by

Tentang Otak Abdullah Anzorov dan Brahim Aioussaoi, Pentingya Positivity

KOPI, Jakarta – Abdullah Anzorov dan Brahim Aouissaoui menjadi sorotan setelah melancarkan dua serangan terpisah di Prancis dalam dua pekan belakangan. Nama Anzorov lebih dulu menjadi sorotan ketika pada Jumat (16/10/2020) diduga memenggal seorang guru Prancis, Samuel Patu, di sekitar kawasan sekolahnya. Menjelang dua pekan setelah itu, serangan kembali terjadi di sekitar Gereja Notre Dame Basilica, Nice, Prancis, pada Kamis (29/10/2020), menewaskan tiga orang, yang dilakukan lelaki Tunisia bernama Brahim Aouissaoui.

Amigdala adalah reptilian brain yang tertinggal di otak manusia setelah middle brain dan upper brain berkembang. Amigdala pada reptil berfungsi untuk memilih 2 tindakan saja pada sebuah situasi, yaitu fight atau flight. Pada otak manusia, sebuah situasi akan diolah terlebih dahulu di upper brain, sehingga bisa menentukan tindakan yang lebih tepat dibanding fight atau flight saja.

Tumor di otak bisa menjadi penyebab amigdala membajak kerja seluruh bagian otak. Pembantai di Texas beberapa puluh tahun lalu yang menewaskan 16 orang disebut oleh para ahli memiliki tumor otak yang mempengaruhi amigdalanya, dan lalu menimbulkan kecemasan dan agresi yang mengerikan.

Charles Whitman di tahun 1966 yang disebut Texas Tower Sniper, membunuh istri dan ibunya di rumahnya dengan pisau, lalu ia pergi ke kampus University of Texas di Austin. Di sana ia membunuh total 14 orang hanya dalam waktu kurang dari 2 jam saja dengan berbagai jenis senjata api dan melukai 31 orang. Ia akhirnya mati ditembak polisi. Dalam tulisan yang ditulisnya untuk menjelaskan aksi mengerikannya itu, ia menyebut mengalami gangguan di kepalanya yang membuatnya sakit kepala, stres dan depresi dalam beberapa bulan terakhir.

Selain tumor, nampaknya amigdala bisa menjadi aktif jika upper brain kurang digunakan semestinya. Informasi negatif yg dijejalkan ke otak bisa membuat otak berada dalam kondisi yang negatif, sehingga amigdala mudah membajak upper brain. Program cuci otak bagi “pengantin” (calon teroris) yang akan melakukan serangan teror bunuh diri di beberapa tempat di dunia pada beberapa tahun belakangan ini adalah program menjejalkan informasi negatif ke dalam otak agar otak berada dalam kondisi negatif.

Shawn Achor, Martin Seligman dan neuroscientists lainnya menjelaskan otak yang berada dalam keadaan positif (kebalikan dari kondisi negatif) seperti ini: lebih cerdas, kreatif, inovatif, solutif, produktif, tidak mudah cemas, tak mudah stres atau depresi, tidak cenderung pada agresi dan bahkan lebih cenderung pada altruism atau kebajikan.


Stephen Paddock membantai 60 orang di Las Vegas dan melukai 867 orang lebih pada 1 Oktober 2017. Motif orang ini masih misterius. Sayangnya otaknya rusak karena peluru yang ia tembakkan sendiri untuk bunuh diri. Mungkinkah ia memiliki tumor di otak? Atau mungkinkah otaknya telah dijejali informasi negatif belakangan ini?

Stephen Paddock menurut beberapa media disebut tak memiliki ciri seorang psikopat. Ia memang seorang penjudi dan kurang banyak bergaul dengan banyak orang. Namun beberapa tahun terakhir sebelum ia melakukan serangan mengerikan dengan beberapa senjata otomatis dari kamar hotelnya di lantai 32 di Las Vegas, ia disebut menemui beberapa dokter untuk keluhan stres atau depresi. Sebagaimana kita ketahui stres atau depresi yang berkepanjangan bisa merusak otak yang pada akhirnya mendorong orang pada aksi agresi atau kekerasan yang mengerikan.

Apa yang menyebabkan Stephen Paddock stres atau depresi? Tentu berbagai persoalan hidup bisa membuatnya stres atau depresi, namun beberapa tumor otak atau penyakit lain di otak juga bisa menumbuhkan stres atau depresi.


Tentang Positivity?

Positivity menurut neuroscience adalah sebuah kondisi di otak saat berfungsi maksimal, sehingga lebih cerdas, lebih penuh solusi, lebih kreatif dan inovatif, lebih tahan stres dan depresi, membuat tubuh lebih sehat, lebih cenderung pada altruism (kebajikan) atau lebih spiritual. Mereka yang memiliki positivity besar ini terbukti bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagaimana sudah sering disebut dalam Page Membangun Positivity.(https://facebook.com/membangunpositivity)

Dari berbagai riset neuroscience, ditemukan bahwa mereka yang rajin meditasi terbukti memiliki empathy yang lebih besar atau memiliki perasaan oneness (menjadi bagian dari yang di luar dirinya), berpegang-teguh pada golden rule (tidak melakukan kepada orang lain apa yang ia tidak inginkan terjadi pada dirinya), atau bahkan memiliki spirituality yang lebih besar. Sebagaimana kita ketahui, mereka yang memiliki spirituality disebut memiliki sifat-sifat ilahiyah atau sifat-sifat Tuhan yang baik, pemaaf, penyayang atau penuh kasih.

Mereka ini tak cenderung memiliki pandangan eksklusif pada dirinya atau kelompoknya sendiri. Mereka cenderung merasa menjadi bagian dari apa pun di sekitarnya atau dari kelompok lain. Mereka menjadi tak sanggup berbuat kekerasan pada yang lain atau kelompok lain. Juga mudah menolong daripada mengacuhkan yang lain yang artinya juga menjadi lebih berguna bagi orang lain (memiliki empathy).

Meditasi (meditasi sekuler yang tidak terkait dengan keyakinan apapun) hanya salah satu cara untuk memiliki positivity yang besar. Neuroscience bahkan sudah merancang meditasi yang bisa dengan mudah dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, tanpa bantuan guru atau alat apa pun.

Menurut berbagai riset, berdoapun bisa menghasilkan positivity yang besar. Begitu juga bersyukur, terutama bersyukur yang telah didefinisikan oleh neuroscience, yaitu menulis ‘jurnal positif’ yang isinya adalah pengalaman positif dari diri kita sendiri atau apa yang positif di sekitar kita. Tujuan bersyukur menurut neuroscience ini adalah menyadari hal-hal positif pada diri kita dan di sekitar kita yang menurut riset sangat penting untuk menyumbang positivity bagi otak kita.

Masih ada banyak tips lain yang menurut riset bisa digunakan untuk menghasilkan positivity. Masing-masing memiliki tingkatan positivity yang berbeda, ada yang besar, dan ada yang kecil. Kebanyakan tips ini adalah tips yang sudah biasa kita lakukan sehari-hari, sehingga kita hanya tinggal memprogramnya untuk menghasilkan positivity.


Positivity, Kebahagiaan, Happiness, Wellbeing

Jika kita Googling kita akan mendapatkan arti kata “positivity”, misalnya ini:

  1. the practice of being or tendency to be positive or optimistic in attitude. “Pupils draw power from the positivity of their teachers”.
  2. the quality of having a positive attitude: “I’m a great believer in positivity”.

Positivity adalah mindset yang disebut bisa menguntungkan. Untuk memiliki positivity kita harus berlatih dengan memahami sejumlah materi atau pelajaran yang biasanya diberikan oleh motivational trainer atau yang semacam itu.

Namun beberapa dekade terakhir muncul definisi baru dari positivity yang dibuat oleh para pakar neuroscience. Arti positivity di sini hampir tak berbeda dengan arti positivity yang sudah ada sebelumnya. Mereka yang memiliki positivity menurut neuroscience akan cenderung memiliki sifat atau sikap yang positif dalam kehidupan sehari-hari atau dalam situasi tertentu. Meski demikian perbedaan berada pada cara memperoleh positivity itu, yaitu neuroscience memberikan tips berupa sejumlah praktik atau kegiatan yang secara ilmiah terbukti merubah kondisi otak. Saat kondisi otak berubah menjadi positif, maka otomatis sikap atau sifat pun berubah menjadi lebih cenderung positif. Meditasi dan bersyukur adalah salah satu kegiatan yang menghasilkan positivity di otak.

Neuroscience juga menguraikan, bahwa “positivity” adalah kata untuk menggantikan kata “kebahagiaan”, “happiness”, dan “wellbeing”. Page Membangun Positivity menghindar untuk menggunakan kata “kebahagiaan”, meski “posivity” adalah kata lain dari kata kebahagiaan, karena kata kebahagiaan memiliki arti yang sangat luas. Coba saja Googling kata ‘kebahagiaan’ itu, maka akan muncul definisi dari kata kebahagiaan menurut berbagai bidang, misalnya filsafat, agama, sosial, psikologi, kedokteran, politik, sains, dan lain-lain. Kata “positivity” digunakan untuk menggantikan kata “kebahagiaan” karena memiliki definisi yang lebih sempit atau khusus.

Dari definisi positivity itu, maka amat kecil kemungkinan mereka yang memiliki positivity yang besar bisa melakukan kekerasan, apalagi pembunuhan yang mengerikan. Lalu mengapa ada yang orang yang mampu melakukan perbuatan yang mengerikan itu? Apakah fungsi otaknya sedemikian melenceng dalam berfungsi? Bagaimana penjelasan neuroscience untuk mereka yang otaknya tak berfungsi maksimal sehingga bisa melakukan kekerasan yang mengerikan itu?
Jawabannya seharusnya memang sederhana.

Otak yang tak berfungsi maksimal memang tidak cenderung memiliki empathy yang lebih besar atau tidak memiliki perasaan oneness, juga tidak berpegang-teguh pada golden rule. Artinya mereka ini lebih memiliki pandangan eksklusif (mengenai dirinya atau kelompoknya). Mereka tidak cenderung merasa menjadi bagian dari apa pun di sekitarnya atau dari kelompok lain yang berbeda. Mereka ini menjadi sanggup berbuat kekerasan yang mengerikan pada orang lain atau kelompok lain. Itu artinya mereka tak punya empathy sehingga cenderung menghindar untuk berbuat baik pada orang lain atau kelompok lain yang berbeda. Orang seperti itu sebenarnya hanya menganut ideologi politik yang ditanam oleh para pemuka kelompoknya, namun orang seperti itu merasa dirinya beragama dan orang-orang lain pun mengira orang seperti itu beragama.


Bagaimana Agama Berperan Membangun Positivity?

Ed Diener dan Robert Biswas-Diener melakukan riset pada agama-agama. Lalu mereka menemukan 6 elemen spiritual dalam agama yang bisa menumbuhkan kebahagiaan. Riset mereka itu ditulis dalam buku mereka berjudul “Happiness: Unlocking the Misteries of Psychological Wealth”.

Ini 6 elemen spiritual itu:

  1. Psychological Comfort yang ditimbulkan oleh ajaran tentang kematian atau kehidupan setelah mati. Misalnya apakah ada neraka yang membuat takut atau hanya ada sorga setelah kita mati. Juga soal apakah ada setan yang mengganggu atau hanya ada malaikat yang melindungi.
  2. Social Support atau Social Activity yang disediakan oleh agama. Ini adalah salah satu alasan orang untuk beragama yang misalnya terlihat dengan datangnya orang secara teratur ke tempat ibadah atau pusat aktivitas agama atau juga mendorong orang untuk bertemu sesama pemeluk di tempat lain.
  3. Memberi arti agung pada kehidupan ini.
  4. Memberi anak-anak nilai-nilai yang akan melekat terus sepanjang hidup.
  5. Memiliki ritual (ibadah) yang menarik. Tiap tempat atau budaya memiliki perbedaan dalam melihat apakah satu ibadah itu menarik.
  6. Memberi Positive Emotions melalui ajaran cinta kasih, damai, kebajikan, golden rule, bersyukur, berterimakasih, memberi maaf, pengampunan, pengabdian, berdoa, meditasi, dan mengenai adanya sesuatu yang lebih besar di luar dirinya.

Kita perlu menyangsikan atau mempertanyakan jika ada yang mengklaim bahwa ajarannya adalah sebuah ajaran agama, namun tak mengandung 6 elemen spiritual di atas. Mungkin saja itu adalah sebuah doktrin politik yang diberikan atau dimanipulasi, atau dipelesetkan menjadi seolah ajaran agama.

Jika ajarannya tak berperan dalam membangun positivity, apa yang dibangun oleh ajaran itu? Tentu negativity di otak atau sebuah kondisi negatif di otak, yang kita tahu itu artinya otak yang lebih cenderung pada agresi, kekerasan, bahkan pembunuhan. Otak itu juga terus-menerus diliputi kecemasan yang menghasilkan berbagai kebencian pada orang lain, kelompok lain, ummat lain, atau bangsa lain, dan juga peradaban lain.

Negativity itu juga tergambar dari pencapaian atau prestasi yang mereka peroleh. Apakah negeri yang otak warganya dipenuhi negativity memiliki perekonomian yang baik? Apakah mereka mencapai tingkat teknologi atau sains yang maju? Apakah negerinya mendapat predikat negeri yang bahagia (World Happiness Report)? Apakah warga masyarakatnya kocar-kacir dicakar konflik yang tak berkesudahan?

Berkat riset neuroscience selama 3 dekade terakhir, kita sekarang bisa dengan mudah menemukan mengapa sebuah aksi kekerasan yang mengerikan bisa dilakukan oleh seseorang. Otak yang rusak atau otak yang tidak berfungsi maksimal bisa mendorong kecenderungan pada agresi atau aksi kekerasan yang mengerikan.

Sekarang kita tahu juga, bahwa otak bisa menjadi rusak karena sebuah ajaran atau doktrin politik yang sesat yang dijejalkan secara masif.

M. Jojo Rahardjo

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA