by

Ramadhanku karena Covid-19

Cerpen esai oleh Sariani

KOPI, Medan – Rantauprapat, itulah kotaku. Kota kecil yang berada di kabupaten Labuhan Batu. Penduduknya yang tak begitu banyak tapi bisa dibilang ramai.

Walaupun tidak dicap sebagai zona merah penyebaran Covid-19, tetapi wabah itu cukup mempengaruhi keadaan kotaku. Menjadi sepi, tidak banyak orang yang berani keluar rumah. Ya memang taat pada kebijakan pemerintah untuk stay at home (1).

Saya kasihan melihat pedagang yang begitu sepi pembelinya bahkan tidak ada pembeli sama sekali. Ada juga warga yang diusir dari kontrakan karena tak mampu membayar.

Ramadhan kali ini sangat berbeda, dikarenakan covid-19. Jalanan sepi, toko-toko sepi, pasar yang tadinya selalu ramai kini sangat sepi, alhamdulillah masjid di sini tidak ditutup seperti di beberapa kota lainnya. Jadi, kumandang adzan masih terdengar di kotaku ini. Tetapi untuk mencegah covid-19, masjid di sini di semprot disinfektan yang dilakukan oleh ACT-MRI Labuhanbatu (2). Walau begitu, tetap saja ada perubahan, seperti jamaah sholat berkurang. Pada Ramadhan ini, tidak ada terdengar suara tadarus (baca Qur’an bersama) di beberapa masjid.

Saya dan keluarga saya merasakan momen kehilangan Ramadhan, rasanya biasa saja tidak seperti dulu begitu mengesankan.

“Mak, Cuma laki-laki aja yang dibolehin tarawih, itupun yang dewasa. Perempuan dan anak-anak gak boleh.” Itulah kata adikku saat pulang sholat isya, sebelum masuk 1 Ramadhan.

Itu peraturan Masjid Al-Mukmin, yaitu salah satu masjid dekat rumah saya.

“Loh, siapa yang bilang?  Yaah gak enak lah.” Jawab ibuku..

Ibuku yang biasanya antusias menyambut Ramadhan, karena ia sangat rajin ke masjid walaupun sudah sedikit susah berjalan karena faktor umur. Ia sangat kecewa mendengar informasi yang dikatakan adikku tadi.

“Wak Ilyas Mak, tadi diumumkan pas abis sholat.” Jawab adikku.

Wak Ilyas ialah sekretaris masjid Al-Mukmin. Jadi, kalau ada informasi mengenai masjid itu beliau yang menyampaikan.

Bicara soal ibuku, bukannya ia tidak takut akan covid-19 atau bukannya tidak mengikuti kebijakan pemerintah, hanya saja belum terima karena ini merupakan kali pertama Ramadhan dengan suasana berbeda.

Karena mengikuti peraturan yang ada, saya dan keluarga stay at home atau tetap di rumah. Sesekali keluar hanya untuk hal yang benar-benar penting. Berbeda dengan ayah saya, ia harus keluar rumah dengan hati-hati untuk bekerja. Bagaimana mungkin kami orang biasa bisa di rumah saja sedangkan kami tidak mempunyai tabungan yang cukup. Saya selalu berdoa kepada Allah Swt agar ayah saya dilindungi dari virus mematikan ini, tak jarang perasaan khawatir muncul di diri saya.

“YaAllah, aku mohon hilangkanlah segera virus corona dari muka bumi ini!!” kalimat itu sering sekali saya ucapkan, berharap semoga Sang Ilahi mengabulkan.

Ramadhan tahun ini benar-benar di rumah, sholat mengaji di rumah. Agar tidak bosan, saya selalu mencari kegiatan. Misal menulis puisi, bermain dengan kucing atau bermain game. Saya suka puisi, menulis membuat saya lupa waktu. Dan bermain dengan kucing adalah kegiatan paling seru. Kucing saya cukup banyak, ada 5 ekor masing-masing mempunyai nama. Mereka sangat imut dan lucu.

“Sar, nanti beli bakso yok untuk buka. Aku pengen kali.” Kata adikku. Jangan heran dengan panggilannya, begitulah kami seperti seumuran. Kami sangat suka makan bakso, bakso adalah jajanan favorit kami. Tidak bosan untuk memakannya walau hampir setiap hari.

“Yok, jam 5 ya.” Jawabku..

Pedagang bakso yang kami tuju tidak jauh dari rumah, dan kami sudah berlangganan dengan beliau. Hemm, dagangannya yang biasanya rame di serbu masyarakat dan selalu saja habis, karena covid-19 ini dagangannya sangat sepi. Baksonya sudah sore masih banyak yang belum terjual (3).

“sepi ya wak?” sapaku.

“Iya, ya gimana karena corona ini jualan gak habis. Cuma bisa sabar.” Jawab uwak pedagang bakso yang kami beli.

Saya selalu tidak tega melihat keadaan seperti itu, terutama jika orang tua yang mengalaminya, sungguh mengharukan.

Keadaan seperti ini memang sangat membosankan dan menyedihkan, sudah hampir dua bulan saya di rumah. Sejak Maret kampus saya memutuskan untuk lockdown. Dan kami melakukan kuliah secara daring (online) (4).

Kuliah daring sama sekali tidak seru, tidak enak menurut saya. Saya sulit untuk memahami materi yang disampaikan oleh dosen saya, bukan cuma saya yang mengalami kesulitan, tetapi juga teman-teman saya. Kami sering mengeluh sesama kami, begitu banyaknya tugas yang diberikan dengan materi yang kami kurang paham, rasanya tidak mengenakkan.

Apalagi terkadang dosen tidak paham dengan kondisi mahasiswanya, tidak perduli terhadap jaringan bagus atau tidaknya, tetap saja kuliah dengan cara semaunya.

“Tugas…..” “Tugas….” “Tugas…” itulah notifikasi dari aplikasi Google Class yang kami gunakan untuk melakukan kuliah secara daring. Notifikasi tugas dari dosen yang diberikan secara bersamaan, tidak jarang tugas menumpuk dikarenakan dosen masuk tidak pada jam sesuai jadwal.

“Ahhh pusing…” “aku juga..” “iya kan we, gak ngerti materinya udah dikasi tugas aja.” begitulah keluhan saya dan teman-teman.

Tetapi, mau tidak mau, saya harus menerima keadaan ini. Harus ikhlas, anggap saja ini ujian dan balasan dari Allah atas segala dosa yang telah diperbuat oleh saya dan manusia lainnya.

Di sisi lain saya bersyukur bisa berpuasa 1 bulan penuh di rumah sama keluarga dan saya bersyukur masih bisa makan dengan kenyang, karena saya melihat di luar sana banyak orang mati kelaparan. Saya sering melihat berita seperti itu di sosial media.

Selesai kuliah daring, biasanya saya tidur siang, bangun untuk sholat setelahnya baca Qur’an (tadarus sendiri). Berusaha untuk tidak banyak mengeluh dan memaksimalkan taat pada Tuhan.

“Kak, cuci dulu sayur ini.” Itu ibu saya, menyuru saya membantunya memasak. Biasanya ibu memasak di sore hari atau setelah sholat ashar. Tidak banyak yang saya bantu, karena memang begitu, ibu tidak mau dibantu. Jika ia butuh bantuan pasti ia memanggilku.

“Kapan pengumuman lulus dek?” tanya ibu pada adikku. Adik saya kelas 3 SMA, karena lockdown pengumunan kelulusan akan diumumkan secara online (5).

Bahkan mereka tidak ada mengadakan acara perpisahan. Kalau kata ibu “kasian ya kau dek, gak ngerasain acara perpisahan, sedihlah ya gak ada kumpul sama kawan-kawan.” Itu merupakan ejekan dari ibu untuk adik atau bisa dibilang candaan.

Ayah saya pulang bekerja sore hari sekitar pukul 17.30 WIB, alhamdulillah kami sekeluarga selalu berbuka puasa bersama. Takjil favorit yang selalu ada di rumah adalah kolak. Tiada hari  tanpa itu. Kolak buatan ibu.

Malam hari, saya dan ibu tarawih di rumah sedangkan ayah saya dan adik sholat tarawih di masjid.

Terkadang saya merasa terperangkap oleh virus mematikan ini, semua terbatas karenanya. Semua orang gelisah, sedih, dan cemas. Ada yang mengalami nasib buruk karenanya. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha berdoa lalu pasrah.. Semoga virus Covid-19 segera musnah dan bumi segera membaik, jika virus ini hilang kehidupan manusia akan kembali berjalan normal. Dan semoga aktivitas kejahatan benar-benar tidak lagi dilakukan, agar terhindar dari murka Tuhan Sang Pemilik Bumi.

Catatan:

1. Christiyaningsih, “Kebijakan Stay at Home Harus Jadi Kesadaran Publik”, diakses dari https://republika.co.id/, pada tanggal 11 April 2020.

2. Biro Labuhan Batu Raya, “cegah covid-19 masjid di Labuhanbatu disemprot disinfektan oleh ACT MRI Labuhanbatu”, diakses dari https://news.poindone.co.id/, pada tanggal 20 Maret 2020.

3. Crash by, “Konsumen Sepi Akibat Dampak Covid-19”, diakses dari https://onlinesumut.com/ , pada tanggal 30 Maret 2020.

4. Mediana, “Cegah Penularan Covid-19, 58 Kampus Mulai Kuliah Daring”, diakses dari https://kompas.id/, pada tanggal 16 Maret 2020.

5. Datuk Haris Molana, “Besok, Pengumuman Kelulusan SMA dan SMK di Sumut Via Daring”, diakses dari https://mimbarumum.co.id/, pada tanggal 24 Maret 2020.

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA