by

Anak-anak Mamba Bawah dan Mama Tua Kesayangan Raja Aibon

KOPI, Intan Jaya – “Pasti cari Bapa Pater kan? Tunggu sudah. Bapa Pater ada. Sebentar kembali dari Kampung Amaesiga,” Raja Aibon dengan ramah menyapa Yulince Sani dan kawan-kawan ketika tiba di Pos Mamba.

Seperti biasa, setiap pulang sekolah, sebelum kembali ke rumahnya di Mamba Bawah, Yulince dan teman-temannya selalu singgah di Pos Mamba. Kebetulan pada siang ini, Bapa Pater masih berada di Kampung Amaesiga bersama dengan Lettu Imam Sembiring, si Bos Mamba. Untuk menenangkan Yulince dan teman-temannya, Raja Aibon menawarkan kepada mereka untuk ikut menanam rumput di taman bersama dengan Om Erick dan Om Jul. Tak ketinggalan, Serka Maldi, Batih Pos si Pendiam, ikut nimbrung tanpa suara.

“Boleh tanam di sini,” tanya Ria Sani sambil memegang rumput.

Yulince, Ria dan kawan-kawan kemudian menemani Erick, Jul dan Maldi yang sedang membuat Taman Para di depan Pos Mamba. Sementara Antonius bermain bola. Saat melihat Praka Latief dan Syaeful membawa makan siang ke kelas lapangan, anak-anak senang sekali, meskipun hanya berlaukkan Mie Instan. Apalagi Raja Aibon membagikan gula-gula dan cokelat kepada mereka. Bahagia sekali rasanya.

Ketika anak-anak yang semuanya berasal dari Kampung Mamba Bawah selesai makan, datang Mama Tua bersama cucunya, Loison Sani membawa Ubi, kol dan buah, special untuk Raja Aibon. Kepada Raja Aibon, dengan bahasa Indonesia terbata-bata, Mama Tua bercerita kalau beberapa hari ini dirinya sakit, sehingga lama tidak datang. Mama Tua kemudian menunjukkan dompetnya kepada Raja, dan berkata, “Kosong, tidak ada uang.”

Terharu sekali rasanya melihat sang Mama Tua yang hanya hidup di honei dengan cucunya, dalam kondisi kesehatan yang kurang baik, mengeluh karena tidak mempunyai uang untuk sekedar membeli beras. Ditambah lagi, sang Mama Tua datang ke Pos tidak kosongan, melainkan membawa hasil kebun yang sejatinya bisa dimakan sendiri.

“Nenek tenang saja. Nanti dompet saya isi,” jawab Raja Aibon menenangkan sang Mama.

Raja Aibon kemudian masuk ke kamar, mengambil kembali gula-gula dan cokelat karena anak-anak semakin ramai. Tidak lupa, Raja Aibon meminta Serda Aris menyiapkan beras dan mie instan untuk diberikan kepada sang Mama Tua.

“Mama, dompet mana?” tanya Raja Aibon kepada nenek sekembalinya dari kamar.

Terlihat mata Mama Tua berkaca-kaca ketika beberapa lembar uang dimasukan oleh Raja Aibon ke dompetnya. Beras dan Mie Instan yang dibawa oleh Aris juga dimasukkan ke dalam Noken Mama Tua.

“Amazamba, Tuhan berkati.” berulang-ulang Mama Tua mengucap sambil mengelus-elus pipi dan dagu Raja Aibon.

Raja Aibon yang tak kuasa menahan haru, mencoba mengalihkan pembicaraan. Anak-anak yang sedang bermain kemudian dipanggil untuk diajak berfoto ria. Betapa senangnya anak-anak. Mama Tua juga ikut-ikutan bergaya, mencoba melepas rasa lelah, sakit dan sedih dengan kondisi kehidupannya.

Mama Tua kemudian pamit untuk kembali ke honei. Sambil memasangkan noken di kepalanya, sampai mulai berjalan meninggalkan Pos Mamba, kembali Mama Tua mengucapkan terima kasih kepada Raja Aibon. Diakhir cerita, Maldi dan Erick menemani anak-anak belajar. Setelah belajar, Raja Aibon dengan riangnya bermain lompat karet bersama Ria Sani dan teman-temannya.

Bahagia selalu Mama Tua. Bahagia selalu anak-anak Intan Jaya. Ksatria Kostrad akan selalu ada untuk kalian semua. (DJ/ Penerangan YPR 305)

______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: [email protected] Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA