by

TNI dan Warga Sani Bahu Membahu, Rasa Sedih Keluarga Sondegau Sedikit Terobati

KOPI, Intan Jaya – Melalui radio, Lettu Inf Wira Wijaya alias Komandan Wira mengabarkan bahwa Bapak Stevanus Sondegau, Kepala Sekolah YPK (Yayasan Pendidikan Katolik) Bilogai yang juga merupakan Pendeta di Gereja Katholik, sedang kedukaan karena anaknya yang masih kuliah di Nabire meninggal dunia, Rabu (16/11/22).

Ternyata berita kedukaan keluarga Sondegau juga sudah didengar oleh masyarakat Fam Sani. Osea Sani, tokoh pemuda Mamba yang pada saat bersamaan sedang bersama Kapten Puji si Bos Mamba, Mayor Anjas, Kapten Suryo dan Lettu Jefri di Pos Satgas Elang, juga membahas tentang rencana masyarakat Mamba memberikan bantuan kedukaan ke Wandoga, kampungnya Bapak Stevanus Sondegau.

Osea Sani meminta bantuan dukungan kendaraan karena masyarakat Mamba telah mengumpulkan kayu bakar untuk dibawa ke rumah duka. Permohonan Osea Sani dipenuhi oleh Letkol Inf Ardiansyah, si Raja Aibon Kogila. Rombongan Komandan Wira yang awalnya akan langsung menuju Wandoga, terlebih dahulu berangkat ke Mamba, menaikkan kayu bakar ke truk, selanjutnya bersama-sama masyarakat Mamba menuju Wandoga.

Warga kampung Hengki Sani menunjukkan bahwa mereka semakin percaya kepada Apkam, khususnya Ksatria Tengkorak dan Satgas Elang. Tak ada rasa ragu lagi bagi mereka untuk duduk bersama di bak truk dengan Raja Aibon, Bos Mamba serta para prajurit. Ketulusan yang dirasakan selama beberapa Minggu terakhir ini, membuat warga Sani yakin bahwa Apkam di Intan Jaya, di bawah komando Raja Aibon Kogila akan membantu mereka agar bisa lebih sejahtera. Apalagi, Raja Aibon telah memberikan kesempatan kerja kepada para pemuda untuk mengumpulkan kayu bakar, selanjutnya akan dibayar oleh Raja Aibon demi keperluan memasak di Posramil.

Perjalanan dari Mamba menuju Wandoga tidak terlalu lama, hanya beberapa menit saja. Sepanjang perjalanan, Raja Aibon dan Bos Mamba asyik bersenda gurau dengan warga. Osea Sani bersama beberapa rekannya mengikuti dengan sepeda motor, diasapi semburan asap truk. Sesampai di Wandoga, terlihat kembali kebersamaan rombongan Raja Aibon dengan warga Sani. Laki-laki, perempuan bahkan anak-anak mengambil bagian, memikul batang kayu menuju rumah duka. Sedikit beras dan anggur kupu, ditenteng oleh prajurit.

“Di tas ada duit. Amplopin, tar kasiin ke Bapak Stevanus Sondegau. Lumayan buat tambahan. Soalnya bekal yang kita bawa cuman dikit. Liat tuh, masyarakat banyak banget,” bisik Raja Aibon kepada Letnan Kevin.

Beberapa warga yang sudah hadir di lokasi kedukaan memandang dengan wajah keheranan, melihat prajurit TNI memikul kayu bersama warga Sani, berjalan beriringan menuju rumah duka. Lebih dari 200 pasang mata memandang ke arah rombongan Raja Aibon. Terdengar suara sambutan khas dari beberapa warga menyambut kedatangan TNI bersama rombongan warga Sani.

“Hormat. Terima kasih banyak Bapak,” begitulah yang diucapkan oleh warga sambil menyalami rombongan Raja Aibon.

Letkol Inf Ardiansyah alias Raja Aibon Kogila didampingi Bos Mamba dan Komandan Wira kemudian meminta ijin bertemu dengan Bapak Stevanus Sondegau. Sambil menunggu Bapak Stevanus, rombongan Raja Aibon mendengar banyak cerita dari Kepala Distrik Sugapa, yang juga merupakan adik dari Bapak Stevanus. Ternyata, keluarga besar Sondegau ada juga yang menjadi anggota TNI, saat ini berdinas di Wamena.

Panjang lebar Kepala Distrik bercerita, sambung menyambung dengan Gembala Yakob Sondegau. Ramainya suasana siang itu karena mereka semua keluarga besar mendiang Oktavianus Sondegau, sang Kepala Suku Besar yang meninggal beberapa tahun lalu. Bapak Stevanus yang kemudian datang menemui rombongan Raja Aibon juga ikut menimpali.

“Hormat. Terima kasih banyak Bapak. Ini kami keluarga besar. Makanya banyak sekali masyarakat. Nanti, besok juga masih banyak yang akan datang ke sini. Ada dari seberang, Bulapa, Galunggama, Mimitapa. Jadi, minta tolong Bapak, nanti kalau ada malam-malam yang lewat, itu semua keluarga. Hormat,” ucap Bapak Stevanus Sondegau kepada Raja Aibon Kogila.

“Tidak apa-apa Bapak. Kami sudah mengerti. Saya sudah pelajari budaya di sini. Nanti teman-saya kasi tau semua. Tadi saya dapat kabar dari Osea, ada duka ini. Jadi kami sekalian ambil kayu dulu karena Osea dan teman-teman Mamba di sana sudah tumpuk kayu. Kita ambil kayu dulu, baru sama-sama kita bawa ke sini. Kalo jalan dari Mamba kan jauh toh, makanya kita naik truk dulu, sekalian kita bawa sini sama-sama. Misalnya nanti kalo ada apa-apa, bilang saja, kita saling bantu semua.” Jelas Raja Aibon Kogila kepada Bapak Stevanus Sondegau.

Lama berbicara sambil bercerita dan menyampaikan rasa duka, tak terasa hujan turun rintik-rintik. Sesuai rencana Raja Aibon dan Kapten Puji si Bos Mamba, rombongan juga tidak akan berlama-lama di Wandoga, mengingat
keluarga besar mereka yang menjadi bagian dari KST, pastinya berada di sekitar rumah duka, atau tidak menutup kemungkinan saat itu bergabung bersama masyarakat. Raja Aibon dan rombongan kemudian pamit kembali. Osea Sani dan rombongan warga Sani menyampaikan bahwa mereka akan tetap tinggal bersama keluarga duka.

Tak tahu, apa yang dibicarakan masyarakat Wandoga pasca ditinggal pergi oleh Raja Aibon dan rombongan. Tentunya mereka akan bertanya-tanya, siapa Raja Aibon. Apalagi selama dua bulan ini, para Prajurit TNI di bawah Pimpinan Raja Aibon Kogila telah banyak membuat hal-hal yang mungkin selama ini tidak mereka rasakan. Yang pasti, para Ksatria Kostrad dari Karawang, akan selalu hadir, menunjukkan Dharma Bhakti kepada Ibu Pertiwi, di tengah-tengah masyarakat Intan Jaya. (DJ/Penerangan YPR 305)

______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: [email protected] Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA