by

Plt. Kadis Parbud Jembrana Gelar Diskusi bersama Tokoh untuk Kembangkan Pariwisata LJL

KOPI, Jembrana – Pelaksana tugas (Plt) Kadis Pariwisata dan Kebudayaan (Parbud) Kabupaten Jembrana, Drs. I Komang Wiasa M.Si., menggelar pertemuan diskusi tentang Loloan jaman lame (Tempo dulu) bersama para tokoh dan pemuda milenial Loloan bertempat di Rumah Panggung Tokoh Budayawan Bapak Ali Nasri, Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana, Bali, Selasa, (15/3/2022). Pertemuan tersebut bertujuan untuk mengembangkan pariwisata riligius kearifan lokal budaya melayu Jembrana.

Turut hadir, Kabid Pariwisata, I Komang Gede Hendra Susanta; Fungsional Adyatama Kepariwisataan dan Ekraf;  Ni Komang Ayu Tri Ardanawati; Lurah Loloan Timur, IB Komang Wibawa Manuaba; Kaling Loloan Timur Mustahidin; Tokoh Masyarakat, H. Musaddad; Sanggar pilot, Sabli Erpan; Ketua Pemuda Loloan Timur, Habib Al Muafi.

Dalam rangka memfasilitasi kegiatan pemasaran pariwisata Kabupaten Jembrana, baik dalam maupun luar negeri. Maka dalam hal ini, Dinas Parbud Kabupaten Jembrana akan melaksanakan festival Loloan jaman lame (LJL) yang rencananya akan dilaksanakan 30 Juli-1 Agustus 2022.

Terkait hal tersebut, Kaling Loloan Timur Mustahidin menyampaikan ucapan terimakasih kepada Plt. Kadis Parbud Kabupaten Jembrana yang sudah memfasilitasi terkait persiapan festival LJL. Dalam hal ini, ia sudah beberapa kali mimpikan rencana festival tersebut.

“Kami rencananya akan memperbaiki bagian yang kurang dalam pelaksanaan, dan pertemuan ini masih dalam tahap awal, nanti kita diskusi bersama tentang konsep perencanaanya, harapan kami, semua teman-teman remaja sebagai penggagas, semoga dari Dinas Parbud tetap mensupprort apa yang sudah dikonsepkan oleh teman-teman dan syukur kita masih masuk di event-event Pemkab Jembrana,” harap Kaling Mustahidin.

Lanjutnya, Kaling Mustahidin menambahkan bahwa bulan Muharram sebagai tahun baru islam yang puncak festival ada di Loloan. Ia menginginkan tahun ini akan bersinergi dgn Pemkab Jembrana.

“Saya ingin untuk pengembangannya tetap berkolaborasi dengan beberapa komunitas, dan kita saling komunikasi, terkait festival LJL. Ke depan event tahunan ini kita jadikan sebagai daya tarik kebudayaan dan pariwisata Jembrana,” imbuhnya.

Plt. Kadis Parbud Kabupaten Jembrana, Drs. I Komang Wiasa mengatakan bahwa ia pemerhati budaya, terutama budaya sejarah Loloan, menurutnya intisari dari sisi sejarah dan budaya tersebut bertoleransi, maka setiap pertemuan budaya menyanyikan lagu toleransi, sebagai budaya sarana dan tentang masuknya islam di Jembrana.

“Saya ada catatan sejarah menulis skripsi tentang masuknya islam ke Jembrana, dokumen itu yang menjadi pegangan saya, sehingga ketika ditanya masuknya islam ke Jembrana punya dokumen yang kuat, karena dalam penelitian tersebut memerlukan waktu cukup lama, bahkan sampai ke Semarang,” ucap Plt. Kadis Parbud Komang Wiasa.

Dalam hal ini Kadis Parbud I Komang Wiasa,
mejelaskan bahwa kehadirannya dalam hal ini mewakili atas nama pemerintah. Ia ingin terkait Loloan jaman lame bisa dimasukkan dalam kalender kegiatan pemerintah di bidang pariwisata.

“Saya punya mimpi menggabarkan ke jati diri Loloan, dari hasil riset saya tahun 1985-1990, bahwa asal kata loloan lahir dari bahasa lia liu sehingga jadi loloan. Oleh karena itu, dalam pikiran saya Loloan ini bersejarah, sehingga untuk event jaman lama adalah menyusuri sungai pelabuhan tujuh sampai ke titik Loloan, mulai dari tanjung tangis, paras tegeh.”

“Dan saya ingin ada beberapa macam wisata untuk dikembangkan di antaranya: Menyusuri sungai, Kuliner, bahasa melayu seperti Upin Ipin, religi/spritual, ada makam buyut lebai, ada Alqur’an kuno dan ada makam wali pitu dan lain sebagainya,” jelas Plt. Kadis Parbud Komang Wiasa.

Komang Wiasa menambahkan bahwa terkait dengan rencana tersebut. “Kita pemerintah butuh standarisasi mulai hari ini, contohnya kalau nanti mau menyusuri sungai harus sewa jukung dan lain sebagainya, tentu yang akan kita undang ke sini yang terkait dengan sejarah, yaitu:

  1. Kabupaten Bone
  2. Kabupaten Wajo
  3. Sulawesi Selatan
  4. Riau
  5. Kedutaan Malaysia.

Untuk diketahui bahwa pemerintah hadir ingin mengemas, sehingga menjadi sesuatu yang menarik orang untuk datang ke Jembrana. Adapun biaya sudah kita siapkan dengan standarisasi, apalagi Bali akan kedatangan tamu seluruh dunia dalam rangka G20, ini kesempatan kita dan manfaatkan momentum tersebut,” imbuhnya.

Sementara itu Lurah Loloan Timur, IB Komang Wibawa Manuaba mengatakan terkait diskusi yang dibahas tersebut, menurutnya memang kegiatan LJL secara lokal selama ini cukup sukses, salah satu kuncinya, ada di kebersamaan. “Ke depan akan dibuka peluang dan harus siap untuk naik level. Dan kita dorong kegiatan selanjutnya yang ada di Loloan Timur, kita dapat kepercayaan ini sangat luar biasa, mohon dijaga,” ucap Lurah Loloan Timur IB Bagus Komang Wibawa Manuaba.

Salah satu tokoh masyarakat H. Musaddad menuturkan bahwa “Di Loloan ada beberapa suku etnis seperti cina jawa dan madura dan dalam kegiatan yang sudah dilakukan kita didukung kesenian jegog dari Desa Batuagung Jembrana, dan sangat luar biasa, inilah makna Loloan yang sebenarnya bisa berkolaborasi,” pungkasnya. (AM)

______________

Catatan Redaksi: Apabila ada pihak yang merasa dirugikan dan/atau keberatan dengan penayangan artikel dan/atau berita tersebut di atas, Anda dapat mengirimkan artikel dan/atau berita berisi sanggahan dan/atau koreksi kepada Redaksi kami, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (11) dan (12) Undang-Undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Artikel/berita dimaksud dapat dikirimkan melalui email: redaksi@pewarta-indonesia.com. Terima kasih.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA