lah yang mesti [ ... ]



    OLAHRAGAIPSI Banda Aceh Target 4 Mendali Emas.....
    09/11/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta,Banyak olahraga yang digemari oleh setiap orang. Salah satunya adalah cabang olahraga pencak silat. Wadah yang menaunggi pencak silat [ ... ]



    PARIWISATAKunjungan Turis Mancanegara ke Riau .....
    04/09/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru – Ditempat kerjanya, sebut saja namanya Aji Sulung mengatakan “ Program promosi Pariwisata dan event lainnya yang diadakan oleh D [ ... ]



    HUKUM & KRIMINALOmbudsman RI Anugerahkan Predikat Kepatu.....
    12/12/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta, Pemerintah Aceh bersama Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat, Abdya, Bener Meriah, dan Kota Langsa mendapat penghargaan kepatuhan pemenuhan  [ ... ]



    POLITIKBappilu Partai Golkar Riau : Tandem Sak.....
    15/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Badan Pemenangan Pemilu  (Bappilu) Partai Golkar Propinsi Riau, pemilihan umum  serentak , pada 17 April 2019 nanti akan menggand [ ... ]



    OPINIPromosi Jabatan Cepat Para Pati TNI,.....
    03/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta – Ditempat Kerjanya, Kangmas Sutisyoso menyatakan “ Ingin jabatan strategis setingkat (Panglima, Kapolri, Kasad, Kasal, Ksau ,dll) p [ ... ]



    PROFILKompol Arvin Haryadi Jabat Kapolsek Si.....
    25/10/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Siak Hulu - Pisah sambut Kapolsek Siak Hulu dari Kompol Dedi Suryadi kepada Kompol Arvin Haryadi, S.ik, SH bertempat di Mapolsek Siak Hulu, keca [ ... ]



    ROHANIKanwil Kemenag Riau H. Ahmad Supardi Mut.....
    10/10/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin hari, Jumat (05/10) melantik M Nur kholis Setiawan sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Agama [ ... ]



    RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
    05/01/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



    CERPEN & CERBUNGSuami Genjot ecak, Istri Malah Kena Genj.....
    08/10/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI - Memang tak ada undang-undang yang melarang tukang becak beristri cantik, karena semua itu tergantung rejeki dan kelihaian lobi masing-masing. M [ ... ]



    PUISIMenatap Rasa.....
    07/06/2017 | Mas Ade

    Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



    CURAHAN HATIWaspada !.. Modus Penipuan Wajah Palsu, .....
    28/11/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Beraneka macam modus penipuan muncul era digitalisasi ini. Sasaran utama adalah oknum orang yang  melek/tak bisa memakai internet y [ ... ]



    SERBA-SERBIUltah Pertamina Aceh ke-61, Sumbang 53 K.....
    13/12/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta, Salah satu garda terdepan penyaluran minyak dan gas di dalam negeri Indonesia adalah PT Pertamina. Tidak terasa sekarang PT Pertamina te [ ... ]



    Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.