by

Tingkatkan Pengetahuan Petani Melalui Workshop Nasional Kakao di Kabupaten Jembrana

KOPI, Jembrana – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jembrana bekerjasama dengan Konsorsium (Rainforest Alliance, Rikolto, Valrhona, dan Kalimajari) menyelenggarakan Workshop Konsolidasi Nasional untuk Fermentasi Biji Kakao bertempat di Hotel Puri Dajuma Desa Pekutatan, Kabupaten Jembrana, Bali, Kamis (7/4/2022). Warkshop tersebut bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap petani dalam pengelolaan usaha tani kakao.

Pertemuan (Warkshop) tersebut dihadiri Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, I Wayan Sutama mewakili Bupati Jembrana, Ketua Komisi II, I Ketut Suastika Yasa mewakili Ketua DPRD Jembrana, Direktur Rainforest Alliance, Perwakilan Rikolto dari Belgia International NGO (non governmental organization), Perwakilan Valrhona sebagai pembeli biji kakao permentasi dan produsen coklat bermutu tinggi, Direktur NGO Kalimajari Bali, serta utusan Pemkab Kabupaten Sikka, Ende, Kolaka Timur, Luwu Utara dan Poso.

Kabupaten Jembrana telah berhasil melakukan ekspor biji kakao permentasi yang bermutu baik, berbagai upaya yang telah dilakukan petani kakao Jembrana tersebut akan disharing kepada utusan Pemerintah Daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sulawasi yang hadir. Harapannya, apa yang telah dinikmati petani kakao Jembrana saat ini dengan harga jual yang bagus dan mutu yang sangat baik juga bisa dinikmati oleh petani kakao di NTT dan Sulawesi. 

Pemkab Jembrana menjadi keterwakilan Pemerintah Indonesia dalam keseriusan meningkatkan mutu biji kakao, tidak hanya berkomitmen tapi juga memberikan dukungan nyata, bagaimana pengembangan kakao yang ada di Jembrana. Ditarget 13.600 petani dan keluarganya yang di Wilayah NTT dan Sulawesi dapat ditingkatkan pendapatannya, yang bisa diperoleh dari peningkatan produksi, peningkatan harga dan mutu.

Dari hasil workshop ini, diharapkan nantinya akan banyak varian kakao yang unik rasanya muncul menjadi produk kakao spesial, hanya diproduksi dari daerah tersebut. Sehingga, semua pembeli kakao berburu dan ketika berburu tentu harga akan semakin bersaing.

Bupati Tamba dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Dinas Pertanian dan Pangan, I Wayan Sutama menyampaikan rasa syukurnya atas terlaksananya kegiatan ini dan dukungan intensif kepada petani kakao Jembrana, “Kami ingin menyampaikan rasa syukur kami, bahwa saudara semuanya tetap berkomitmen untuk memberikan dukungan dalam bentuk bimbingan dan pendampingan secara intensif, terkait budidaya komoditi kakao di Kabupaten Jembrana,” ucap Kadis Pertanian dan Pangan I Wayan Sutama.

Lebih lanjut Kadis Pertanian dan Pangan menjelaskan bahwa, melalui workshop ini, dapat dijadikan moment strategis dalam pengembangan sektor perkebunan dalam arti luas berdasarkan masalah yang dihadapi oleh petani kecil. “Kami harapkan benar-benar dapat dijadikan moment strategis bahwa, kita tidak berjuang sendiri.”

“Kita berjuang bersama-sama agar kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan pesan menggunakan alih teknologi informasi kepada Pemkab dan pemangku kepentingan lainnya serta memahami dengan baik implementasi dan strategi dalam pengembangan sektor perkebunan, berdasarkan masalah yang dihadapi oleh petani kecil, dapat terlaksana dengan baik dan mampu memberikan manfaat kepada kita semua,” jelas Kadis Pertanian dan Pangan I Wayan Sutama.

Sementara Country Director Rainforest Alliance Putra Agung saat di temui awak media Pewarta Indonesia, usai acara pembukaan menyampaikan bahwa ia fokus dalam kegiatan tersebut, yaitu belajar bersama antar daerah berbagai macam pengalaman yang dihadapi di lapangan dan mendorong permentasi biji kakao. “Sebenarnya fokus dalam kegiatan hari ini, itu cross learning (belajar bersama) karena kita punya areal berbeda-beda, dari dua provinsi yang hadir di Bali, yaitu, NTT dan Sulawesi, dan berbagai macam pengalaman yang ditemukan di lapangan dalam mendorong permentasi biji kakao,” ucap Putra Agung.

Terkait harapannya Putra Agung mengungkapkan bahwa mengenai perkembangan produk kakao, tentang peningkatan mutu dalam upaya penerapan good agricultural practice yang bisa menekan biaya produksi, sehingga keuntungan yang diperoleh petani semakin tinggi, “Harapan kami, adanya peningkatan mutu sehingga kakao kita lebih dihargai lagi di pasar global.”

“Untuk peningkatan mutu tentu harus ada upaya, kita mendorong untuk bersama-sama berupaya bagaimana peningkatan mutu itu bisa terjadi dan penerapan good agricultural practice itu bisa menekan biaya produksi, sehingga margin keuntungan besar itu ada di petani dan yang paling penting adalah, bagaimana nilai mutu dari biji kakao itu bisa ditingkatkan lewat fermentasi,” pungkasnya. (AM)

______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: [email protected]. Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA