by

Budidaya Jamur Tiram, Peluang Menjanjikan di Tengah Paceklik Pandemi

KOPI, Purbalingga – Lebih dari tiga bulan lamanya Pandemi Covid-19 menghancurkan roda perekonomian rakyat. Banyak dari mereka kesulitan mempertahankan stabilitas keuangan karena susahnya mengembangkan usaha, bahkan tidak sedikit yang kehilangan pekerjaan.

Meskipun menjadi masalah serius, Bagi Wagimin (42) Warga Desa Tegalpingen, Kecamatan Pengadegan, Kabupaten Purbalingga tidak menjadikan hal tersebut sebagai hambatan untuk terus berwirausaha. Malahan hal tersebut menuntut untuk lebih memacu tingkat kratifitas dalam melihat peluang usaha.

Semenjak bulan Maret lalu dia mulai menggeluti usaha barunya yakni budidaya jamur tiram putih. Berlokasi di sekitar lahan kandang ayam tempat usahanya juga yang sedang kosong sejenak karena terdampak Pandemi, dia berinisiatif merubah sebagian tempat untuk dijadikan lahan bercocok tanam Jamur tersebut.

Pleurotus Ostreatus nama latin dari Jamur tiram putih merupakan jamur pangan yang berasal dari kelompok Basidiomycota dengan ciri umum tubuh buah berwarna putih hingga krem dan payungnya berbentuk setengah lingkaran mirip cangkang tiram dengan bagian tengah agak cekung.

“Awalnya saya mencari alternatif usaha ketika ternak ayam sedang rehat, ada teman menyarankan untuk usaha budidaya jamur, dan ketika melihat pangsa pasar untuk komoditas jamur ini masih relatif bagus dan cukup menjanjikan, ya langsung saja tanpa pikir panjang saya eksekusi.” ujarnya.

Perihal modal awal, bapak tiga anak ini mengatakan untuk biaya tidak terlalu banyak, beda ketika usaha ternak ayam pedaging, kisaran 900 ribu an sudah dapat media tanam dan bibit untuk jumlah sekitar 50 Baglog (media tanam).

“Meskipun modal pertama dirasa cukup lumayan, tapi keuntungannya setelah masa panen berakhir, isian baglog harus diganti baru, nah nantinya tidak perlu beli, bisa dibuat mandiri, cukup mudah caranya hanya dengan isian sekam padi yang direbus selama seharian supaya mateng lalu dikeringkan, kemudian dimasukan ke media baglog dan ditambah bibit jamur,” ungkapnya

Menyoal proses perawatan, menurutnya lebih mengutamakan kebersihan lingkungan tempat pembudidayaan. Pencegahan hama dan penyakit yang muncul disebabkan karena rndahnya faktor kebersihan bisa dicegah dengan penyemprotan formalin di daerah sekitar media tanam secara berkala sesuai kondisi.

Selain itu, hama ulat menjadi momok ketika tempat terlalu lembab, kotor, dan baglog kurang perawatan. Untuk periode panen, pria yang memiliki selera humor tinggi ini menjelaskan, apabila perawatan baik dan berhasil, panen bisa dilakukan kira-kira 2 minggu. Baglog jamur tiram maksimal bisa dipanen sebanyak 5-7 kali tentunya bergantung pada kualitas serta proses perawatan. Baglog dengan berat 1 kilogram bisa menghasilkan jamur tiram putih kurang lebih 0,5 – 0,7 kilogram.

Prospek penjualan katanya tidak terlalu sulit, bisa langsung tertuju kepada pengepul ataupun dipasarkan secara mandiri ke pasar dan warga sekitar lingkungan rumah. Ketika masa panen tiba, dia bisa memasarkan lebih dari 50 kiloan jamur. Harga yang dipatok perkilo dibandrol sekitar Rp. 15.000 rupiah. Tidak disebutkan nominal keuntungan perbulan yang diperolehnya, namun menurut dia cukup untuk memenuhi setiap kebutuhan. (*)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA