by

Hati-hati! Covid-19 Merusak Kesehatan Mental

KOPI, Jakarta – Hampir 8 bulan sudah, dunia digerogoti oleh wabah global COVID-19. Ekonomi ambrol di banyak negeri. Akibatnya dunia sekarang dicekam resesi global. Orang-orang kehilangan pekerjaan, kehilangan mata pencarian atau penghasilan. Akses pada kesehatan, makanan dan minuman, rekreasi dalam ruang atau di ruang terbuka tersumbat. Interaksi sosial dibatasi. Banyak bisnis yang mandeg tak bisa berkembang. Masa depan meredup tak jelas, karena vaksin atau obat untuk melenyapkan COVID-19 ini masih lama dan sulit ditebak kapan bisa dihasilkan.

WHO pun mengeluarkan peringatan adanya gelombang stres atau depresi di seluruh dunia. Sebagaimana kita ketahui, stres atau depresi bisa menurunkan produktivitas, karena merusak kecerdasan, kreativitas, inovasi, kemampuan memberi solusi, menurunkan daya tahan tubuh, dan menurunkan kecenderungan pada kebajikan (spiritualitas pun menurun).

https://covid19.kemkes.go.id/protokol-covid-19/pedoman-dukungan-kesehatan-jiwa-dan-psikososial-pada-pandemi-covid-19/#.XzTOHehLjDc

Sementara itu menurut WHO, populasi dunia diisi oleh 16% adolescent atau remaja. Sisanya adalah campuran dari usia anak, dewasa dan orang tua. Menurut beberapa ahli, umur remaja itu di rentang 10 hingga 24 tahun.

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/adolescent-mental-health
http://www.amchp.org/programsandtopics/AdolescentHealth/projects/Pages/AdolescentDevelopment.aspx

Adolescent ini mengalami transisi dari kanak-kanak ke dewasa. Mereka mengalami perubahan fisik, perilaku, dan cognition (dalam bahasa Indonesia kata yang dekat dengan cognition adalah kecerdasan). Cognition is a term referring to the mental processes involved in gaining knowledge and comprehension. These cognitive processes include thinking, knowing, remembering, judging, and problem-solving. These are higher-level functions of the brain and encompass language, imagination, perception, and planning (https://www.verywellmind.com/).

REMAJA DAN KESEHATAN MENTAL MENURUT WHO

1. Populasi dunia diisi oleh 16% adolescent atau remaja. Sisanya adalah campuran dari usia anak, dewasa dan tua.

2. Remaja menyumbang angka sebesar 16% dari angka penderita penyakit dan yang mengalami kecelakaan (yang berkaitan dengan atau disebabkan oleh mental health condition).

3. Usia 14 tahun adalah awal dari munculnya mental health condition (masalah mental atau kejiwaan) yang tak pernah ditangani hingga usia dewasa.

4. Depresi di kalangan remaja menjadi penyebab utama munculnya penyakit dan disability (ketidakmampuan berfungsi sebagai manusia yang normal).

5. Bunuh diri adalah penyebab ketiga kematian di kalangan remaja.

6. Remaja bisa gagal menjadi dewasa, jika tak punya akses atau tak dibantu untuk menangani mental health condition-nya.

Remaja adalah periode kritis untuk membangun well-being atau positivity (kebahagiaan) hingga masa dewasa nanti. Sayangnya remaja rentan mengalami gangguan mental health condition. Semua lapisan usia menurut WHO mengalami persoalan mental health condition. Ini angka-angka yang dikeluarkan oleh WHO:

1. Depresi mengurangi produktivitas, menyebabkan gangguan kesehatan, dan merusak relationships.

2. Depresi menyebabkan kerugian sebesar 1 triliun dolar (USD) per tahun secara global.

3. Ada 300 juta orang di seluruh dunia menderita depresi.

4. Meski depresi bisa diobati dengan relatif mudah, namun di banyak negara, hanya 10% penderita depresi yang ditangani dengan baik. Mengapa begitu? Penyebabnya antara lain: pengetahuan kesehatan mental yang rendah, dan stigma sosial pada penderita mental disorder.

5. Dari seluruh anggaran kesehatan di berbagai negara di dunia, biasanya pemerintah hanya mengalokasikan 3% saja untuk kesehatan mental masyarakat.

6. Setiap 1 dolar yang dikeluarkan pemerintah untuk menangani depresi di masyarakat akan menghasilkan 4 dolar, karena membaiknya kesehatan dan meningkatkan kemampuan bekerja dan produktivitas masyarakat. Pemerintah pun akan menghemat uang dalam penyelenggaran layanan kesehatan dan kesejahteraan.

7. Penderita depresi bisa saja tetap bekerja atau belajar di sekolah, dan bahkan melakukan aktivitas sosial lainnya, namun penderita depresi hanya menghasilkan output atau kualitas yang terbatas.

8. Depresi meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes dan sakit jantung. Namun, diabetes dan sakit jantung juga meningkatkan risiko terkena depresi.

9. Angka dari WHO di atas menunjukkan bahwa kesadaran kita tentang kesehatan mental atau kondisi otak yang positif masih rendah. Padahal kondisi otak yang positif amat menguntungkan kita.

PENUTUP

Tanpa COVID-19, angka-angka yang ditunjukkan oleh WHO sudah membuat kita prihatin. Semoga saja angka-angka itu tidak bertambah buruk karena adanya COVID-19 ini. Semoga saja pemerintah lebih memperhatikan kesehatan mental warganya, termasuk remaja. Jika tidak, kita akan memiliki satu generasi yang memiliki masalah mental yang serius di masa mendatang.

M. Jojo Rahardjo
Penulis 3 buku: 1. Membangun Positivity, 2. Tips Membangun Positivity untuk Semua, 3. Resilience, Tetap Tangguh di Masa Sulit.

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA