by

Adam, Manusia Terakhir di Padang Mississippi

Oleh: Syaefudin Simon, Wartawan

KOPI, Bekasi – Di Arafah, Adam bertemu Hawa, 10.000 tahun lalu. Itulah Adam antropologis yang dilukisakaan Yuval Noah Harari sebagai homo sapiens pertama yang berkesadaran.

Homo sapiens adalah spesies yang mempunyai bobot otak terberat dibanding spesies lainnya. Berkat sel-sel otaknya yang lebih banyak itulah, homo sapiens tumbuh menjadi spesies pertama yang berkesadaran. Spesies yang menggunakan akal. Tuhan melukiskannya – tulis Hariri — dalam simbol Adam dan Hawa.

Adam dan Hawa adalah pembangun peradaban. Hanya dalam 10.000 tahun, spesies manusia yang dulu paling ringkih dan jadi bulan-bulanan simpanse, kini tumbuh menjadi manusia yang tidak hanya menakutkan simpanse – tapi menakutkan semua makhluk hidup yang tubuhnya jauh lebih besar dan kuat darinya. Macan, badak, gajah, beruang, simpanse, gorilla kini tunduk kepada manusia.

Tapi, tulis Harari, manusia itu pula yang akan menghancurkan peradabannya sendiri. Keserakahan dan nafsu berkuasa yang ditunjukkan spesies homo sapiens kini telah merusak segala upaya untuk membangun peradaban manusia.

Saat ini, koleksi bom atom (atomic bomb) yang disimpan manusia di AS, Cina, Inggris, Perancis, Israel, Pakistan, India dan Korea Utara, cukup untuk menghancurkan 1000 planet bumi. Bom atom yang dimiliki Amerika saja, misalnya, cukup untuk menghancurkan 300 planet sebesar bumi.

Pat Frank dalam novelnya, Mr. Adam (1946), menceritakan kecelakaan nuklir di Mississippi, Amerika. Akibat kecelakaan nuklir itu, seluruh manusia terkena dampak radiasi. Semua manusia di bumi mandul. Dan karena mandul, tak akan ada regenerasi manusia. Tapi seorang dokter, 10 tahun setelah kecelakaan nuklir itu, menemukan seorang bayi perempuan yang sehat. Setelah dicari siapa orang tuanya, ternyata Adam.

Ya, Adam adalah pekerja tambang yang saat ada kecelakaan nuklir sedang berada di dalam tanah. Kelak, setelah semua manusia mati, Adam inilah manusia terakhir yang ada di bumi.

Frank memfiksikan fenomena tersebut, hanya setahun setelah Enola Gay – nama pesawat tempur AS — menjatuhkan bom atom Little Boy di Hioroshima (6/8/1945) dan Fatman di Nagasaki (9/8/1945). Jika saja Frank mengetahui kondisi sekarang, niscaya kondisinya lebih mengerikan lagi. Dan solusinya niscaya lebih menakjubkan lagi!

Adam manusia terakhir selamat karena sedang berada di lubang tambang. Bayangkan, Adam kelak bersama keturunannya membangun peradaban di dalam bumi. Tidak seperti Adam dan Hawa di Arafah yang membangun peradaban di atas bumi. Adam dari Padang Mississippi – seperti Antereja, satria kembaran Gatotkaca – adalah makhluk yang menurunkan generasi manusia berteknologi tinggi yang hidup di bawah bumi. Trauma ledakan bom atom menyebabkan jalan pikirannya tertuju — bagaimana menyelamatkan generasinya dari bom-bom atom yang meledak di atas bumi.

Tanah di atas bumi nanti hanya untuk rekreasi. Hutan lebat dan sungai jernih dengan binatang yang indah, terutama burung yang survive dari ledakan bom atom, menjadi makhluk di atas bumi.

Tuhan dan kitab suci? Seperti kata Budha, kitab suci adalah untuk manusia. Bukan sebaliknya. Karena itu, ada pembaharuan “agama”. Di habitat manusia Antareja itu, tak ada lagi cerita Musa. Tak ada lagi cerita Yesus. Tak ada lagi cerita Muhammad. Juga tak ada lagi cerita Marx, Nietszche, dan Dawkins.

Agama? Kosa kata kuno itu tak ada lagi. Yang ada adalah etika kehidupan, berdasarkan kesepakatan manusia. Etika hidup dan undang-undang hasil kesepakatan “kaum antareja” menjadi kitab sucinya. Dan kitab sucinya terbuka untuk perubahan, sesuai kesepakatan usernya.

Mereka tetap mempunyai Tuhan. Ini karena dalam DNA manusia supermodern itu masih terselip kode-kode ketuhanan. Dan karenanya, kepercayaan kepada Tuhan tetap ada. Sesuai ketentuan dalam genetic code yang natural.

Di era itu, Tuhan, bukan lagi “sosok” yang dipahami kaum beriman era Adam Hawa — yaitu sosok yang sektarian dan penggebuk orang-orang berdosa. Tuhan tidak ekstrim lagi. Tuhan tidak hanya menyayangi “anak-anak kolokan yang mau menang sendiri dan merasa paling benar” seperti Tuhan yang dipersepsikan manusia era Adam dan Hawa yang bertemu di Arafah.

Tuhan anak cucu Adam pasca ledakan nuklir Mississippi adalah Tuhan yang maha baik kepada semua orang. Tuhan yang menyatakan bahwa manusia harus saling menyayangi apa pun keyakinannya. Karena semua keyakinan bersumber dari Tuhan Yang Maha Menyelamatkan. Tuhan yang mengerti kebutuhan manusia. Dan manusia yang mengerti “kebutuhan” Tuhan.

This image has an empty alt attribute; its file name is madu_banner_PERSISMA.jpg

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA