by

Manajemen Media Massa

Opini Oleh: Mung Pujanarko

KOPI, Jakarta – Manajemen Media Massa memiliki satu tujuan pasti yakni menjual informasi bagi khalayak. Secara etimologi atau bahasa, kata manajemen (management) artinya adalah seni dalam mengatur dan melaksanakan.

Manajemen dapat juga didefinisikan sebagai upaya perencanaan (planning), organizing atau pengorganisasian, pelaksanaan eksekusi ide-ide yang terkalkulasi (actuating) dan pengontrolan sumber daya (segala jenis sumber daya) untuk mencapai sasaran secara efisien dan efektif.

Dalam lingkup manajemen media massa, karena strategisnya fungsi informasi bagi masyarakat, maka usaha dalam ranah media massa selalu berkembang seiring dengan tumbuhnya ekonomi di masyarakat.
Dalam istilah kekinian tentang ‘ekosistem ekonomi’, kehadiran media massa menjadi bagian penting dari ekosistem ekonomi masyarakat.

Media massa bisa menjadi sarana informasi yang terpercaya bagi masyarakat. Informasi yang dapat dipercaya tentu menggerakkan perekonomian, karena dalam media massa terdapat aneka informasi terbaru tentang aneka produk barang dan jasa yang bisa dan biasa diketengahkan oleh para pewarta di medianya masing-masing.

Dalam menyajikan informasi, ada keunikan tersendiri dalam segi manajemen media massa. Karena ini bisnis menjual informasi yang diolah dengan cara jurnalistik, maka sebaiknya yang menjadi manajer media masa adalah orang-orang jurnalistik, yakni orang-orang yang memiliki kemampuan di bidang ilmu jurnalistik secara formal.

Mengapa demikian?

Dalam jurusan jurnalistik di kampus-kampus telah diajarkan mata kuliah Manajemen Media Massa. Di mana dalam ilmu manajemen media massa dicirikan bahwa ada ‘art’ atau seni dalam mengendus animo serta keinginan massa atas informasi tertentu yang ’menjual’ untuk dihadirkan ke hadapan khalayak.

Dalam ilmu jurnalistik moderen, need dan want atas informasi ini bisa dipolakan, dicirikan, dan diteliti serta menjadi fokus dalam kajian jurnalistik. Hal ini berlaku bagi media apa saja baik cetak maupun elektronik dalam hal ini perkembangan media massa online.

Dalam ilmu manajemen media massa, mahasiswa jurnalistik dilatih untuk memahami jenis informasi apa yang akan dijualnya, apa target sasarannya audiensnya. Jadi bila dianalogikan; bila ada dua manajer mengurusi dua majalah yang berbeda, satu dari jurusan jurnalistik dan satu manajer lagi dari jurusan ilmu lainnya, maka pola pikirnya tentu berbeda.

Menjual media massa atau menjual informasi dalam media massa tentu tidak dapat disamakan dengan menjual aneka produk barang dan jasa lain. Menjual media massa telah dipahami benar oleh lingkup kajian ilmu jurnalistik, bahwa sensitifitas ‘hidung wartawan’ amat membantu untuk mengangkat sebuah informasi menjadi sebuah informasi yang berharga sehingga orang mau membelinya dengan cara membeli langsung atau mengkonsumsinya dengan cara melihat dan mendengar.

Iklan yang termuat dalam media yang memiliki sajian informasi yang bagus juga sudah pasti akan mendapatkan feed back berupa respon dari masyarakat yang ikut meng-indra iklan yang termuat dalam sebuah media massa. Teori-teori dalam ilmu ini masuk dalam ruang kajian ilmu Komunikasi.

Sementara untuk selain lulusan jurnalistik, manajer yang berdisiplin ilmu selain jurnalistik tentu dapat pula menjual produk medianya, tapi daya hayat untuk ilmu jurnalistiknya sudah pasti tidak selengkap oleh mereka yang berasal dari disiplin ilmu jurnalistik. Perlu diketahui, dewasa ini jurusan jurnalistik di kampus-kampus memiliki durasi belajar strata satu, (8 semester) ditambah strata dua (4 semester) juga ada strata 3 juga dalam ruang lingkup ilmu komunikasi.

Buku-buku serta jurnal ilmiah pegangan disiplin ilmu jurnalistik kini juga berskala internasional dan nasional yang semakin berkembang keilmuannya, serta semuanya bersifat heurisme alias terus berproses dalam pengembangan ilmu.

Maka itu dalam kancah bisnis media sekarang ini seni menjual informasi terus berkembang mengikuti aneka platform yang ada. Bila ilmu manajemen media massa sebuah usaha media massa mandeg -ini seringkali karena meng-under estimate bahwa menjual media massa semua ilmu orang bisa- maka dapat berimbas hanya akan menjadi follower.

Untuk itu selalu ikuti perkembangan manajemen media massa, sesuai digital era. Dengan semangat desentralisasi. (*)