by

Penat dalam Diam

Oleh: Rudi Sinaba

Penat merayap di sudut jiwa,
seperti bayang-bayang malam yang enggan sirna.
Kata-kata kususun, tak kunjung sempurna,
seolah tinta kehilangan maknanya.

Langit menggulung warna senja,
mengajakku bertanya tentang lelah yang ada.
Apakah ini luka atau sekadar jeda?
Ataukah rindu yang tak bernama?

Namun, di tengah pekatnya rasa,
ada desir angin menyapa mesra.
Membisikkan janji pada sang pena,
bahwa karya tak pernah sia-sia.

Maka kutemukan terang dalam letih,
puisi ini adalah nafas yang lirih.
Merangkai kata di batas sunyi,
menjadi pelipur bagi hati yang sunyi.

Dalam diam, aku bercakap pada waktu,
bertanya tentang mimpi yang perlahan layu.
Haruskah kulanjutkan langkahku?
Atau berhenti, memberi ruang pada diriku?

Lembar-lembar malam terurai perlahan,
bersama sisa tenaga yang kugenggam.
Menapak jalan yang penuh beban,
hanya berbekal harapan yang kusimpan.

Penat ini adalah guru yang setia,
mengajarkan arti sabar tanpa cela.
Bahwa setiap tetes keringat yang ada,
adalah batu pijakan menuju bahagia.

Kutatap gelap yang tak lagi pekat,
ada cahaya kecil yang perlahan mendekat.
Mengingatkanku bahwa perjalanan berat,
adalah seni hidup yang penuh hikmat.

Angin malam menyelimuti tubuh yang lemah,
namun tak memadamkan api semangat yang merekah.
Sebab di balik setiap kelelahan yang menyerah,
tersimpan kekuatan yang tak pernah punah.

Penat hanyalah bayangan sementara,
yang menguji seberapa besar tekad manusia.
Dan aku, meski letih dan penuh tanya,
akan terus berjalan, melampaui ragu yang ada.

Malam bergulir, membawa rasa damai,
membisikkan kisah tentang asa yang tak surai.
Aku paham, penat ini bukanlah akhir,
tapi jeda, untuk merajut mimpi yang lebih mahir.

Penat adalah sunyi yang tak dapat dibagi,
seperti ombak yang tak pernah berhenti.
Ia datang tanpa janji,
dan pergi meninggalkan jejak tak kasat di hati.

Kadang, ia menyusup di sela tawa,
mengendap dalam riuh dunia.
Diam-diam menggurat luka,
namun memberi ruang untuk mengenal makna.

Dalam penat, kita temukan diri,
bersama lelah yang berbisik lirih.
Ia mengajarkan kita berdamai,
bahwa kekuatan tak selalu tentang menang melawan badai.

Penat bukan musuh yang harus dibenci,
melainkan teman yang mengajak berhenti.
Sejenak merenungi arti dari perjalanan ini,
agar esok langkah menjadi lebih berarti.

Kini aku berdiri di ujung sepi,
melihat cakrawala yang mulai bersemi.
Sadar bahwa penat adalah bagian dari diri,
yang menguatkan langkah menuju esok hari.

______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: [email protected]. Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA