by

Dedikasi Sang Guru: Niat Mulia Pembawa Kebaikan

KOPI, Jakarta – Ada seorang gadis kecil periang, namanya Adinda. Dia adalah salah satu siswa Sekolah Dasar (SD) di perbatasan kota pelosok timur Indonesia.

Untuk anak Sekolah Dasar seusianya, Adinda tergolong anak gadis yang memiliki paras menawan. matanya bulat indah, rambut hitam terurai rapi menghiasi senyum bibirnya, serta wajah polosnya kerap kali memancarkan seri bahagia jika orang menatapnya dengan penuh rasa kasih sayang.

Namun di balik itu, Dinda (nama sapaannya) adalah salah satu murid yang memiliki keterbatasan. Terutama dalam hal kemampuan daya ingat untuk menangkap materi pembelajaran ketika belajar. Sehingga Adinda selalu butuh waktu lebih untuk memahami setiap apa yang dipelajarinya.

Pada suatu hari, di kelas Matematika yang di ampu oleh Sang Guru harus selesai lebih lama dari biasanya karena sedang rutin mengadakan pelajaran tambahan menjelang kelulusan sampai dengan jam satu siang.

Siang itu memang cuaca sedang terik yang membuat siapun merasa panas dan lelah beraktivitas termasuk membuat sang Guru terlihat begitu letih.

Ditambah dua jam lalu Sang Guru mendapati kabar menyedihkan bahwa istri tercintanya belum siuman pasca melahirkan anak pertamanya di Puskesmas yang membuat Sang Guru sedih sangat ingin pulang segera.

Ketika Sang Guru hendak keluar kelas, Adinda seperti biasanya seusai pelajaran tambahan, sambil memegangi buku lusuhnya selalu bergegas menghampiri Sang Guru dengan rada termenung dan bertanya.

“Bapak, untuk materi ini adinda belum paham lagi. Bisakah Bapak membantu Dinda lagi?” tanya sang anak seraya menaruh harapan kepada gurunya.

Dengan susana diri tidak karuan dan dalam kondisi letih, Sang guru sudah paham betul dengan permintaan siswanya tersebut, dan menjawab dengan ucapan nada halus kepada Adinda.

“Baik Adinda, mari sini bapak ajarkan lagi. Mana yang belum paham,” kata sang guru sambil menghampiri Adinda.

Diketahui, permintaan Adinda tersebut memang selalu dilakukan selama menjelang Ujian Nasional yang akan digelar satu minggu mendatang.

Meski didera lelah dan kesedihan atas cobaan yang sedang menimpa keluarganya, Sang Guru mencoba untuk selalu ikhlas dan memberikan dedikasi penuh terhadap profesi.

Tidak terkecuali dedikasi mengajar lebih untuk Adinda. Menurutnya, itu akan menjadi ladang keberkahan lebih bagi dirinya dan bentuk pengabdian sebagai seorang guru.

Kemudian mereka menuju bangku di samping pintu untuk berdiskusi bersama. Adinda pun begitu girang karena gurunya dengan senang hati selalu membantu dirinya dengan penuh sabar dan kasih sayang.

Tidak terasa dua jam berlalu, Sang Guru yang sedang mengajari Adinda harus segera menyelesaikan segera. Sebab waktu beranjak sore, gema Adzan Ashar mulai bersahutan menandakan keduanya harus segera pulang.

Adinda dan Sang Guru kemudian pulang. Sebelum itu Sang Guru sempat berpesan kepada Adinda untuk terus belajar ulet dan rajin. Karena hari itu merupakan kesempatan tatap muka terakhir sebelum dua hari kedepan Ujian akan dilaksanakan.

Begini pesan sang Guru, “Dinda, Bapak yakin kamu nanti pasti bisa. Yang terpenting jangan malas untuk belajar.“

Setelah itu, Sang Guru kemudian langsung menuju ke Puskemas menemui Istrinya.

Singkat cerita, Dua minggu berselang, Keduanya bertemu lagi di sekolah seusai ujian rampung dilaksanakan. Dinda dengan muka sumringah mengatakan kepada Sang Guru bahwa dia lulus dan mendapatkan nilai sangat memuaskan.

Mendengar kabar tersebut, Sang Guru sangat bersyukur dan ikut bahagia atas pencapaian Adinada.

Adinda lantas menceritakan perjuangannya kepada Sang Guru ketika sebelum ujian dia selalu belajar giat seperti apa yang Sang Guru pesan.

Adinda juga memberikan secarik kertas berisikan goresan tangannya. Dalam satu lembar halaman khusus Adinda mengucapkan banyak terima kasih kepada Sang Guru atas bantuannya selama ini kepada dirinya.

Sekejap Sang Guru kemudian meneteskan air mata sesaat membaca salah satu halaman yang secara khusus menceritakan perjuangan Sang Guru dalam mengajari Adinda tanpa kenal lelah dan pamrih.

Dalam pesan yang ditulis Adinda, mengungkapkan berbagai diary selama sang guru mengajar ditulis dalam sebuah rangkaian tulisan indah.

Sang Guru terenyuh mengingat masa perjuangan dan didikan yang selama ini berikan dengan di dasari keikhlasan hati sungguh membuahkan hasil tiada terkira.

Dari kisah tersebut bisa diambil pelajaran bahwa pengajar yang tulus dalam mendidik dengan dibekali niat bersih seyogyanya mampu meghadirkan beribu keberkahan dalam kehidupan.

Betapa tidak, Guru adalah panutan. Dalam istilah jawa, “digugu lan ditiru” (dijadikan panutan dan untuk di contoh) menjadi simbol bahwa Guru memang hadir menjadi suri tauladan kebaikan.

Niat baik dan tulus mengajari siswa dalam menempuh setiap liku pembelajaran sudah menjadi tanggung jawab moral yang harus dimiliki seorang guru.

Mengajari siswa dari nol sampai menjadi jawara merupakan tugas berat sekaligus hadiah manis bagi Sang Guru ketika sukses dalam tugas mulia mendidik insan masa depan bangsa.

Dalam Hal ini, keikhlasan hati di sertai niat bersih kiranya membawa kesejukan setiap hembusan nafas kehidupan. Selain itu, keihklasan dari dalam hati akan mampu membawa harmoni keberkahan yang sejatinya mampu mendatangkan kebaikan bagi pelakunya, Pasti.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA