by

K.H Mujiharno: Salat Lima Waktu Buah Perjalanan Isra Mikraj

-Berita, Daerah, Warta-1,238 views

KOPI, Bantul – Salat lima waktu merupakan buah perjalanan Isra Mikraj Rasulullah Muhammad Saw. Pada peristiwa inilah turun perintah Allah Swt agar umat Islam menunaikan salat. Isra Mikraj berlangsung di malam 27 Rajab, kurang lebih tahun kesepuluh kenabian. Sebuah perjalanan spiritual yang luar biasa guna memberikan dorongan dan motivasi Rasulullah mendakwahkan Islam.

Hal itu terungkap dalam pengajian akbar memperingati Isra Mikraj 1444 Hijriah yang digelar Masjid Kamaluddin, Krapyak Wetan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DIY, Jumat (17/02/2023) malam. Pengajian diisi oleh K.H Mujiharno, S.Ag, M.Ag dari Sleman.

Ia memaparkan bagaimana sejarah turunnya perintah salat dari sebuah perjalanan nabi ditemani malaikat Jibril, mulai Masjidil Haram Mekkah ke Masjidil Aqsa Palestina. Kemudian dari Masjidil Aqsa naik melewati tujuh langit dan bertemu para nabi yang pernah diutus. Selanjutnya Rasulullah sampai di tempat tertinggi, Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah hingga menerima perintah salat.

“Ibadah salat adalah inti kepatuhan dari seorang hamba Allah kepada penciptanya serta hubungan antar umat manusia. Salat akan memberikan pengaruh positif baik terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Isra Mikraj menjadi bukti mukjizat Rasulullah. Dan peristiwa tersebut diabadikan dalam Alquran surat Al-Isra ayat 1,” ujar K.H Mujiharno di hadapan ratusan jamaah dari Krapyak Wetan dan sekitarnya.

Salat terutama salat berjamaah, lanjut K.H Mujiharno, memiliki beberapa keutamaan. Allah menjanjikan  kemuliaan bagi umat Islam yang mau menjaga salatnya. Pertama, Allah menghilangkan kesempitan hidup baik di dunia maupun di akhirat.  Kedua, Allah menghindarkan siksa kubur bagi hambaNya.

Ketiga, menerima catatan amal dengan tangan kanan. Keempat, seorang hamba ketika melewati jembatan Siratul Mustaqim laksana kilat. Dan kelima, masuk surga tanpa dihisab.

“Karena itu, mari kita menjaga salat masing-masing agar kemuliaan yang dijanjikan Allah itu benar-benar dapat kita rasakan baik di dunia maupun di akhirat,” paparnya sambil menyitir hadis nabi mengenai kemuliaan salat.

Pengajian berlangsung khidmat. Sesekali diiringi canda tawa, karena K.H Mujiharno menyampaikan pengajian secara ringan dan jenaka, serta mampu membuat jamaah tidak merasa jenuh dengan materi yang dibawakan.

Pengajian yang disiarkan langsung melalui channel Kamaluddin TV diawali pembacaan ayat suci Alquran, diteruskan sambutan Ketua Takmir Masjid Kamaluddin, Ridwanul Musthofa, M.Pd dan Ketua Tanfidziyah Pimpinan Ranting Nahdhatul Ulama Panggungharjo, kiai Junaidi. Pengajiaan yang berakhir pukul 23.30 WIB ini juga diisi pembacaan maulidurrasul dari grup hadrah Bil Musthofa pimpinan ustaz Taufik.

______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: [email protected]. Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA