by

Sajak Hujan Milik Sapardi

Oleh: Nasihin Masha, Wartawan/Penulis Lepas

KOPI, Jakarta – Malam itu, tiba-tiba saya terkenang Sapardi Djoko Damono. Penyair sepuh yang tetap dikenal publik. Di masa saya remaja, setiap menjelang tujuh belasan, selalu ada lomba baca puisi di berbagai tingkatan dan kelompok penyelenggara. Polanya selalu sama: puisi wajib dan puisi pilihan. Panitia menentukan satu puisi yang wajib dibaca peserta. Selain itu panitia menyertakan sejumlah puisi yang bebas dipilih peserta untuk dibacakan. Nah, puisi wajibnya umumnya puisi karya Sapardi. Judulnya Selamat Pagi Indonesia (1965). Di era Orde Baru itu, era ketika nasionalisme dan patriotism terus digelorakan, puisi Sapardi tersebut adalah pilihan terbaik.

Sapardi Djoko Pramono (Alm)

Di masa kini, di era yang lebih fun, publik lebih mengenang dua sajak Sapardi. Pertama, sajak Hujan Bulan Juni (1989). Kedua, sajak Aku Ingin (1989). Hujan Bulan Juni menarik karena Juni bagi masyarakat Jawa adalah masa kemarau, karena itu tentu unik kok ada hujan di bulan Juni. Sedangkan sajak Aku Ingin memang quotable. Sajak pendek ini hanya enam baris dalam dua bait. Biasa diterakan dalam kartu undangan pernikahan.

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

Tentu bukan karena tiga sajak itu saja yang membuat saya suka Sapardi. Ada jauh lebih banyak lagi sajak-sajak Sapardi yang indah. Namun yang membuat saya terkenang pada Selasa, 14 Juli 2020, lalu adalah saya beberapa kali menyaksikan foto dan video Sapardi yang makin beranjak rapuh. Karena itu, pada Selasa malam saya memilih sajak Dalam Doaku (1989) untuk saya forward ke beberapa grup whatsapp. Saya berniat tiap pekan sekali memilih puisi-puisinya. Namun belum sepekan, Sapardi telah berpulang pada Ahad, 19 Juli 2020, ini. Penyair kelahiran Solo pada 20 Maret 1940 ini telah meninggalkan hujan pada kita. Hujan air mata.

Hujan adalah metafora Sapardi untuk sajak-sajaknya. Seperti Popo Iskandar memilih kucing untuk lukisan-lukisannya. Atau tubuh-tubuh telanjang dalam lukisan Mochtar Apin. Atau diksi “jalang” dalam sajak Chairil Anwar. Atau “Kekasih” yang menjadi milik Amir Hamzah. Setiap seniman punya pilihan favorit untuk mengekspresikan jiwanya. Ada banyak sajak Sapardi yang diberi judul yang menyertakan kata “hujan”, belum lagi yang muncul di bait-bait sajaknya, seperti dalam Aku Ingin. Inilah sajak-sajak “hujan” Sapardi: Hujan Turun Sepanjang Jalan; Gerimis Kecil di Jalan Jakarta, Malang; Hujan dalam Komposisi 1 (ada tiga seri – pen); Di Beranda Waktu Hujan; Percakapan Malam Hujan, Kuhentikan Hujan; Sihir Hujan; Hujan Bulan Juni; Hujan, Jalak, dan Daun Jambu. Dalam Sajak Desember (tentu ini musim hujan, sic!), Sapardi menulis: “mendadak terasa: betapa miskinnya diriku;// di luar hujan pun masih kudengar// dari celah-celah jendela. Ada yang terbaring// di kursi, letih sekali//”.

Atau pada sajak Sehabis Mengantar Jenazah (1967): masih adakah yang kau tanyakan// tentang hal itu? Hujan pun sudah selesai// sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habisnya bercakap// di bawah bunga-bunga menua, matahari yang senja//.

Sapardi menyukai hujan, karena, katanya:
“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah;
asalmu dari laut, langit, dan bumi; kembalilah, jangan
menggodaku tidur. Aku ahabat manusia. Ia sukas terang.”
(Percakapan Malam Hujan, 1973).

Dengan segala “serba”itu, Sapardi bisa menjadikan hujan untuk segala penggambaran. Ia seperti tongkat ajaib yang bisa berubah menjadi apa saja.

Betul, sajak Sapardi tak selalu menyampaikan protes sosial. Ia hanya ingin berpuisi, menangkap keadaan, menjelaskan sesuatu. Ini bisa dilihat pada sajak Hujan Turun Sepanjang Jalan (1967). Hal ini suatu kelaziman bagi penyair. Bukan hal ganjil. Namun tak benar bahwa Sapardi tak pernah berteriak, tidak protes. Jika kita membaca tulisan HB Jassin, Angkatan 66 Prosa dan Puisi, kita akan mendapati teriakan dan protes Sapardi. Jassin berhasil meletakkan konteks dan membuat katalis sehingga rumusan kalimat Sapardi yang sederhana itu menjadi bertenaga, menjadi teriakan, menjadi protes:

kami diam, kami terdiam dan teringat batang pohon besar
yang sudah tua di belakang rumah.
andaikata, ah tidak! ia pun tak akan tumbang malam ini
takkan menimpa rumah kami yang tua, tidak.
kami cemas, kami saling merapatkan diri
dan berdoa.

Coba letakkan sajak Dalam Hujan tersebut dalam konteks era Demokrasi Terpimpin yang saat itu dilawan oleh seniman-seniman yang menghendaki kebebasan – melawan seniman-seniman Lekra yang ganas memberangus lawan-lawannya melalui tangan kekuasaan. Sapardi bersajak dengan metafora. Pada sajak Dalam Hujan itu ia bermetafora melalui “batang pohon besar yang sudah tua” yang oleh Sapardi adanya “di belakang rumah”. Ada kata “tumbang” di sana. Tentu kita tak berharap Sapardi bisa cetho seperti Rendra atau Taufiq Ismail.

Bahkan sajak Selamat Pagi Indonesia pun bisa menjadi puisi protes jika kita letakkan dalam konteks yang sesuai. Dalam sajak yang dimuat pada majalah Basis Tahun XV-4 Januari 1965 itu, Sapardi menulis:

para perempuan menyalakan api,
dan di telapak tangan para lelaki yang tabah
telah hancur kristal-kristal dusta, khianat, dan pura-pura

Kita tahu bahwa tahun 1965 kemudian menjadi klimaks prahara.

Metafora dan keganjilan serta permainan logika menjadi kekuatan sajak-sajak Sapardi. Penyair yang dikenal dengan susunan kalimat dan diksi sederhana itu meletakkan tenaganya pada metafora dan logika melalui rangkaian kalimat yang membangkitkan ketakjuban imajinasi. Membuat otak kita bernyala-nyala dan jiwa kita berbinar-binar menikmati ekstase. Selalu ada punch line yang mengejutkan, yang membuat kita terkenang-kenang, yang quotable. Sapardi tidak bersajak dengan kekenesan, berindah-indah, dan dipuitis-puitiskan.

Kita bisa melihatnya di sini:
Lelaki tua yang rajin itu mati hari ini; sayang bahwa ia tak bisa menjaga kuburnya sendiri.
(Tentang Seorang Penjaga Kubur yang Mati, 1964).

Ini juga:
Belum pernah ia meminta izin
Memutar jarum-jarum jam tua
Yang segera tergesa-gesa saja berdetak
Tanpa menoleh walau kau seru
(Tangan Waktu, 1959)

Atau:
Kumandang kekal, percakapan tanpa kata-kata.
(Kita Saksikan, 1967)

mata pisau itu tak berkejap menatapmu;
kau yang baru saja mengasahnya
berpikir: ia tajam untuk mengiris apel
yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu
(Mata Pisau, 1971)

Yang fana adalah waktu. Kita abadi
(Yang Fana adalah Waktu, 1978)

Tuan Tuhan, bukan? Tunggu sebentar,
saya sedang keluar.
(Tuan, 1980)

Sapardi tak hanya menulis sajak, ia juga menulis prosa. Tak hanya itu, ia juga menulis buku nonfiksi tentang sastra. Kerendahhatian Sapardi juga tecermin pada kesahajaannya untuk menerbitkan karya-karya sastra dunia, seperti karya Ernest Hemingway (The Old Man and the Sea) maupun karya Kahlil Gibran (The Prophet dan Jesus the Son of Man). Yang paling saya suka adalah terjemahan puisi karya Okot p’Bitek.
Memang, karya sastra sebaiknya diterjemahkan oleh sastrawan juga. Kualitasnya akan terasa bedanya. Misalnya untuk The Prophet karya Gibran. Buku sajak ini sudah diterjemahkan oleh Sri Kusdyantinah pada 1981 dan diterbitkan oleh Pustaka Jaya dengan judul Sang Nabi, sesuai judul aslinya. Sajak Gibran ini sangat terkenal dan banyak dikutip orang, khususnya yang tentang anak. Saking terkenalnya, nama penyair asal Libanon ini banyak diadopsi orang Indonesia untuk menjadi nama anaknya. Pada 2017, penerbit Bentang, menerbitkan terjemahan oleh Sapardi dengan judul Almustafa, yang diambil dari nama tokoh dalam puisi tersebut.

Kutipan puisi Gibran yang sering dipetik orang adalah pada bait ini:

Anakmu bukan milikmu
Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu

Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu
Sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri
Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan
Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian

Kau boleh berusaha menyerupai mereka
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur
Pun tidak tenggelam di masa lampau

Kaulah busur, dan anak-anakmulah, anak panah yang meluncur

Bandingkan dengan terjemahan Sapardi:

Anakmu bukanlah anakmu
Mereka adalah putra putri kerinduan
Kehidupan terhadap dirinya sendiri
Mereka terlahir lewat dirimu, tetapi tidak berasal dari dirimu
Dan, meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu

Kau boleh memberi mereka cintamu, tetapi bukan pikiranmu
Sebab, mereka memiliki pikiran sendiri
Kau bisa memelihara tubuh mereka, tetapi bukan jiwa mereka
Sebab, jiwa mereka tinggal di rumah masa depan, yang takkan bisa kau datangi, bahkan dalam mimpimu

Kau boleh berusaha menjadi seperti mereka,
tetapi jangan menjadikan mereka seperti kamu
Sebab, kehidupan tidak bergerak mundur dan tidak tinggal bersama hari kemarin

Kau adalah busur yang meluncurkan anak-anakmu sebagai panah hidup

Kualitas terjemahan Sapardi juga terlihat pada prosa karya Gibran yang berjudul Jesus the Son of Man. Terjemahan versi Indonesia uniknya diterbitkan oleh penerbit yang sama, Bentang. Pada terjemahan pertama berjudul Yesus Sang Anak Manusia, sedangkan terjemahan Sapardi berjudul Yesus Anak Manusia.

Untuk gambaran saja, pada dua alinea pertama versi asli tertulis:
Upon a day in the spring of the year Jesus stood in the market-place of Jerusalem and He spoke to the multitudes of the kingdom of heaven.

And He accused the scribes and the Pharisees of setting snares and digging pitfalls in the path of those who long after the kingdom; and He denounced them.

Adapun terjemahannya adalah:
Musim semi tahun itu, Yesus berdiri di sebuah pasar Yerusalem dan berkata kepada orang-orang tentang kerajaan surga.

Ia menuduh ahli-ahli kitab dan kaum Parisi sebagai orang-orang yang hanya memasang jerat dan menggali lubang di jalan untuk menjebak orang yang mencari jalan ke surga; dan Ia mengecam mereka.

Bandingkan dengan terjemahan Sapardi:

Pada suatu hari pada musim semi Yesus berdiri di pasar Jerusalem dan Ia berbicara kepada khalayak dari Kerajaan Surga.

Dan, ia menuduh para pujangga dan kaum Farisi telah memasang jerat dan menggali lubang di sepanjang jalan orang-orang yang mendambakan kerajaan; dan Ia mengatakan bahwa mereka keliru.

Sapardi juga gemar menjelaskan sajak karya Okot yang ia terjemahkan dan diterbitkan Obor. Sajak Okot memiliki kemiripan dengan sajak Sapardi yang sederhana, deskriptif, dan penuh metafora tentang Afrika. Kini, Sapardi telah tiada. Bangsa Indonesia, khususnya bagi penggemar sastra, kehilangan besar atas kepergian penyair yang kekuatan kalimatnya sejajar dengan Chairil Anwar.

Untuk mengenang Sapardi, mari kita baca sajaknya yang penuh metafora yang berjudul Dalam Doaku (1989):

Dalam Doaku

dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman
tak memejamkan mata, yang meluas bening siap
menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena
akan menerima suara-suara

ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam
doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau
senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau
entah dari mana

dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di
ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang
tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

magrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu,
menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan menyentuh-
nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah
batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang
tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai
mendoakan keselamatanmu.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA