by

Hijab Kultural

KOPI, Bekasi – Banyak teman menuduh aku antijilbab atau antihijab. Beberapa tulisanku di medsos memang nyinyiri jilbab dan hijab ini.

Temans, sebetulnya, tahun 1980-an aku pejuang awal jilbab. Adik-adik kelasku di UGM dan murid-murid ngajiku di Yogya, banyak yg berjilbab karena doronganku.

Berhijab itu menguntungkan bagi wanita yang rambutnya tipis dan acak-acakan. Juga bagus untuk wanita yang wajahnya lebar dan jidatnya nongnong. Ia akan makin cantik saat berjilbab. Wajahnya kelihatan lonjong dan jidat nongnongnya yang lebar gak terlihat. Lebih lebih wanita up 50, berjilbab kelihatan makin cantik. Uban dan keriput lehernya tak tampak.

Apalagi bila wanita itu pinter dandan. Dengan berjilbab kelihatan makin cantik dan elegen. Oki Asokawati, Ratih Sanggarwati, Desi Ratnanasari, dan Yuli (istriku), sumpah mati jauh lebih cantik saat berjilbab.

Lo, kenapa sekarang berbalik? Ini terjadi karena jilbab sudah jadi komoditi politik dan rasisme. Kebaikan jilbab hancur karena komoditi politik itu. Itu yang tidak aku sukai. Apalagi bila jilbabnya berlebihan. Kerudungnya keleleran sampai dengkul. Kotor dan bau apek. Tidak modis. Tambahan lagi pakai cadar. Wah…semuanya jadi tampak buruk. Keindahan wanita, makhluk yang tercipta dari bidadari sorga itu, hilang.

Lebih tragis lagi, sudah cantiknya hilang, mulutnya beracun. Ia mengafirkan orang tak berjilbab. Ia merasa mampu membagi kapling sorga. Ia tak mau bergaul dgn wanita pakai rok dan celana. Baginya wanita macam itu buruk dan tidak syar’i.

Mungkin jilbaber fanatik dan rasis itu tak tahu,
jilbab dan cadar juga dipakai suku-suku Arab lain yang non-muslim. Wanita Kristen dan Yahudi ortodoks pun pakai jilbab. Adakalanya pakai cadar.

Dari aspek inilah, aku nyinyir dgn jilbab. Jadi tidak nyinyir gebyah uya. Yang aku nyinyirin adalah hijaber yang merasa lebih takwa dan syar’i ketimbang yang lain. Ucapan klisenya, “Alhamdulillah aku sudah dapat hidayah, aku memutuskan berjilbab.”

Jilbab or hijab esensinya adalah busana penutup aurat. Dan aurat itu bagian tubuh wanita yang sensual, mengundang nafsu seks. Wanita berjilbab dengan busana ketat hingga gunung kembarnya mantul-mantul, lalu pakai celana pensil yang ngepres sampai kerutan pantat dan bawah pusarnya terlihat, jauh lebih merangsang syahwat Don Juan ketimbang wanita pakai daster kleleran yang mengelilingi tukang sayur pagi hari. Belum lagi wanita berjilbab model boneka timur tengah itu berparfum feromon yang merangsang pejantan. Sementara wanita berdaster itu baunya minyak lentik tengik. Mana lebih merangsang James Bond?

Dr. Lely Kusuma, dosen FMIPA UI, teman akrabku di Yogya yang tidak berjilbab komen pada statusku di FB dgn tulisan — pakai jilbab bisa makin cantik Simon. Bisa menutup kekurangan di wajah dan leher, katanya.

Betul Lely, jawabku, hijaber itu kalau rapi dan estetis, lebih cantik. Bahkan bagus untuk busana nasional bersanding dengan kebaya dan busana adat lain. Asal mindsetnya: hijab adalah busana kultural, seperti halnya kebaya. Istriku, anakku, dan adik-adikku juga berjilbab. Tapi tak pernah menganggap wanita nonhijab adalah unsyar’i, kafir, dan fulldosa.

Yang jadi soal, gegara politik identitas yang makin kental di Indonesia — terutama sejak Pilpres 2014 dan Pilgub DKI 2017 hijab pun jadi identitas politik. Inilah yang aku nyinyiri. Bukan jilbabnya, tapi politik identitasnya. Seperti Rasul Muhammad yang tak suka dengan kaum Nasrani dan Yahudi. Rasul membenci mereka karena politik identitas dan permusuhannya.

Adapun orang Nasrani dan Yahudi yang bersahabat, Rasul sangat menghormatinya. Jangankan ketika masih hidup. Mayatnya pun dihormati Rasul.


NB. Ada sebuah hadist yang menceritakan Rasulullah minta para sahabatnya berdiri untuk memberi hormat ketika rombongan pengiring mayat lewat di depannya. Seorang sahabat bertanya:

“Rasul, bukankah mayat itu orang Yahudi?”

“Betul, tapi ia manusia.”

Itulah Rasul.

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA