by

Resiko Nikah Siri bagi Istri dan Anak yang Perlu Anda Ketahui

KOPI, Jakarta – Fenomena nikah siri atau nikah di balik tangan masih ramai terjadi. Walau sebenarnya, walau dipandang syah di mata agama, sebenarnya pernikahan siri bawa beberapa resiko, khususnya untuk faksi anak dan istri. Lalu, apa imbas nikah siri yang perlu betul-betul diakui?

Menikah secara siri sering dilakukan sebagai jalan singkat atau alternative. Misalkan, di kelompok masyarakat yang pemula hukum dengan kebatasan ekonomi, pernikahan ini jadi opsi karena dilihat lebih cepat dan mudah.

Tetapi tidak selamanya di kelompok masyarakat kelas bawah, kita pasti seringkali dengar bagaimana nikah siri digunakan beberapa pelaku petinggi atau karyawan negeri sipil supaya bisa gampang lakukan poligami. Sayang, banyak wanita yang ujungnya harus jadi korban dari praktek seperti ini.

Resiko Nikah Siri bagi Istri dan Anak

Walau beberapa kelompok memandang pernikahan tipe ini syah di mata agama Islam, realitanya nikah siri tidak dianggap oleh negara. Dalam kata lain, tidak berkekuatan hukum yang dapat mengikat.

Beberapa pria kemungkinan langsung tidak rasakan imbas dari permasalahan validitas pernikahan itu. Kebalikannya, istri dan anak-anak yang dilahirkan dari pernikahan siri terang jadi pihak yang paling dirugikan.

Pernikahan Tidak Dianggap Ada oleh Negara

Permasalahan pertama kali dalam pernikahan siri ialah tidak ada akte perkawinan. Terang, ini muncul karena pernikahan itu tidak terdaftar di KUA. Jasa Nikah Siri Yogyakarta menuliskan, akte perkawinan ialah bukti sudah berlangsungnya atau berjalannya perkawinan.

Nah, tiadanya bukti berikut yang mengakibatkan anak atau istri dari perkawinan siri tidak mempunyai validitas di depan negara . Maka, perkawinan siri memang syah secara agama. Tapi, tidak berkekuatan hukum dan karena itu dipandang tidak sempat ada dalam catatan negara.

Status Anak Disamakan dengan Anak di Luar Nikah

Seterusnya imbas pada status anak yang dilahirkan . Maka, bila Parents ingin selamatkan hak-hak anak di masa datang, nikah siri seharusnya tidak jadi opsi. Berdasar Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan.

Keputusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010 tanggal 17 Februari 2012 mengenai Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan, anak yang lahir dari perkawinan siri dipersamakan statusnya dengan anak luar kawin.

Mengakibatkan, anak yang dilahirkan di luar perkawinan syah secara negara cuman memiliki jalinan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya. Dengan demikian, dalam akte kelahiran anak cuman tertera nama ibu.

Bila ingin memberikan nama ayahnya dalam akte kelahiran, dibutuhkan penentuan pengadilan sebagai wujud pernyataan anak itu oleh ayahnya. Anak itu baru dapat memperoleh jalinan perdata dengan lelaki sebagai ayahnya bila bisa ditunjukkan berdasar ilmu dan pengetahuan dan tehnologi dan/atau alat bukti yang lain syah menurut hukum.

Suami Tidak Berkewajiban Memberikan Nafkah

Validitas pernikahan tidak dapat dipandang remeh. Masalahnya hal itu bisa banyak berpengaruh pada beberapa faktor kehidupan istri dan anak. Status istri dan anak yang tidak dianggap di depan hukum selanjutnya bawa masalah baru.

Secara hukum, suami tidak punyai kewajiban untuk memberikan nafkah. Bila setiap saat suami pergi demikian saja dan telantarkan anak istri, karena itu istri akan susah menuntut dan menuntut hak atas dianya dan anak-anak.

Baca : Pemicu dan Dampak Nikah Siri yang Perlu Kita Tahu

Istri dan Anak Tidak Memiliki Hak Waris

Tidak hanya masalah nafkah, pasangan dan anak hasil dari pernikahan siri tidak punyai posisi yang syah di mata hukum untuk mendapat hak waris. Berdasar pasal 43 ayat (1) UUP jo. pasal 100 Gabungan Hukum Islam (KHI) tidak memiliki hak mewariskan dari ayahnya. Karena, si anak cuman memiliki jalinan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.

Memengaruhi Kondisi Psikologis Anak

Sama seperti yang telah disebut sebelumnya, status anak harus jadi concern saat memilih untuk jalani pernikahan secara siri. Misalkan, karena dalam akte kelahiran anak tidak tertera nama ayahnya, anak ini selanjutnya berasa berlainan.

Tanpa diakui ini dapat mempengaruhi keadaan psikis anak. Tidak tutup peluang bila berbuntut dengan sangkaan anak jika kedatangan dianya tidak diharap.

Walau secara proses awalannya berasa lebih singkat dan gampang. Tetapi menyaksikan banyak konsekuensi yang ada di masa datang pasti tidak dapat diacuhkan demikian saja.

Bahkan juga, beberapa ulama juga lebih merekomendasikan untuk lakukan pernikahan yang syah secara agama atau negara. Mudah-mudahan keterangan ringkas mengenai imbas nikah siri ini memberikan sedikit pencerahan.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA