Iklan

29 August 2008|6:20:04AM

English Arabic Chinese (Simplified) Dutch German Japanese Indonesian Thai
LOGIN & KIRIM WARTA

          Login reminder Forgot login? | Register Register
Belum punya akun? Klik Register

Lupa password? Klik Forgot Login?
PEWARTA ONLINE
None

GELORA SEPEDAJatuh Bangun Nadine Go wes Bersepeda den.....
20/06/2017 | Didi Rinaldo

KOPI, Jakarta – Aktris Nadine Chandrawinata menyukai olahraga seperti  Renang, Menyelam, Senam serta olahraga baru yang kini Ia geluti yakni bersepeda. Ditemui di acara Polygon Follow Your Own P [ ... ]



    POLLING WARGA
    Menurut Anda, program apa yang seharusnya menjadi prioritas PPWI saat ini?
     

    Kang Tejo Bingung

    KOPI - Ketika hari mulai sore kang Tejo melangkahkan kakinya dari sawah, seperti biasanya setelah ia menengok sawahnya di pagi hari ia harus sampai ke rumah sebelum magrib tiba. Walau lokasi sawahnya tak jauh dari rumahnya, ia tak enak hati jika pulang setelah magrib. Lagipula, ia tak mau terlambat menghabiskan waktu sorenya dengan anak dan istrinya untuk menyiapkan makan malam. Sebelum itu pun ia harus memberi makan ayam-ayam peliharaannya di rumah.

    Di kampungnya sedang ramai-ramainya mempersiapkan pemilihan umum, tak heran jika di penjuru jalan menuju rumahnya penuh dengan umbul-umbul dan gambar foto model caleg dengan berbagai gaya. Sambil pulang menuju rumahnya, ia memandangi satu per satu foto-foto caleg itu, kira-kira siapa diantara mereka yang sekiranya mewakili keinginannya. Paling tidak masalah pertanian terutama perkara tanah dan harga pangan diangkat dalam program kepemimpinanya. Tapi sepertinya ia belum yakin, belum ada di antara para calon-calon itu yang dengan jelas mengangkat masalah-masalah yang terkait dengan kehidupannya sehari-hari. Sesampainya ia di pertigaan dekat rumahnya, ia bertemu dengan Pak RT yang ternyata sedang berkeliling kampung.

    "Assalamualaikum Kang Tejo", tegur Pak RT kepadanya

    "Walaikumsalam... Dari mana Pak RT?"

    "Ini sedang keliling kampung, habis ke sawah ya pak?"

    "Ya pak, ini baru mau pulang"

    "Jangan lupa pak kita 2 bulan lagi memilih wakil rakyat, jangan lupa gunakan hak pilih bapak"

    "Insya Allah saya akan memilih pak"

    Selepas bertemu dengan pak RT pun, ia melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti sejenak. Setapak demi setapak, di tengah langkah kakinya itu hati kang Tejo pun semakin tak menentu ketika ia mendengar istilah "wakil rakyat". Batinnya menandaskan bahwa pemilihan umum bukanlah pagelaran kacangan, bukan seperti pertunjukan sirkus di pasar malam, bukan pula seperti parhelatan debus di emperan alun-alun.

    Pemilihan umum sebuah perhelatan akbar, dimana orang sekucel kang Tejo, seorang petani yang tanahnya tinggal secuil yang biasanya hanya menjadi korban "cubitan" kebijakan, kini di tagih haknya. Tak habis pikir, biasanya hanya ada seorang renternir yang rajin datang kepadanya untuk menagih hutang. Kini ia di tagih soal hak pilih, hak politik seorang warga negara. Dan mungkin hanya hak memilih saja yang di tagihkan kepadanya, untuk hak-hak yang lain tak pernah datang di pintu pengharapannya.

    Tapi sekali lagi, kang Tejo belum mendapatkan pilihan yang "srek" untuk kelangsungan hidupnya. Ia takut nasibnya di gantung dan tak pernah di angkat dari teriknya singasana peradaban. Tak terasa, langkah kakinya telah mengantarkan ia di depan pagar rumahnya. Di depan halaman rumah, terlihat Laela anak perempuannya sedang menyapu halaman. Melihat ayahnya pulang dari kebun, Laela tergopoh-gopoh menyambut ayahnya itu dengan ciuman tangan.

    "Eh... Bapak baru pulang", saut Laela kepada sang Ayah

    "Ibu mu mana nak?"

    "Ibu di dapur pak,  lagi menyiapkan makanan"

    Kang Tejo pun segera masuk ke dapur rumahnya, terlihat sang istri sedang sibuk meniupkan udara ke arah tungku dengan pipa kayu. Mendengar suara langkah kaki dan ketukan meja, bu romlah pun segera menengok ke arah belakang dan ternyata suaminya sedang mengucurkan air di gelas kemudian di teguknya. Tak lama, kang Tejo pun pergi ke belakang rumah untuk memberi makan ayam-ayam peliharaannya. Ayam-ayamnya terlihat semakin besar, ayam-ayam itu adalah sebuah alternatif kang Tejo untuk menabung. Suatu saat ketika ia membutuhkan uang mendadak, ayam ini bisa ia jual.

    Hanya ini satu-satunya alternatif yang bisa ia jadikan jaminan ketika kondisi nasibnya di rasa semakin terhimpit dan hendak tenggelam. Dan kini mentari pun semakin terhimpit ke ufuk barat, ia mulai tenggelam meninggalkan bumi. Malam pun tiba, kini sang istri memanggilnya untuk berkumpul di meja makan. Tak tahu makanan apa yang hendak ia makan malam ini. Namun bagi keluarganya, yang terpenting adalah mangan ora mangan asal kumpul (makan tidak makan asal kumpul). Ternyata masih seperti biasanya, selalu ikan asin dan sambal korek yang selalu hinggap di meja makannya. Hanya dari asinnya ikan asin dan pedasnya sambal korek asupan gizi yang ia dapatkan hampir sepanjang hari. Sambil menikmati hidangan makan malam, istrinya berkata..

    “Tadi ada petugas kelurahan datang meminta data anggota keluarga pak”, ungkap sang istri

    “Untuk apa bu?”

    “Katanya untuk data daftar calon pemilih di pemilihan umum nanti pak”

    “Hanya itu yang ia minta? Tak ada pesan yang disampaikannya bu?”

    “Kata pak petugas, jangan lupa 2 bulan lagi kita harus datang ke TPS dekat kelurahan untuk memilih”

    “Bapak dari pagi sampai sore harus pergi ke sawah, kalau tidak kita mau makan apa?”

    “Kan kalau di itung-itung paling cuma tiga menit pak di bilik suara, sehabis itu bapak bisa kembali ke sawah”, sela Laela di tengah perbincangan

    “Masalahnya bapak juga belum mendapatkan pilihan yang “srek”, yang sekiranya bisa mendatangkan kemudahan bagi kehidupan kita… Walau tiga menit itu menentukan nasib kita selama 5 tahun”

    "Ya sudah-sudah terserah bapak aja, sekarang makannya diselesaikan. Ibu mau beres-beres, Laela kamu bantu ibu beres-beres"

    "Ya bu", jawab Laela

    Seusai makan malam yang di hujani perdebatan tentang hak pilih dan cukup melelahkan kang Tejo, ia memilih mengakhiri malamnya untuk berbaring di kamarnya. Menghempaskan beban sejenak, dengan lelap ia merengkuh kenyamanan guna meraih energi untuk di pakainya esok di sawah. Ketika singasana mentari mulai mengepakan sinarnya, kang Tejo sudah terbangun dan telah bersiap untuk bergegas ke sawah. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju ke sawah.

    Di tengah perjalanannya ke sawah, ia bertemu dengan sekumpulan pemuda kampungnya. Sepertinya para pemuda itu sedang sibuk menempelkan gambar di sepanjang dinding gang dan di badan tiang-tiang yang menancap di pinggiran jalan. Kang Tejo pun menyapa para pemuda itu.

    "Lagi sibuk apa mas?", sapa kang Tejo

    "Ini kang, lagi menempel gambar kang Dasman. Dia kebetulan nyalon anggota DPR. Maklum kang lagi musim kampanye"

    "ohh... Kang Dasman saudaranya pak Lurah itu?

    "Ya kang, nanti siang juga dia mau mengadakan sosialisasi di balai desa. Datang saja kang Tejo"

    Kang Tejo pun hanya bisa tersenyum dan merunduk mendengar ajakan pemuda tersebut. Kang Tejo melanjutkan perjalanannya menuju ke sawah. Sawahnya sudah lama di bayang-bayangi kemarau panjang, sehingga tak banyak yang ia lakukan di sawah. Hanya sekedar mengecek tanaman cabai dan sedikit memberi semprotan pembasmi hama.

    Setelah di rasa tak ada lagi yang harus di kerjakan, ia pun bergegas pulang. Ketika langkah kakinya sampai di pinggir jalan balai desa, kang Tejo pun terhenti sambil memandangi halaman balai desa itu. Suasana di balai desa terlihat ramai, warga kampung silih berganti berdatangan. Dari pemuda kampung sampai ibu-ibu berduyun-duyun masuk ke halaman balai desa. Kang Tejo pun bertanya pada salah satu ibu-ibu yang datang..

    "Mbok, ini ada apa?", tanya kang Tejo

    "Kang Dasman, saudaranya pak lurah lagi sosialisasi mau nyaleg kang... Ayo masuk saja kang, lumayan dapat uang 50 ribu+nasi uduk dan ada acara dangdutnya pula."

    Ibu-ibu itu pun segera lari masuk ke halaman balai desa, kang Tejo berdiri terdiam di pinggir jalan balai desa sambil menatap ke arah halaman balai desa itu. Ternyata benar apa yang dikatakan pemuda itu tadi pagi. Dan akhirnya kang Tejo pun memilih untuk masuk ke halaman balai desa, ia berdiri di tengah kerumunan warga yang menyaksikan sosialisasi tersebut. Nampaknya acara baru saja di buka.

    Dan sepertinya acara ini sengaja di gelar sangat meriah, terdapat panggung yang di penuhi peralatan musik dari organ, gitar, seruling sampai gendang serta podium kecil berdiri di sebelah kirinya. Tiba-tiba para warga berteriak ingin acara musik dangdutnya segera di mulai. Teriakan warga semakin kencang ketika MC masih tetap terus bercuap-cuap. Permintaan warga pun segera di penuhi, musik dangdut pun segera berdendang. Selang 4 lagu dangdut berkumandang, para warga kembali berteriak. Kali ini para warga berteriak untuk meminta uang 50 ribu+nasi uduk yang di janjikan oleh panitia penyelenggara. Akhirnya apa boleh buat, panitia penyelenggara pun membagikan uang 50 ribu+nasi uduk yang sebenarnya di bagikan di akhir acara.

    Warga pun berebut uang tersebut dan nasi uduk, suasana semakin sesak dan berjejalan. Setelah panitia selesai membagikan uang dan nasi, kang Dasman pun naik ke atas panggung. Dan MC pun menghimbau kepada audience bahwa acara inti akan segera di mulai. Kang Dasman pun membuka pidatonya dengan ucapan salam. Tak sempat menyampaikan banyak isi pidatonya, warga satu per satu meninggalkan acara itu.

    Halaman balai desa terlihat semakin lengang bahkan sudah tak ada lagi kerumunan. Panitia penyelenggara pun kebingungan, mencoba menghentikan langkah warga yang berhamburan pulang. Namun usahanya percuma, warga tak mau di bujuk untuk kembali ke balai desa. Melihat tak ada audience yang mendengar pidatonya, kang Dasman akhirnya turun dari panggung dan menghampiri panitia penyelenggara. Dengan nada kecewa ia berkata..

    "Kok acaranya jadi berantakan seperti ini?", ungkap kang Dasman kepada panitia penyelenggara

    "Ini di luar konsep yang di rencanakan pak"

    "Ahhhh.... Goblok kalian.. Payah..."

    "Kami tak bisa berbuat apa-apa pak, setelah acara musik dangdut dan pembagian uang dan nasi warga berduyun-duyun pulang. Kami sudah berusaha mencegahnya pak, tapi sulit"

    "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Saya belum menyampaikan isi kampanye saya"

    "Bagaimana jika bapak siapkan uang dan nasi lagi, agar warga mau datang kembali ke sini"

    "Kalau urusannya seperti ini, bisa bangkrut saya"

    Akhirnya acara pun mendadak bubar berantakan, kang Dasman pulang dengan hati yang sangat kecewa. Rancananya gagal total, ia tak berhasil menarik simpati warga. Terlihat di pnggir jalan kang Tejo melangkahkan kakinya, tiba-tiba di tengah jalan ia bertemu sekumpulan warga yang sedang berbincang-bincang di warung kopi. Ia pun beranjak ke warung itu dan salah satu warga menyapanya..

    "Kang, habis dari balai desa ya?", saut  orang itu kepada kang Tajo

    "Ya ini, tapi acara belum selesai kok orang-orang sudah pada bubar yah"

    "Lah emangnya mau ngapain lagi kang? Kita suruh dengerin dia ngomong? Kita sudah bosen kang di kasih janji ini janji itu, janjinya sih enak-enak kang tapi kalau dia sudah jadi pejabat mana dia ingat sama orang kecil kaya kita? Yang ada dia cuma besarin perutnya saja!

    "Lah terus sampeyan menjagokan siapa?"

    "Kang... Kang... Nyoblos gak nyoblos sama saja, nasib tetep sengsara. Harga sembako naik, anak sekolah bayarannya mahal, harga pupuk mahal, harga bibit mahal dan hasil panen kita di hargai murah karena kalah saing dengan barang impor. Gimana kita mau sejahtera? Kita masih mau bertani saja untung"

    "Saya juga heran, sebenarnya pejabat-pejabat itu mewakili siapa yah? Katanya wakil rakyat tapi tidak pernah merasa jadi wakil rakyat. Jangan-jangan cuma mewakili dirinya sendiri dan orang yang kasih modal kampanye"

    "Kang... Kang... Sekarang orang jadi pejabat memang mau kaya kang. Habis banyak duit tidak masalah, yang penting balik modal. Boro-boro mikirin rakyat, sesudah jadi pejabat yang ada sawah di sulap jadi hotel, jadi Mall"

    "Saya tambah bingung mau memilih siapa"

    "Bukannya saya tidak mau milih kang, tapi apa ada pilihan yang bener? Yang bisa kasih jaminan hidup kita?"

    "Nah itu, yang bikin saya bingung..."

    Kang Tejo pun tak kunjung menemukan pilihannya, ia semakin bingung ketika di hadapkan pada realita wakil rakyat yang tak bisa ia percayakan nasibnya begitu saja kepadanya. Harapan kang Tejo akan hidupnya yang lebih baik tak lagi menjadi harapan. Ia tak mau harapannya yang besar di gantikan dengan uang recehan dan nasi uduk. Hatinya terombang-ambing di antara tuntutan untuk memilih dengan realita wakil rakyat yang tak lagi menjadi wakil rakyat. Hari mulai sore, di tengah kegelisahan hatinya ia mengakhiri perbincangannya dan memilih untuk pulang. Ia pun tak tahu harus berbuat apa di pemilihan umum nanti. Ia tak tahu hari depan akan berkata apa pada dirinya. Mungkinkah ia harus menunggu ramalan jayabaya? atau menunggu datangnya sang Ratu Adil untuk merubah nasibnya?

     

    Berdirinya DMAB dan LABB, Upaya Perkuat Eksistensi Masyarakat Batak Kedepan
    Minggu, 16 Desember 2018

    Foto:Para Inisiator, Pengurus DMAB dan LABB bersama peserta KOPI, JAKARTA Terbentuknya Dewan Mangaraja Adat Batak (DMAB) dan Lembaga Adat Budaya Batak (LABB), dimaksudkan untuk membantu memperkuat posisi kebersamaan dan eksistensi Bangso (masyarakat) Batak dimasa mendatang. Keinginan luhur ini menjadi sebuah harapan yang jauh ke depan, akibat makin banyaknya problem yang terjadi di masyarakat Batak khususnya, dipandang dari berbagai aspek... Baca selengkapnya...

    Perintah Ketum Golkar Airlangga Hartarto: Kader Dukung Menangkan Capres JKW- Maruf Amin
    Minggu, 16 Desember 2018

    KOPI, Pekanbaru   Airlangga Hartarto datang  beserta rombongannya sekitar jam 8 malam, mengenakan kemeja kuning lengan panjang disambut oleh ketua DPRD Propinsi Riau Hj. Septina Primawati Rusli.  Seribuan orang kader, simpatisan, Caleg (Calon Legislatif)  pengurus propinsi/kabupaten/kota Partai Golkar hadir saat itu  bertempat di Hotel Pangeran mendengarkan arahan dari ketumnya.   Dalam arahan ketua umumnya, partai Golkar adalah pendukung... Baca selengkapnya...

    Joko Widodo dan Prabowo Sama-sama Keturunan Tionghoa
    Rabu, 12 Desember 2018

    KOPI, Jakarta – Fakta, Prabowo Subianto adalah Warga Keturunan Cina/Tionghoa dan Penganut Agama Kristen. Pertama yang perlu diketahui adalah Fakta ini tidak bermaksud mendiskreditkan agama atau suku dan ras tertentu yang ada di Indonesia. Saya (red.Didi) secara pribadi sebenarnya bangga karena masih banyak masyarakat muslim yang menjadikan Prabowo yang merupakan warga keturunan Tionghoa sebagai idola dan panutan mereka meskipun Ayah Prabowo... Baca selengkapnya...

    Dulu Prabowo Teriak Anti Aseng - Asing, Kini Malah Merapat
    Minggu, 09 Desember 2018

    KOPI, Jakarta - Kehadiran Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dalam pertemuan dengan pengusaha Tionghoa Indonesia di sebuah hotel di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat, Jumat (7/12/18) malam, mendapat sorotan dari Ketua Fraksi Hanura, Inas N Zubir. Inas menyebut Purnawirawan Jenderal bintang tiga itu semakin jinak terhadap asing dan aseng. "Ia juga kerap berteriak, 'Apa kalian mau dipimpin antek asing' atau 'Kekayaan negeri... Baca selengkapnya...

    Kunjungan Ketum Partai Nasdem ke Riau
    Minggu, 09 Desember 2018

    KOPI, Pekanbaru -  Ketua Umum (Ketum) Partai Nasional Demokrat nama bekennya Nasdem H. Surya Paloh melakukan kunjungan kerja  ke propinsi Riau, Sabtu ( 9 Desember 2018 )  .  Ribuan  kaderya  berasal dari dua belas kabupaten /kota se Riau hadir saat itu .   Surya Paloh  datang sekira jam 15: 30 WIB memakai baju stelan safari hitam, serta lansung memberikan hormat. Penyambutan kedatangan rombongan ketua umumnya oleh Iskandar Husein ketua... Baca selengkapnya...

    Pengamat : Perlukah BPJS Kesehatan Kita Bubarkan
    Jumat, 07 Desember 2018

    KOPI, Bogor – Pasal 34 (Undang-Undang Dasar) UUD 1945 menyebutkan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Kini negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dan memberdayakan yang lemah dan tidak mampu sesuai martabat dan kemanusiaan serta negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.   Ditempat kerjanya, Kangmas Sutisyoso... Baca selengkapnya...

    Hari Disabilitas Internasional 2018
    Selasa, 04 Desember 2018

    KOPI-Jakarta, Setiap tahun diperingati hari Disabilitas Internasional. Kegiatan ini diperingati setiap tanggal 3 Desember. Peringatan ini bertujuan untuk mengembangkan wawasan masyarakat akan persoalan-persoalan yang terjadi berkaitan dengan kehidupan para penyandang cacat. Pemerintah kali ini mengangkat tema "Indonesia Inklusi dan Ramah Disabilitas," sedangkan PBB (Perserikatan Bangsa-bangsa mengambil tema dengan "Memberdayakan penyandang... Baca selengkapnya...

    INTERNASIONALNetanyahu Suap Media, Beritakan yang Po.....
    05/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Israel – Hari Minggu (2/12), kepolisian Israel dan Otoritas Keamanan Israel menyatakan bahwa terdapat cukup bukti bahwa Netanyahu dan istrinya [ ... ]



    NASIONALPresiden Jokowi Kunker ke Aceh.....
    12/12/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI,Jakarta, Memasuki akhir tahun 2018 maka Presiden Indonesia Joko Widodo akan mengunjungi bumi Serambi Mekkah di Banda Aceh. Sesuai jadwal yan [ ... ]



    DAERAHTahun 2018, KIP Riau Menyelesaikan 62 S.....
    05/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Provinsi Riau Zufra Irwan menyebutkan. Pihaknya telah menyelesaikan sebanyak 62 sengketa infor [ ... ]



    PENDIDIKANProtes Pemilihan Rektor, Mahasiswa UMRI .....
    14/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Ratusan mahasiswa –mahasiswi Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) melakukan aksi demontrasi , Senen (11-12-2018) di gedung rekto [ ... ]



    EKONOMITingkatkan Layanan BNI Syariah Banda Ace.....
    17/12/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta, Bila Anda berjalan di kawasan simpang lima Banda Aceh maka akan terlihat sebuah gedung baru milik Bank BNI Syariah. Beberapa hari ya [ ... ]



    OLAHRAGAIPSI Banda Aceh Target 4 Mendali Emas.....
    09/11/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta,Banyak olahraga yang digemari oleh setiap orang. Salah satunya adalah cabang olahraga pencak silat. Wadah yang menaunggi pencak silat [ ... ]



    PARIWISATAKunjungan Turis Mancanegara ke Riau .....
    04/09/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru – Ditempat kerjanya, sebut saja namanya Aji Sulung mengatakan “ Program promosi Pariwisata dan event lainnya yang diadakan oleh D [ ... ]



    HUKUM & KRIMINALOmbudsman RI Anugerahkan Predikat Kepatu.....
    12/12/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta, Pemerintah Aceh bersama Kabupaten Aceh Besar, Aceh Barat, Abdya, Bener Meriah, dan Kota Langsa mendapat penghargaan kepatuhan pemenuhan  [ ... ]



    POLITIKBappilu Partai Golkar Riau : Tandem Sak.....
    15/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Badan Pemenangan Pemilu  (Bappilu) Partai Golkar Propinsi Riau, pemilihan umum  serentak , pada 17 April 2019 nanti akan menggand [ ... ]



    OPINIPromosi Jabatan Cepat Para Pati TNI,.....
    03/12/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta – Ditempat Kerjanya, Kangmas Sutisyoso menyatakan “ Ingin jabatan strategis setingkat (Panglima, Kapolri, Kasad, Kasal, Ksau ,dll) p [ ... ]



    PROFILKompol Arvin Haryadi Jabat Kapolsek Si.....
    25/10/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Siak Hulu - Pisah sambut Kapolsek Siak Hulu dari Kompol Dedi Suryadi kepada Kompol Arvin Haryadi, S.ik, SH bertempat di Mapolsek Siak Hulu, keca [ ... ]



    ROHANIKanwil Kemenag Riau H. Ahmad Supardi Mut.....
    10/10/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Jakarta - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin hari, Jumat (05/10) melantik M Nur kholis Setiawan sebagai Sekretaris Jenderal Kementerian Agama [ ... ]



    RESENSIHeboh Buku Fire and Furry Ungkap “ D.....
    05/01/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Washington DC- Heboh buku Fire and Fury ungkap “Dapur Gedung Putih” Menjelang Pemilu Pilres Amerika Serikat . Dilansir dari The Guardian, R [ ... ]



    CERPEN & CERBUNGSuami Genjot ecak, Istri Malah Kena Genj.....
    08/10/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI - Memang tak ada undang-undang yang melarang tukang becak beristri cantik, karena semua itu tergantung rejeki dan kelihaian lobi masing-masing. M [ ... ]



    PUISIMenatap Rasa.....
    07/06/2017 | Mas Ade

    Masih di bulan Juni Angin mendatangi jendelaku Bisikkan rindu yang basah Oleh hujan bulan Mei Meski embun tetap nyenyak dalam tidurnya Mendekap s [ ... ]



    CURAHAN HATIWaspada !.. Modus Penipuan Wajah Palsu, .....
    28/11/2018 | Didi Rinaldo

    KOPI, Pekanbaru - Beraneka macam modus penipuan muncul era digitalisasi ini. Sasaran utama adalah oknum orang yang  melek/tak bisa memakai internet y [ ... ]



    SERBA-SERBIJumpa Media Akhir Tahun 2018 di Kyriad M.....
    17/12/2018 | Rachmad Yuliadi Nasir

    KOPI-Jakarta, Memasuki minggu-minggu terakhir di bulan Desember 2018 maka Kyriad Muraya Hotel Aceh mengundang sejumlah media yang ada di seputaran kot [ ... ]



    Copyright © 2008-2013 Pewarta Indonesia. All Rights Reserved.