by

Debu, Syaikh Fattaah, dan Mangga

Syekh Fattah (Alm), pendiri grup musik religi Debu

Oleh: Simon Syaefudin, Wartawan/Kolumnis Freelance

KOPI, Bekasi – Jika orang bertanya, apakah mangga manis, jambu manis, melon manis, salak manis, dan nenas manis? Maka jawabnya — kata Agus Idwar penulis buku Sukses Berdakwah di Jalur Musik Religi — setiap buah mempunyai rasa manisnya masing-masing. Khas dan unik. Itulah cara memahami lagu-lagu grup musik sufi “Debu” yang personilnya bule dan negro dari berbagai bangsa (AS, Inggris, Swedia, dan lain-lain).

Lagu-lagu Debu enak dinikmati sambil memandang personilnya yang unik — meski kadang kita tak bisa memahami apa maksud lagu itu. Coba anda klik lagu karya Debu berjudul “Ucapkanlah” di Youtube. Terdengar Indah, rancak, dan show-nya enak di mata. Tapi coba sisir kata demi kata lagu tersebut.

Wahai Muslim, Wahai Hindu,
Mari ucapkan bersama,
La ilaha illallahu,
Bersama, satu irama!
La ilaha illallahu,
La ilaha illallahu,
Pengikut Buda dan Yesus,
Mari kita mengucapkan,
La ilaha illallahu,
Mari masuk dalam taman.
La ilaha illallahu,
La ilaha illallahu,
Mari kita jadi satu,
Zikir Allah, kiri-kanan,
La ilaha illallahu,
Ucapannya menyegarkan.
Wahai Muslim, Wahai Hindu,
Mari ucapkan bersama,
La ilaha illallahu,
Bersama, satu irama!
La ilaha illallahu,
La ilaha illallahu,
Pengikut Buda dan Yesus,
Mari kita mengucapkan,
La ilaha illallahu,
Mari masuk dalam taman.
La ilaha illallahu,
La ilaha illallahu,
La ilaha illallahu!
Adalah lautan asmara,
Ahmad adalah perahu,
Berlayarlah diatasnya.
Wahai Muslim, Wahai Hindu,
Mari ucapkan bersama,
La ilaha illallahu,
Bersama, satu…

Bagi orang awam, lirik lagu di atas, aneh. Tapi justru di situlah — kata Agus — kelebihan Debu. Waktu pertama kali mendengar lagu “Ucapkanlah” — Agus dan Rudi dari Nadahijrah Musikindo — langsung feeling. Musikindo pun tertarik untuk merekamnya. Tapi dengan syarat, lagunya dipendekkan. Maklumlah Debu awalnya berkiblat pada lagu-lagu Padang pasir yang panjang sampai 7 menit, bahkan lebih.

Di Indonesia, satu lagu durasinya rata-rata tiga menit saja. Debu pun bersedia memendekkannya. Benar album Depu pun disambut publik. Rekaman pertama terjual 250.000 keping CD. Sebuah awal prestasi yang bagus. Ujar Agus.

Bagiku, tambah Agus, apa yang dinyanyikan Debu, oke. Masih dalam koridor dakwah Islam. Bukankah semua agama, manusia, dan makhluk hidup hakikatnya mengucapkan Lailaaha Illallah? Lafal dan narasinya saja yang berbeda. Hakikatnya, ungkap Agus, sama.

Debu yang lagu-lagunya sangat relijius dan populer di jagad musik Indonesia, awalnya grup musik asal Amerika. Semua personilnya adalah murid guru sufi (Mursyid) Syaikh Fattaah asal Negeri Uncle Sam. Episentrum ajaran tasawuf Syaikh Fattah adalah cinta. Cinta kepada Allah.

“Jangan pernah takut kepada apa pun karena Cinta Allah melebihi apa pun,” petuah Syaikh Fattaah. Menurut Daood, murid Syekh Fattaah yg juga personil Debu, Sang Mursyid tidak pernah sekalipun tampak sedih, khawatir, atau mengeluh. Karena Syaikh Fattaah percaya 100 persen tanpa keraguan sedikit pun, bahwa cinta Allah lebih kuat daripada cobaan apapun yang ada dalam hidup.

Suatu hari Syaikh Fattah bermimpi: Menemukan negeri yang indah dan cocok untuk tempat tinggalnya. Dalam mimpinya Syaikh dan grup musik sufinya pindah ke negeri baru tersebut. Saat itu, Syaikh dan muridnya, belum tahu negeri yang bernama Indonesia dalam mimpinya itu. Tak pernah sekali pun mereka menginjakkan kaki di bumi Rayuan Pulau Kelapa itu sebelumnya.

Dengan bekal mimpi itulah, Syaikh dan sebagian murid-muridnya, terutama yg tergabung dalam grup musik Dust on The Road, pergi menuju negeri mimpi. Pertama kali, mereka “berlabuh” di tanah tempat kelahiran sufi besar Syaikh Yusuf, Makassar. Dari kota Angin Mamiri itulah Syaikh Fattah dan Debu memulai hidup baru. Berdakwah melalui musik tasawuf.

Dari Makasar, atas jasa Pak Bambang pemilik resto McD dan Pak Haidar Bagir dari Mizan Group, kelompok musik tasawuf ini hijrah ke Jakarta. Tak menunggu waktu lama, Debu pun mendapat sambutan publik ibukota.

Agus Idwar melalui video call denganku Jumat siang (1/5) , menyatakan: dalam literasi musik dunia, aliran musik Dust on The Road adalah genre world music. Ini karena “Debu” on The Road memainkan seluruh alat musik dalam mengiringi lagu-lagunya.

Tembang karya Debu, jelas Agus, menebar lirik sufistik yang lahir dari kecintaan dan kerinduan kepada Allah SWT. Sementara, musiknya digubah dengan instrumen pengiring yang beragam (world music). Seperti santur dari Iran. Tambura dari Turki. Gambus dan perkusi dari Arab. Gendok-gendok dari Sulawesi Selatan. Harpa, biola, dan bass dari Eropa. Dan kendang dari Jawa Barat.

Mustafa — vokalis Debu — adalah putra Syekh Fattaah. Gayanya lincah. Suaranya khas. Jika off air, Mustafa bak bintang film populer. Mendapat sambutan publik yg luar biasa. Padahal Mustafa, ujar Agus yang kenal dekat dengannya, adalah seorang sufi. Dia lebih suka sendiri, mengagumi Kebesaran Allah.

Syaikh Fattah wafat di Bogor, pada hari kesepuluh bulan suci Ramadhan (26 Mei 2018) dua tahun lalu. Debu yang bermarkas di Depok, Jabar, tentu merasa sangat kehilanga atas kepergian sang ayah dan mursyid tersebut.

Kini posisi mursyid Debu dipercayakan kepada Mustafa, putra Syaikh Fattaah yang juga vokalis group. Ini luar biasa. Seorang vokalis sekaligus mursyid tasawuf, menyanyikan lagu-lagu Cinta Allah dengan gaya yang rancak dan menghibur.

Nyanyian Mustafa dalam Debu bagaikan zikirnya Rumi. Berzikir sambil bernyanyi dan menari.

Islam memang agama yang menghibur. Zikirnya luwes dan menyenangkan tanpa mengurangi kedalaman cinta kepada Sang Pencipta. Allah Yang Maha Cinta dan Maha Menghibur.

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA