by

Jangan Hanya Menarget Para Artis, LQ Indonesia: POLRI Harus Tangkap Gembong Robot Trading

KOPI, JAKARTA  –  Akhir- akhir ini Penyidik Tipideksus Mabes POLRI kerap memanggil para artis dan menyita uang yang mereka terima dari hasil manggung, sebut saja dari Rosa mengembalikan 172 juta, Ivan Gunawan kembalikan 921 juta, Yosi Project Pop kembalikan 115 Juta, Rizky Billar kembalikan 1 Miliar, Nowela kembalikan 15 jt. 

Dan nantinya Yuni Shara, Sammy Simorangkir dan juga Choky Sitohang akan diperiksa terkait menerima uang dari acara robot trading. LQ Indonesia Lawfirm, firma hukum yang kerap vokal dan menjadi kuasa hukum ribuan korban investasi bodong termasuk robot trading, kembali memberikan kritiknya kepada Mabes POLRI.

LQ Indonesia Lawfirm juga dikenal sebagai firma hukum yang lurus, bersih dan berani melawan oknum aparat dalam menegakkan hukum dan keadilan. Kuasa hukum sebagian korban investasi bodong DNA Pro, Muhammad Zainul Arifin, meminta para artis maupun publik figur itu harus ikut diseret ke meja hijau.

“Sebab, para artis itu dinilai ikut menikmati uang dari hasil kejahatan penipuan robot trading tersebut. Mereka dapat dijerat dijerat dengan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang (UU TPPU),” jelasnya dalam rilis LQ Indonesia Lawfirm , Senin (2/4/2022).

Zainul menyatakan, para artis tersebut tak bisa mengajukan alasan bahwa mereka tak tahu dana yang mereka terima merupakan hasil kejahatan. “Mereka tetap bisa dijerat hukum karena telah merugikan para korban,” lanjutnya. 

Advokat Alvin Lim, selaku kuasa hukum 242 korban DNA Pro dari LQ Indonesia Lawfirm, tidak sependapat dan menilai langkah menarget artis sebagai langkah salah kaprah.

“Dalam penegakan hukum, aparat penegak hukum tidak boleh pake kaca mata kuda, harus menilai dengan hati nurani dan asas keadilan. Apalagi dalam pidana itu, yang bisa dijerat adalah yang memiliki itikat buruk, kelalaian atau “Culpa” bukanlah pidana,” terangnya.

“Jadi langkah Mabes Polri terutama Dittipideksus yang fokus mencecar dan memanggil para artis, sebagai langkah yang salah. Artis Rosa- 172 juta, Yosi Project Pop- 115 juta, sedangkan DNA PRO ini disinyalir merugikan belasan triliun. Seharusnya Penyidik fokus mencari, menangkap gembong/ otak dibalik penipuan robot trading,” ungkapnya.

“Yang ditahan saat ini diketahui hanyalah boneka, mereka dari sejarahnya adalah pemain MLM, marketing, sedangkan penyandang dana, beckingan dan otak intelektual yang bisa menyiapkan infrastruktur untuk menipu masih bebas dan uang belasan triliun belum berhasil dilacak Mabes Polri,” lanjutnya.

”Jangan ada pengalihan isu dan pencitraan POLRI seolah-olah bekerja keras dengan memeriksa artis sehingga media meliput para artis, padahal masa penahanan hanya 4 bulan hingga P21. Ketika perkara sudah limpah ke kejaksaan, maka penyidikan POLRI akan berhenti dan nilai sitaan hanya dalam puluhan milyar dari total kerugian belasan triliun. POLRI harusnya TANGKAP gembongnya, telusuri aset dan sita,” tegasnya.

Lanjut Alvin, para artis menjual jasa manggung dan keahlian mereka, bukan niat mereka menipu para korban, jangan sampai artis jadi bahan pemerasan oknum POLRI supaya lepas dari jeratan hukum. Jika mau adil dan semua penerima aliran dana kejahatan dihukum.

“Saya yakin penjara akan penuh, ga usah jauh-jauh, upline yang menerima komisi dari penjualan downline berapa puluh ribu orang, para pelaku kejahatan yang sudah ditahan, pernah makan di resto, nginep di hotel dan belanja di toko, pakai uang hasil kejahatan, lalu mau ditangkap dan ditahan semua pemilik restoran, hotel dan toko-toko?” tanyanya.

Mengapa arah penyidikan POLRI jadi makin hari makin ngawur? Sebelumnya korban begal dijadikan tersangka. Sekarang ada indikasi artis- artis jadi sasaran penyidikan. Nanti lama-lama orang takut menawarkan jasa dan jualan barang kalau bgitu dan ekonomi mandek.

POLRI tidak kekurangan orang pinter tapi POLRI krisis anggota yang punya hati nurani dan menegakkan keadilan. Saat ini banyak oknum POLRI sudah membuat masyarakat resah.

“Ga usah jauh-jauh, Net 89 juga robot trading, masih aktif kenapa ga ditindak sama POLRI sampai sekarang? Surya Effendy menerima aliran dana Koperasi Indosurya melalui perusahaannya Indosurya Inti Finance, tapi tidak ditindak,” ungkapnya.

“Disinilah saya memberikan kritik keras, hukum masih tumpul ke atas, janji Kapolri masih pepesan kosong, karena POLRI diisi oleh oknum perwira POLRI banci yang takut sama kriminal kelas atas dan kriminal penguasa,” tegas Alvin.

Masyarakat banyak menghubungi hotline LQ di 0817-489-0999 dan meminta bantuan hukum akibat oknum POLRI terutama kasus investasi bodong dan mafia tanah.

“Jokowi juga sampai 3kali meminta KAPOLRI menindak mafia tanah, tapi sampai saat ini masih subur mafia tanah berkeliaran, malah Oknum Jenderal Banci beraninya sama Anak ABG 19 tahun seperti Vanesa Khong. Apa tidak jadi bahan tertawaan POLRI nantinya? Kapolri harus tegas dan tindak para oknum POLRI, saya tunggu jika ingin bukti dan klarifikasi karena aduan Propam kami ke Mabes sudah banyak tapi minim diproses,” pungkasnya. (*)

______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@pewarta-indonesia.com. Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA