by

Webinar Pembelajaran PPKN di New Normal, Wilson Lalengke: Pindahkan Kelas ke Keluarga

KOPI, Karawang – Webinar Nasional yang dimotori oleh Ikatan Alumni PPKn Universitas Riau (IKA PPKN Unri) bekerjasama dengan Program Studi PPKn Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unri, Pekan Baru telah berlangsung secara online menggunakan aplikasi ZOOM Meeting, Sabtu (13/6/2020). Kegiatan ini menghadirkan 3 orang narasumber dengan tema “Aktualisasi Pembelajaran PPKn di Era New Normal”.

Salah satu narasumber yang mengisi acara tersebut, Wilson Lalengke, S.Pd., M.Sc., M.A., yang merupakan salah satu alumni dari Prodi PPKn Unri, membawakan materi dengan judul “Pembelajaran PPKn Dunia Maya, Rekayasa Karakter Keluarga”. Sementara itu, narasumber lainnya, Dr. Hambali, mempresentasikan tentang “Penerapan Pembelajaran PPKn di Era New Normal”. Narasumber lainnya, Dr. Epi Saepudin berbicara tentang “Strategi Pembelajaran PPkn di Era New Normal”.

Webinar Nasional ini dipandu oleh Dr. Suyitno dari UAD Yogyakarta dan diikuti oleh hampir 200-an peserta dari berbagai daerah. Menurut laporan panitia, peserta didominasi oleh guru atau tenaga pengajar PPKn yang berasal dari 4 pulau besar di Indonesia yaitu, Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.

Dalam ulasannya, Wilson Lalengke menjelaskan bahwa situasi yang akan dihadapi oleh seorang Pengajar di masa Pandemi Covid-19 dan menuju era New Normal bukanlah hal yang mudah. Pembelajaran di masa normal dilakukan di kelas tapi dengan adanya pandemi kelas harus dipindahkan ke rumah masing-masing anak didik.

“Salah satu metode yang harus dilakukan adalah memindahkan kelas ke rumah masing-masing anak didik serta melibatkan keluarga inti seperti Ibu, Bapak, Adik, Kakak atau Abang, juga bisa menerapkan pola pembelajaran dengan metode guru kunjung dan tutor sebaya,” ujar Wilson.

Menurutnya, tujuan dari pembelajaran itu sendiri adalah memberitahu pengetahuan atau ilmu kepada para pembelajar atau anak didik. Dari pelajaran yang mereka terima dan pelajari maka akan membentuk perilaku dan karakter yang sesuai dengan contoh dan sikap dari para pendidik.

“Karakter itu memiliki peranan penting bagi seseorang agar bisa berperilaku atau bertindak sesuai tuntunan dari masyarakat,” jelas Wilson.

Pola pembentukan karakter berawal dari stimulus atau informasi yang diterima oleh setiap orang, kemudian akan terjadi proses berpikir, lalu menentukan sikap dalam berperilaku atau bertindak secara baik dan benar. Tindakan yang dilakukan oleh seseorang itu akan menimbulkan dampak terhadap orang lain atau lingkungan.

Dampak dari sikap, perilaku atau tindakan yang dilakukan akan menghasilkan infomasi bagi orang lain maupun dirinya sendiri yang akan berproses menjadi karakter tertentu. Jika karakter individu bergabung dengan karakter lain dalam skala besar maka itulah yang disebut ‘Karakter Bangsa’.

Salah satu contoh pembentukan karakter yang saat ini sedang kita jalani yaitu kebijakan Pemerintah tentang New Normal tapi tetap mematuhi protokol kesehatan. Protokol New Normal meliputi pengecekan suhu badan, mencuci tangan dengan air, menggunakan masker, menyediakan tempat isolasi dan lain-lain.

“Dari contoh di atas dapat disimpulkan bahwa setiap orang perlu menerapkan pola-pola hidup tertentu. Pola tersebut akan membentuk karakter yang baik bagi diri sendiri maupun lingkungan disekitarnya,” jelas Ketum PPWI Pusat.

Usaha pembentukan karakter baru inilah yang sedang dilakukan oleh Pemerintah secara tegas sehingga akan menjadi kebiasaan di tengah masyarakat.

Inti dari pembelajaran PPKn adalah membangun karakter bagi anak didik. Ada 4 hal penting yang harus dilakukan dalam membangun sebuah karakter yaitu seseorang harus mengenal diri sendiri; mengenal sesama; mengenal Tuhan; dan mengenal dunia beserta relasi-relasi nya. Keempat hal tersebut saling berkolerasi dalam membentuk sebuah karakter,” papar Wilson.

Langkah-langkah yang harus diperhatikan yaitu mengenal orang yang terdekat yaitu Ibu, Bapak, Adik, Kakak dan orang-orang di sekitar kita. Karena lingkungan rumah tangga dan keluarga sangat essential dalam pembentukan karakter yang ingin kita capai yakni karakter yang kuat, baik, berakhlak dan bermoral dari setiap anak didik atau masyarakat.

Dengan diterapkannya pembelajaran di rumah masing-masing, maka keluarga memiliki peran penting untuk membentuk karakter yang baik kepada anak didik dengan memberi contoh dan menunjukkan sikap yang baik.

“Jika keluarga dan para pendidik menunjukkan sikap yang tidak baik, maka anak didik pun akan meniru sikap yang dilihat dari panutannya,” ucapnya.

Para pendidik juga harus mengenal baik atau lebih dekat dengan orang tua atau keluarga dari anak didik, sehingga bisa berkomunikasi untuk membentuk kepribadian anak didik yang berkarakter baik. Dan juga membangun relasi dengan keluarga terdekat, karena basis pembelajaran moral ada ditangan keluarga.

Cara lain membangun kelas di rumah adalah dengan membangun komunikasi satu sama lain, tingkat intensitas dari biasanya 20-30% maka menjadi 50-60% komunikasi dari setiap anggota keluarga.

Kemudian perlu adanya kesepakatan dari semua anggota keluarga termasuk anak didik kita, maka akan terbangun sebuah kesadaran bahwa kita hidup di tengah masyarakat dan berdampingan dengan orang lain, perilaku dan pola pikir, kecenderungan bertindak dan berbuat akan berdampak kepada orang lain.

“Kesimpulannya adalah keluarga mempunyai peran sangat penting dalam membentuk karakter. Keluarga menjadi tempat pembelajaran terbaik dalam mencapai karakter, budi pekerti yang berakhlak mulia,” pungkas Wilson. (Neneng JK)

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA