by

Masjid Ditutup Gasik (1)

Cerpen esai oleh: Suhairi Umar

KOPI, Banyumas – “Menurut saya, Bapak tidak usah berangkat ke Gowa, kondisi seperti ini sangat mengkhawatirkan. Ini kan lagi musim Corona pak!” Kata pak Ahmad sang Ketua Takmir Masjid Al-Falah.

Inyaallah tidak, semua akan baik-baik saja. Acara tanggal 19-22 Maret 2020 ini sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Ini kan dalam rangka silaturahmi akbar. Konsolidasi dakwah. Pesertanya sekitar 9000-an orang dari perwakilan negara-negara di Asia. Ini urusan agama. Insyaallah dilindungi Allah SWT.” Jawab Pak Abu dengan mantap sambil tersenyum.

“Saya sudah membeli tiket pesawat pulang pergi dari Solo ke Sulawesi Selatan. Doakan semoga lancar.” Pinta Pak Abu. “Amin” Jawab Pak Ahmad dengan perasaan was-was. Ia berharap tidak terjadi apa-apa.

Sebagai ketua takmir Masjid Al-Falah, Pak Ahmad tentu sangat khawatir dengan diri Pak Abu sendiri dan juga jamaah masjid. Dalam pikirannya muncul kegelisahan, “Jika terjadi apa-apa nanti bagaimana dengan jamaah masjid di sini?

Pak Abu ini kan orangnya sangat aktif. Salat lima waktu selalu di masjid. Bahkan mendatangi setiap rumah dan mengajak penghuninya salat di masjid. Bagaimana jika ia pulang membawa virus itu tanpa ia sadari?

Ah, sudahlah, mudah mudahan ia kembali dalam keadaan sehat wal afiat. Saya tidak punya dasar untuk melarangnya berangkat.” Pak Ahmad mencoba menenangkan kekhawatirannya sendiri.

-000-

Pak Abu adalah salah satu pentolan Jamaah Tablig (JT) di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Beliau sudah bergabung dengan JT sejak tahun 1995. Sudah beberapa negaranya disinggahinya untuk dakwah. Pernah khuruj (2) ke Afrika Selatan, Thailand, Malaysia, India, dan Pakistan.

Sebelum ke luar negeri, beliau mengawali dengan berkeliling di masjid-masjid yang ada di Banyumas, Jawa Tengah dan wilayah Indonesia lainnya. Lama dakwah bertahap, mulai tiga hari, tujuh hari, satu bulan bahkan empat bulan meninggalkan kampung halaman, tetangga dan tentu keluarganya.

-000-

Siang itu, pukul 10.00 wib. Pak Ahmad baru sampai di rumah. Setelah meletakkan barang belanjaan, ia merogoh sakunya untuk meletakkan HP di atas meja. Terlihat ada lima kali panggilan tidak terjawab.

Ternyata, setelah dibuka, panggilan dari pak Rahmat, Ketua RW 09. “Assalamual’aikum, ada apa Pak RW, tadi telepon saya? Maaf saya lagi di jalan!” Tulis Pak Ahmad dalam watshap.

Waalaikumussalam, iya betul ustadz, saya tadi menghubungi antum beberapa kali. Tapi, saya sudah berbincang dengan pengurus masjid yang lain tadi.

Begini Ustadz, untuk anggota JT yang baru pulang dari Gowa kemaren, ternyata ada yang dirawat di rumah sakit DKT sekarang.

Informasi belum jelas, apakah ia terpapar virus Corona atau tidak. Tapi, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, saya usul bagaimana kalau kita tutup masjid segera.” Nada Pak RW sangat serius.

Innalillahi, oke pak, saya coba diskusi dulu dengan beberapa pengurus yang lain. Insyaallah, sebelum zuhur nanti sudah ada keputusan. Kalau boleh tahu siapa nama anggota JT yang sakit pak?” Tanya Pak Ahmad

“Hamdi namanya, itu lho yang orang Tanjung.” Jawab pak RW. “Oke pak, segera kita rapatkan.” Tulis Pak Ahmad dalam watshap-nya.

-000-

Masjid Al-Falah memiliki dua group watshap. Satu group khusus jamaah masjid dan satu lagi khusus untuk pengurus.

Sebelum pak Ahmad menulis di group, ternyata sudah ada yang mengawali. Bendahara masjid Pak Anto yang didatangi pak RW menulis dalam group pengurus.

Assalamu’alaikum, maaf ustadz, ini saya dapat informasi mengenai ODP (Orang Dalam Pemantauan) yang kemaren dari Gowa Makasar. Di desa kita ada 2 orang, salah satunya Pak Abu. Tapi, untuk yang seorang lagi atas nama Pak Hamdi yang di Tanjung, sekarang posisinya sedang dirawat di DKT dengan gejala seperti virus corona.

Untuk mengantisipasi bagaimana? Meskipun kemaren Pak Abu sudah dinyatakan sehat mbok ada kemungkinan beliau daya tahan tubuhnya lebih kuat namun tidak menutup kemungkinan beliau tetap membawa virus tersebut.”

Tidak lama, pak Ahmad langsung menanggapi, “Menurut saya, sebelum semua terlambat kita tutup saja masjid untuk 14 hari ke depan!”

Pak Anto menanggapi, “Monggo ustadz, kita makmum saja mengikuti amirul mukminin di Masjid.”

Pak Ahmad menimpali, “Tunggu respon yang lain dulu sebentar. Jika tidak ada, mulai zuhur nanti diumumkan salat lima waktu di rumah!”

Pengurus lain yang baru bergabung langsung ikut berkomentar. Pak Hidayat selaku sekretaris masjid menulis, “Ya, kita lakukan lockdown untuk masjid, lebih baik mencegah sebelum terlambat, sampai dua pekan ke depan.”

Kepala rumah tangga masjid, ustadz Budi menulis, “Menurut saya, Pak Abunya harus isolasi diri di rumah. Kalau masjid 14 hari ke depan kita tutup untuk pencegahan.”

Setelah menunggu respon yang lain agak lama. Akhirnya Pak Ahmad sebagai ketua takmir mengambil keputusan,

“Oke, kita tutup masjid sementara untuk kegiatan apa pun selama 14 hari ke depan. Setelah itu, kita evaluasi diperpanjang atau tidak. Tolong Pak Anto umumkan di masjid melalui pengeras suara dan juga di group RT/RW!”

Pak Anto yang biasa memberi pengumuman di masjid segera menjawab, “Siap ustadz!”

“Nanti di masjid tetap ada azan untuk mengabarkan waktu salat. Diakhir lafaz azan ditambah dengan kalimat Sollu fii Buyutikum, salatlah kalian di rumah. Tolong sampaikan kepada marbot masjid!” Tambah Pak Ahmad dalam wa-nya.

Imam Masjid, Ustadz Abdul yang baru bergabung menambahkan, “Maaf baru buka wa. Pintu masjid ditutup dikunci semua. Buat tulisan dan ditempel di semua pintu masjid!”

-000-

Pukul 11.30 wib. 22 Maret 2020, terdengar suara lantang tapi agak gemetar di menara masjid. “Bismillahirahmanirrahim, assalamul’aikum warahmatullahi wabarakatuh. Mohon perhatian untuk jamaah sekalian.

Mengantisipasi merebaknya wabah virus Corona di Purwokerto dan sekitarnya, maka dengan ini kami takmir Masjid Al-Falah menutup sementara seluruh kegiatan yang diselenggarakan di masjid.

Kami menghimbau kepada jamaah sekalian untuk melaksanakan salat lima waktu di rumah masing-masing sampai kondisi kembali normal. Mudah-mudahan wabah ini segera diangkat oleh Allah dari negeri kita dan kita kembali bisa beribadah di masjid dengan aman.”   

  -000-

Pertama kali dalam hidup mendengar masjid ditutup, banyak jamaah yang menangis. Sebagian mengucapkan istigfar (3), istirja’ (4) dan ada pula yang mengucapkan tasbih (5). Bagaimana mereka tidak menangis karena informasinya sangat mendadak.

Subuh 22 maret 2020, mereka masih salat subuh berjamaah dan tidak ada tanda apa-apa. Kondisi masih normal seperti biasa. Namun, siang hari menjelang zuhur semua berubah. Keadaan menjadi mencekam. Karena belum ada satu masjid pun di Kabupaten Banyumas yang ditutup sementara kecuali masjid Al-Falah di perumahan Bukit Indah Permata.

Respon paling emosional dari penutupan sementara ini tentu datang dari Pak Abu yang merasa bahwa dirinya adalah penyebab ini semua. Ia menuliskan di group watshap masjid dengan ekspresi penuh dengan kesedihan, “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, semoga Allah mengampuni dosa kita semuanya, dan semoga amal kita diterima disisi-Nya.” Ditambah icon air mata yang bercucuran.

Jamaah lain mengekspresikan kesedihannya dengan menuliskan, “Jangan kelamaan ya Allah, please!”

Dalam bahasa Inggris ada jamaah yang menulis, “Make it short, ya Allah!” ditambah icon tangan yang menengadah ke langit.

Ada jamaah yang menuliskan, “Ya Allah…, apa dosa kami? Sehingga kami tidak bisa berkunjung ke rumah-Mu lagi?”

Pak Anto yang membacakan pengumuman di masjid ikut terbawa emosi kesedihan. Ia menuliskan di group setelah membaca banyak komentar, “Sing ngumumna be ora kuat pak, ndredeg.” (6)

Dalam bahasa arab ada jamaah yang menulis, “Alhamdulillah ‘ala kulli hal” (Segala puji bagi Allah atas segala keadaan).

Ada jamaah yang cukup tegar menerima kenyataan ini dengan menuliskan, “Serahkan semuanya kepada Allah bapak-bapak sekalian. Tetap salat lima waktu di rumah berjamaah bersama keluarga.”

Ketegaran jamaah menerima pengumuman ini mulai menjalar kepada yang lain. Ada jamaah yang menulis, “Kita jangan berhenti berdoa dari rumah masing-masing, semoga Allah mendengar rintihan kita semua.”

Suasana sedih dan emosional semakin mereda dengan kalimat-kalimat yang saling menguatkan, “Bapak-bapak, mari kita jadikan momentum ini lebih dekat dengan keluarga. Semoga kita mendapatkan pahala seperti pahala jamaah di masjid.”

-000-

Perumahan Bukit Indah Permata yang dihuni oleh sekitar 400 KK mendadak seperti kota tidak berpenghuni. Tidak adanya aktivitas di masjid yang posisinya tepat di pusat kompleks membuat suasana menjadi tidak bergairah. Tetapi semua harus dilakukan demi keselamatan bersama.  Toh, ini hanya sementara. “Mencegah musibah harus didahulukan dari melakukan kebaikan.”

Catatan

  1. Bahasa Banyumas, artinya awal.
  2. Keluar berdakwah
  3. Astagfirullahal Adhim (aku memohon ampun kepada Allah)
  4. Inna iillahi wainna ilaihi raji’un, ungkapan ketika ditimpa musibah, artinya : Sesungguhnya kita semua milik Allah dan akan kembali kepada Allah.
  5. Subhanallah, maha suci Allah.
  6. Yang mengumumkan saja tidak kuat, gemetar.
  7. Pasien Positif Corona Purwokerto Akhirnya Mengaku Hadiri Ijtima Jamaah Tabligh di Gowa https://www.tribunnews.com/regional/2020/04/18/pasien-positif-corona-di-purwokerto-akhirnya-mengaku-hadiri-ijtima-jamaah-tabligh-di-gowa

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA