by

Kekuatan Lain dari Merdeka Belajar

KOPI, Jakarta – Peringakatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun yang lalu di Jakarta, Menteri Pendidikan Bapak Nadiem Makarim menyampaikan pidato sedikit berbeda saat itu, poin penting dan patut diingat adalah semangat pak menteri untuk mengelorakan kemerdekaan belajar di Indonesia. Beliau mengajak para  guru Indonesia untuk melakukan perubahan kecil, antara lain mengembangkan diskusi kelas dan siswa mengajar.  Mengingat pentingnya kemerdekaan belajar itu, maka sebelum menutup pidatonya, beliau kembali menegaskan “Merdeka Belajar dan Guru Penggerak”

Tema merdeka belajar dan guru penggerak pada prinsipnya bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia pembelajaran kekinian. Penganut ideologi humanistik pembelajaran misalnya telah mendikusikan secara mendalam dua tema besar tersebut lebih dari setengah abad yang lalu. Pada tahun 1969 Carl Rogers mempublikasikan sebuah buku berjudul “Freedom to Learn”. Pada pengantar buku tersebut, ia mengatakan, “Sekolah kita umumnya sangat tradisional, konservatif, birokratis dan resisten terhadap perubahan. Satu cara yang harus dilakukan untuk menyelamatkan generasi muda bangsa adalah melalui kemerdekaan belajar”. Kaitannya dengan guru penggerak, tujuh tahun sebelum Carl Rogers mempublikasikan bukunya, tepatnya pada tahun 1962 Everett M. Rogers menulis buku berjudul “Diffusion of Innovation” satu bab tersendiri dari buku itu, ia membahas tentang pengerak atau agen perubahan.

Pentingnya Merdeka Belajar bagi Indonesia

Mengapa konsep Merdeka Belajar penting diterapkan di Indonesia? Karena, selama ini kita sering dihadapkan dengan model pembelajaran yang memaksa, penegakan disiplin yang kaku, pemaknaan yang keliru terhadap kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan, sehingga ada kesan “Sekolah tempat menuntut ilmu lebih kejam ketimbang penjara”, demikian Bernard Shaw menggambarkannya, dikutip dari Naomi (1999) dalam buku “Menggugat Pendidikan”, maka tidak heran jika kita menemukan banyak pelajar merasa gembira guru mereka tidak hadir disebabkan rapat atau disebabkan halangan lainnya.

Konsep Merdeka Belajar penting dilakukan, disebabkan tiap anak yang dilahirkan pasti memiliki keistimewaan yang berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Disinilah pendidik diharapkan mampu menjadi teman belajar yang menyenangkan agar proses belajar anak benar-benar atas kesadaraannya sendiri dan merdeka atas pilihannya. Diperlukan waktu yang cukup serta kesabaran dalam memfasilitasi, agar anak mampu untuk mengenali potensinya. Karena bakat anak bisa tumbuh ketika anak sudah memiliki minat dan mau berlatih untuk mengasah keterampilannya. Dalam mengawali proses belajar, pendidik juga perlu memiliki kemampuan mendengar yang baik. Tidak hanya sekedar mentransfer pengetahuan dan mendikte anak-anak atas kehendak pendidik.

Kegagalan atau keberhasilan, kemampuan atau ketidakmampuan dilihat sebagai interpretasi yang berbeda yang perlu dihargai. Kebebasan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Siswa adalah subjek, bukan objek, Mereka harus mampu menggunakan kebebasan untuk melakukan pengaturan diri dalam belajar. Hal yang sangat penting bagi pembelajaran yang memerdekakan itu dimana kontrol belajar dipegang oleh diri siswa sendiri, bukan orang lain. Strategi pembelajaran yang memerdekakan, lebih menekankan pada penggunaan pengetahuan secara bermakna dan proses pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk meladeni pertanyaan atau pandangan siswa. Aktivitas belajar lebih menekankan pada ketrampilan berfikir kritis, analisis, generalisasi, memprediksi, dan menyusun hipotesis yang utuh. 

Pelaksanaan evaluasi dalam pembelajaran yang memerdekakan menekankan pada proses penyusunan makna secara aktif yang melibatkan ketrampilan terintegrasi dengan menggunakan masalah dalam konteks nyata. Evaluasi menggali munculnya berfikir divergen, pemecahan masalah secara ganda atau tidak menuntut satu jawaban benar karena pada kenyataannya tidak ada jawaban siswa yang salah.  Evaluasi merupakan bagian utuh dari belajar dengan cara memberikan tugas yang menuntut aktivitas belajar yang bermakna serta menerapkan apa yang dipelajari dalam konteks nyata, artinya evaluasi lebih menekankan pada ketrampilan proses dalam kelompok pembelajaran, mengenali masalah dari pandangan-pandangan khas dari peserta didik.

Merdeka Belajar dan Keragaman Bangsa

Kebijakan Merdeka Belajar memberi kemerdekaan setiap unit pendidikan berinovasi. Konsep ini harus menyesuaikan kondisi di mana proses belajar mengajar berjalan, baik sisi budaya, kearifan lokal, sosio-ekonomi maupun infrastruktur. Merdeka belajar akan memberikan ruang inovasi bagi setiap guru dalam menjalankan poin-poin penting dari kurikulum.

Kurikulum yang mudah dipahami dan lebih fleksibel juga menjadi salah satu hal yang diperlukan untuk mendukung implementasi Merdeka Belajar. Kurikulum yang dapat mendorong para guru agar dapat memilih materi atau metode pembelajaran dengan kualitas tinggi, tetapi sesuai tingkat kompetensi, minat, dan bakat masing-masing siswa.

Keberagaman pendekatan yang ada menghasilkan berbagai macam teknik dan inovasi di setiap daerah, sekolah, dan siswa. Semua itu hanya bisa dilakukan hanya dengan dukungan teknologi. Merdeka Belajar tidak akan mungkin bisa berhasil tanpa teknologi. Teknologi ini bukan semuanya online melainkan bisa macam-macam, termasuk TVRI, Youtube, Zoom dan media lainnya sebagai media pembelajaran. Jadi semua yang kita sebutkan teknologi akan digunakan dalam mengimplementasi Merdeka Belajar.

Setiap siswa, sekolah, dan daerah memiliki tingkat kompetensi fundamental, literasi, dan numerasi yang berbeda. Sehingga, kurang masuk akal jika memaksakan suatu tingkat standar di setiap tahun pembelajaran dalam kurikulum. Hal ini juga dijelaskan pak Menteri “Tidak mungkin kita menyamaratakan semua siswa dalam satu tingkat standar. Seharusnya guru bisa mencari materi yang pas dan sesuai tingkat kompetensi siswanya, sehingga siswa merasa tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah,” jelas Mendikbud.

Kemudian, para pemangku kepentingan harus memberikan fleksibilitas bagi guru menentukan tingkat pengajaran serta alat asesmen yang bisa mengukur siswanya dengan tepat.
Keberagaman minat dan kemampuan yang dimiliki siswa menjadi alasan paling kuat agar pengukuran kinerja siswa tidak boleh dinilai hanya menggunakan angka-angka pencapaian akademik, tetapi juga berbagai macam aktivitas lain atau ekstrakurikuler. Bisa saja aktivitas di luar kelas yang mungkin menjadi minat siswa sehingga kita harus memberikan pengakuan dan sarana. Itu bisa menjadi bagian pendidikan masing-masing siswa.

Kearifan lokal juga merupakan unsur penting dalam pembelajaran. Setiap siswa akan lebih memahami materi bila menggunakan konteks lokal. Setiap murid akan melihat semua mata pelajaran dan semua materi dalam konteks. Kenapa harus peduli dengan materi ini? Apa relevansinya buat saya? Sehingga pembelajaran kontekstual terutama yang memasukkan pembelajaran dalam konteks kearifan lokal sangat penting dan seharusnya kurikulum bisa mengakomodasinya. Karena itu, diharapkan pemerintah daerah dan pusat dapat bergerak bersama dalam mewujudkan Merdeka Belajar ini.

Kekuatan lain dari Merdeka Belajar

Esensi Merdeka Belajar adalah menggali potensi terbesar para guru-guru sekolah dan murid kita untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Mandiri bukan hanya mengikuti proses birokrasi pendidikan, tetapi benar-benar inovasi pendidikan. Menggali potensi terbesar para guru-guru dapat dilakukan dengan memberikan kemerdekaan kepada guru.

Kemerdekaan kepada guru akan memberi kesempatan guru untuk memahami tujuan pengembangan diri dan konteks implementasi pada semua peserta didik. Guru merdeka dalam perencanaan, pengajaran dan penilaian. Setiap peserta didik butuh hal yang berbeda dari kita. Dengan kata lain, setiap peserta didik butuh kemerdekaan guru untuk memilih dan beradaptasi, Setiap tahun ajaran setiap minggu bahkan setiap hari.

Kemerdekaan belajar perlu didefinisikan dengan tepat, agar kita tidak mudah terbuai oleh ucapan  guru adalah kunci untuk pendidikan. Guru yang merdeka belajar adalah kunci. Pada saat orang bicara guru adalah kunci sebetulnya sering kali yang ada dibayangannya ini pabrik. Guru sekadar input. Sehingga dia menjadi kunci terhadap sebuah output yang dihasilkan peserta didik-peserta didik kita. Guru sekadar alat untuk menyukseskan agenda reformasi pemangku kepentingan lain (biasanya pembuat kebijakan). Sekali lagi, kemerdekaan itu adalah kapasitas individu yang didukung oleh ekosistem yang baik. Tidak ada guru yang bisa belajar sendirian, tidak ada guru yang bisa kompeten sendirian dan tidak ada guru yang bisa merdeka belajar sendirian.

Kemerdekaan guru, salah satu pemangku kepentingan terbesar di pendidikan bisa membalik piramida pendidikan di Indonesia. Kalau saja setiap guru dapat memberikan umpan balik berkelanjutan pada pemangku kepentingan lain, niscaya perubahan pendidikan akan lebih cepat tercapai. Jika dulu pertanyaannya adalah apa yang bisa dilakukan guru untuk mendukung kebijakan pemerintah maka kalau dibalikkan piramida ini, maka pertanyaannya ”Apa yang bisa dilakukan pemerintah untuk guru dan bagaimana cara pemerintah mengaplifikasikan praktik-praktik baik yang sudah dilakukan guru”.Alhasil, kekuatan lain dalam mensukseskan palaksanaan merdeka belajar adalah kemerdekaan guru, kurikulum, penguasaan teknologi dan keragaman budaya yang dimaknai sebagai kearifan lokal daerah. Semoga upaya kemerdekaan guru, kurikulum, penguasaan teknologi dan keragaman budaya yang dimaknai sebagai kearifan lokal mendapatkan dukungan dari pemangku kepentingan dengan beragam peran. Kemerdekaan menumbuhkan semangat membuat jaringan, baik itu jaring pengetahuan dan jaring emosional. Inilah sesungguhnya demokrasi dalam pendidikan. Memerdekakan guru dan faktor lain, akan menjadi kekuatan bagi terwujudnya konsep merdeka belajar yang pada akhirnya mewujudkan Indonesia bahagia, semoga…..

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA