by

Kesalahan dalam Mendidik Anak SD

-Berita-45 views

Mendidik anak ialah evaluasi sepanjang umur. Tidak ada sekolah khusus yang mengajari orang-tua mengenai langkah mendidik anak yang prima. Seperti orang-tua, anak juga jalani beragam evaluasi, baik pada hal akademik atau sikap, di sekolah.

Anak SD rasakan beberapa hal baru. Begitu halnya Anda sebagai orang-tua. Oleh karenanya, perhatikan tujuh kekeliruan dalam mendidik anak SD berikut, supaya Anda dapat menghindariinya.

Mengabaikan Kondisi Obesitas

Menurut Joyce Lee, pakar pediatrik di Rumah Sakit Anak Mott University of Michigan Ameriksa Serikat, banyak orang-tua yang meremehkan kegemukan atau berat badan yang berlebih pada anak.Ini ialah kekeliruan besar. Peralihan fisik anak SD memang terjadi, tetapi jangan dibiarkan anak jadi kegemukan. Dorong anak untuk aktif dan jalankan skema makan sehat. Karena, kegemukan pada anak dapat memacu penyakit hipertensi, cholesterol tinggi, dan diabetes, di periode dewasa.

Tidak Bersungguh-sungguh saat Berbicara pada Anak

Sebagian orangtua berpikiran, cercaan dan kritikan tentu dapat membenahi sikap anak. Begitu halnya beragam sanjungan pada anak, bahkan juga bila disampaikan 1/2 hati oleh orang-tua. Walau sebenarnya, sanjungan yang dilemparkan tanpa keseriusan hati orang-tua, dapat beresiko untuk anak.Oleh karenanya, tidak boleh bersandiwara saat memuji pada anak. Beri sanjungan dengan ikhlas. Misalkan, saat anak sukses membenahi mainan dan kamarnya. Dengan begitu, anak akan belajar pahami hati seseorang.

Tidak Memberikan Teladan

Saat sebelum memberi perintah pada anak, yakinkan Anda menjadi panutan untuknya. Misalkan, saat minta anak bangun pagi, karena itu Anda juga jangan kesiangan. Keteladanan sebagai langkah paling mudah dalam mendidik anak.

Menunda Diskusi tentang Pubertas

Kesalahan dalam mendidik anak SD yang umum dilaksanakan orang-tua ialah tunda perbincangan mengenai topik pubertas. Orang-tua dianjurkan mulai mengulas pubertas bersama anak semenjak dia berumur 9 tahun.Anda mulai bisa menerangkan peralihan yang terjadi pada payudara dan menstruasi (untuk anak wanita), dan jakun (untuk anak lelaki). Sebagai orang-tua, Anda juga seharusnya menggerakkan anak jalani pertemanan yang sehat.

Tidak Rutin Memeriksakan Kesehatan Anak

Anak memerlukan imunisasi, pengecekan gigi, dan pengecekan tumbuh berkembang secara detail. Bila anak tidak memperoleh pengecekan tahunan itu, karena itu efeknya akan berarti. Berikut tipe imunisasi yang perlu diterima anak SD sama sesuai umurnya.

Kelas 1 SD:

Imunisasi diphteria tetanus (Dt) dan Campak/MR. Imunisasi Dt bermanfaat untuk menahan penyakit difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan) pada anak.

Kelas 2 dan 5 SD:

Imunisasi tetanus difteri (Td), sebagai kelanjutan imunisasi Dt, supaya ketahanan tubuh anak makin baik.Bila tidak periksakan anak dengan teratur ke dokter, Anda melewati beragam info penting mengenai berat dan tinggi tubuh yang bagus, referensi gizi, dan kegiatan fisik yang disarankan untuk anak.

Baca Juga : Dokter Spesialis Anak

Menyepelekan Bullying pada Anak

Anak SD benar-benar rawan pada perlakuan perisakan atau bullying. Anak yang kerap kelihatan muram, diam, ketekan, atau mengeluhkan kesakitan, menjadi peringatan untuk orang-tua mengenai ada bullying. Pertanda lain dari bullying ialah saat anak malas bersekolah kembali. 

Bila ini terjadi, berbicaralah dengan beberapa guru di sekolah untuk cari tahu pemicunya.Perlakuan bullying juga dapat terjadi di jagat maya, lewat sosial media atau pesan singkat. Oleh karenanya, yakinkan selalu memantau kegiatan anak di sosial media, dan berbicara secara terbuka dengannya. Janganlah sampai Anda meremehkan pertanda bullying pada anak.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA