by

Imbas PPKM Darurat, Pelaku Usaha Broiler Alami Penurunan Omset

KOPI, Pubalingga – Penetapan kebijakan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, khususnya di wilayah Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, turut berimbas pada penurunan daya jual sektor usaha ayam broiler. Hal tersebut diakibatkan daya beli melemah.

Wawan, pelaku usaha pemotongan ayam broiler di kecamatan Pengadegan mengalami masalah demikian. Menurunnya daya beli pelanggan diakui menjadi penyebab utama.

“Biasanya pesanan setiap hari mencapai 100 kilogram, tapi di hari ini, waktu pemberlakuan gerakan tiga hari dirumah saja (jumat-minggu) membuat pesanan menurun ke angka 50 persen,” kata Wawan, Sabtu (10/7)

Dikatakan, situasi saat ini membuat beberapa pelanggan membatasi pasokan daging agar tidak rugi karena daya beli konsumen tidak seperti hari-hari normal (sebelum PPKM, red). Kata Wawan, warung makan, industri yang butuh pasokan daging ayam sedang membatasi produksi sehingga permintaan menyesuaikan kondisi lapangan.

“Mereka lihat situasi, biar tidak rugi,” ungkap Wawan.

Diketahui bahwa Kabupaten Purbalingga sedang menerapkan kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat bertajuk ‘Purbalingga tiga hari di rumah saja’. Aturan berlaku per Jum’at  hingga Minggu, 07-11  Juli 2021. Hal tersebut mengacu kepada himbauan pemerintah pusat dalam rangka menekan jumlah penularan virus corona.

Hal itu juga, tambah Wawan, membuat dirinya turut mengerem pesanan kepada ke peternak kandang. “Biasanya saya ambil ayam ke kandang peternak langsung mencapai 100 kilo sekali jalan, sekarang cukup 50 kilo saja. Kembali lagi ke kebutuhan konsumen,” paparnya.

Terpisah, peternak mandiri ayam broiler open house, Turiman, mengatakan bahwa permintaan ayam dari pengepul menurun drastis seiring dengan diberlakukannya kebijakan PPKM darurat. Keadaan demikian membuat dia kesulitan memasarkan ayam siap panen.

“Beginilah kondisi pandemi Covid-19, terlebih sekarang diperketat lagi. Jadi, permintaan juga turut menurun,“  kata Turiman.

Untuk menyiasati hal tersebut, imbuh Turiman, pihaknya harus melakukan penundaan sirkulasi, “Jadi, opsi untuk bertahan kita sebagai peternak harus bisa mengerti kondisi, slaah satunya menunda sirkulasi. Meskipun harus  mengeluarkan biaya ekstra untuk pemeliharan seperti membeli pakan dan vitamin,” katanya menambahkan.

Peternak yang juga berprofesi sebagai tenaga pendidik itu berharap agar situasi kembali normal, agar semua kembali seperti sedia kala. “Harapannya semoga ke depan seusai PPKM, kondisi kembaki normal supaya setiap pelaku usaha bisa kembali lancar,” pungkas Turiman.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA