Oleh: Rudi Sinaba
KOPI, Palopo – Malam itu, hutan tampak muram, seolah menyimpan duka yang tak mampu ia tanggung. Burung-burung telah terbang jauh, suara jangkrik pun nyaris hilang. Alam ini, yang pernah menjadi surga bagi para penghuninya, kini berubah menjadi arena keserakahan manusia. Di bawah naungan bulan yang redup, para penghuni alam berkumpul di tengah padang kecil. Mereka adalah saksi-saksi bisu dari kerusakan yang semakin meluas, memutuskan untuk berbicara, meski tahu bahwa suara mereka takkan terdengar oleh manusia.
Pohon Tua, penjaga hutan yang kokoh dan bijaksana, membuka percakapan: “Selama lebih dari seratus tahun aku berdiri di sini. Aku telah melihat generasi demi generasi berlalu. Daun-daunku memberi udara segar, akarku menahan tanah agar tak longsor, dan tubuhku menjadi tempat berlindung burung-burung. Tapi kini, tubuhku dilukai gergaji, akarku kehilangan pijakan. Manusia datang membawa kehancuran, menganggapku tak lebih dari kayu mati.”
Burung Elang, sang pengawas langit, menyahut dari atas cabang yang tersisa: “Aku terbang tinggi setiap hari, menyaksikan hutan ini dari atas. Aku ingat ketika pohon-pohon menjulang tinggi dan hijau, tempatku bertengger dan berburu. Tapi kini? Yang kulihat hanyalah kebun-kebun kelapa sawit, tanah gundul, dan asap membumbung tinggi, menghancurkan langit biruku.”
Rusa, penghuni darat yang lincah namun kini kehilangan tempat berlari, menundukkan kepala: “Aku terus berlari, mencari tempat aman, tapi ke mana? Hutan ini semakin sempit. Manusia memburuku, menjebakku dengan jerat mereka. Aku hanyalah makhluk kecil yang ingin hidup, tapi mereka menjadikan tubuhku barang dagangan.”
Kupu-Kupu, sang pembawa keindahan, terbang rendah dengan sayap yang lemah:”Dahulu, aku hinggap di bunga-bunga yang indah, bermain dengan angin. Tapi kini bunga-bunga itu hilang, tergantikan beton dan aspal. Rumahku musnah, dan aku tak tahu ke mana harus pergi.”
Lebah, pekerja keras yang menjaga keseimbangan ekosistem, berkata lirih: “Aku mengumpulkan nektar untuk hidupku, juga untuk mereka. Aku membantu tanaman mereka berbuah, tapi mereka meracuni bunga-bunga yang menjadi sumber makananku. Jika aku lenyap, tanaman mereka pun akan mati. Tapi mereka tetap tak peduli.”
Sungai, pembawa kehidupan yang mengalir melalui hutan, mengeluarkan suara keruh: “Dulu aku jernih, menjadi sumber kehidupan bagi semua makhluk. Tapi sekarang? Airku penuh racun dan limbah. Manusia mencemari tubuhku, namun tetap meminumku. Aku takut, suatu hari aku tak lagi bisa menghidupi siapa pun.”
Katak, penyanyi malam yang setia menjaga rawa, bersuara serak: “Rawa-rawa yang menjadi rumahku mereka keringkan, dijadikan sawah atau gedung. Mereka menyebutku tak berguna, tapi aku menjaga keseimbangan alam di sini. Kini aku hanya bisa bernyanyi sendirian, tanpa ada yang mendengar.”
Cacing Tanah, penjaga kesuburan tanah, menggeliat lemah di balik dedaunan: “Aku adalah makhluk kecil yang bekerja tanpa pamrih, menggemburkan tanah untuk mereka bercocok tanam. Tapi racun-racun dari pupuk mereka membunuhku perlahan. Mereka lupa bahwa aku adalah bagian penting dari siklus kehidupan mereka.”
Burung Hantu, penjaga malam yang bijak, mengangguk dari tempat persembunyiannya: “Dulu malam adalah milikku, penuh misteri dan ketenangan. Tapi sekarang, lampu-lampu mereka membuat malam kehilangan gelapnya. Aku terganggu, dan mangsaku pun menjauh. Mereka tak peduli pada ritme hidup kami.”
Ikan di Sungai, saksi dari tercemarnya air, berenang dengan susah payah: “Aku hidup di air yang dulu sejuk dan bersih. Tapi kini, aku berenang di antara limbah dan sampah. Teman-temanku mati mengambang, perut mereka penuh plastik. Manusia terus menangkap kami tanpa henti, bahkan sebelum kami sempat berkembang biak. Mereka lupa bahwa lautan dan sungai ini bukan hanya milik mereka.”
Semut, pekerja kecil yang tak kenal lelah, berdiri di ujung sebatang rumput: “Aku kecil, hampir tak terlihat. Tapi aku bekerja keras menjaga keseimbangan ekosistem. Kami mengolah sisa-sisa makanan, mengurai daun yang gugur, dan membantu menyuburkan tanah. Namun, manusia mencemari tanah dengan bahan kimia, membunuh kami tanpa sadar. Mereka tak tahu, jika kami hilang, bumi mereka juga akan kesulitan.”
Batu Karang, penjaga laut yang tangguh, bergumam dari kedalaman: “Dulu aku adalah rumah bagi ribuan makhluk laut. Tapi mereka merusak tubuhku dengan dinamit dan jaring besar. Air laut yang dulu jernih kini keruh oleh minyak dan sampah. Jika aku hancur, ikan-ikan kehilangan rumah mereka, dan laut kehilangan kehidupannya.”
Pohon Muda, yang baru bertunas, menyuarakan harapan kecilnya: “Aku baru saja tumbuh, mencoba menjadi besar seperti Pohon Tua. Tapi sebelum aku sempat memberi manfaat, mereka mencabutku. Aku hanya ingin hidup, memberi udara untuk mereka. Tapi mereka tak memberiku kesempatan.”
Angin, pembawa pesan dari alam, berembus perlahan: “Aku selalu membawa kesejukan, menyebarkan benih, dan mengusir panas. Namun kini, udara yang kubawa tercemar asap dan racun. Mereka merusak keseimbangan yang kugunakan untuk menjaga bumi ini tetap nyaman.”
Kumbang, pekerja tanah yang tekun, berbisik: “Aku membantu mengurai sisa-sisa organik, membuat tanah menjadi subur. Tapi tanah yang keras dan penuh polusi kini membuatku sulit bekerja. Aku kecil, tapi kehilanganku akan membuat rantai kehidupan terganggu.”
Bulan, yang menyaksikan dari atas, berbicara dengan lirih: “Aku menyinari bumi di malam hari, menjaga irama alam dengan pasang surut air laut. Tapi cahaya lampu manusia mulai menutupi keberadaanku. Aku khawatir, keindahan malam akan menjadi kenangan.”
Ular, yang hidup dalam keheningan, mendesis perlahan: “Aku tak pernah menyerang mereka kecuali untuk bertahan hidup. Tapi mereka memburuku tanpa alasan, membunuhku hanya karena aku terlihat menakutkan. Aku adalah bagian dari rantai makanan yang mereka butuhkan, tapi mereka ingin aku hilang.”
Burung Camar, yang terbang di atas laut, berkicau lirih: “Dulu aku bebas bermain di angin, mencari makan di pantai. Tapi kini, lautan penuh sampah, pantai penuh polusi. Sayapku tak lagi bisa mengepak dengan bebas.”
Pohon Tua kembali berbicara, memandang para penghuni alam lainnya: “Kita semua terluka, kehilangan tempat, dan perlahan mati. Tapi kita tak bisa melawan. Manusia terlalu kuat, terlalu serakah. Tapi mereka lupa satu hal: alam selalu punya cara untuk membalas. Kita hanya perlu menunggu.”
Burung Elang mengangguk setuju: “Waktu akan membuktikan. Ketika mereka kehilangan segalanya—air, udara, dan makanan—mereka akan sadar bahwa mereka tak bisa hidup tanpa kita. Tapi aku takut, kesadaran itu datang terlambat.”
Percakapan itu berakhir, tapi kesunyian hutan kini penuh makna. Para penghuni alam tahu, suara mereka takkan didengar oleh manusia. Namun, mereka yakin bahwa hukum alam tak pernah meleset.
Di langit, awan mulai menggumpal, membawa ancaman badai. Mungkin ini hanya awal dari peringatan. Ketika manusia terus melanggar batas-batas keseimbangan, alam akan bertindak. Bukan karena dendam, tapi untuk memulihkan apa yang rusak.
Di tengah malam itu, para penghuni alam menyimpan keyakinan: suatu hari, manusia akan menyesal. Tapi mereka juga berharap, semoga penyesalan itu tak datang ketika semuanya sudah terlambat.(*)
Comment