by

Virus Corona Bukan Tentara Allah

Oleh: Amidhan Shaberah, Ketua MUI (1995-2015), Komnas HAM (2002-2007)

KOPI, Jakarta – Benarkah Covid-19 tentara Allah? Netizens hampir tiap hari membaca tulisan dan mendengar ceramah semacam itu di medsos. Yang menyatakan bahwa virus corona adalah tentara Allah bukan hanya orang awam yang bodoh. Tapi juga da’i atau mubaligh terkenal yang followernya jutaan orang. Yang terakhir ini, bukan berarti ia tidak tahu tentang apa yang dimaksud tentara Allah. Ia tahu sekali. Namun ia memelesetkan pengetahuannya dan membodohi masyarakat demi kepentingan politik. Pinjam istilah Imam Gazali, ia tahu bahwa dirinya tahu — tapi memanipulasi yang ia tahu untuk kepentingan politik dirinya. Seperti agen Belanda Snock Hurgronye. Mempelajari Islam untuk mencari kelemahan umat Islam demi kepentingan negerinya, Kerajaan Belanda, yang menjajah Indonesia.

Di antara da’i-da’i itu, ada yang menyatakan, virus corona adalah pasukan Allah untuk menghancurkan negara-negara kafir. Bahkan lebih spesifik lagi, ada seorang da’i di FB menyatakan, bahwa Covid-19 menyerbu Indonesia karena pemerintah melarang Imam Besar Habib Riziq pulang. Akibatnya Allah murka. Allah pun menurunkan tentara berbentuk virus corona.

Logika berbau agama ini jelas mengada-ada. Sang da’i tidak berpikir, kenapa negara yang kini jadi tempat tinggal Habib Riziq, Saudi Arabia, juga diserbu corona. Saudi sampai mengosongkan tempat thowaf di sekitar ka’bah untuk mencegah penularan corona.

Dari gambaran tersebut, jelas Covid-19 tak hanya menyerang negara-negara komunis atheis Cina. Tapi juga negara-negara agamis seperti Saudi Arabia, Iran, dan Vatikan. Juga negara-negara sosialis di Amerika Latin dan negara-negara kapitalis di Amerika Utara dan Eropa Barat. World Health Organization (WHO) PBB telah menetapkan serangan Covid-19 yang awalnya merebak di Kota Wuhan, Cina akhir tahun 2019, sebagai pandemi. Ini artinya wabah corona sudah tersebar ke seluruh dunia dan menjadi krisis internasional.

Kini, Covid-19 menyerang semua negara di dunia tanpa pandang bulu. Negara antituhan, negara bertuhan, negara sosialis, dan negara kapitalis — semuanya terserang corona – sepanjang mereka tidak mampu mencegah penularan virus asal Wuhan itu. Saat ini, lebih dari 200 negara di seluruh dunia terpapar corona. Korban tewas sudah mencapai 70.000 orang lebih. Kecenderungannya terus bertambah. Sedangkan yang terinfeksi corona perhari ini (6/4/20) sudah mencapai 1,2 juta orang dan juga jumlahnya terus bertambah dari hari ke hari.

Lantas, apa yang bisa dikatakan oleh orang yang menganggap corona sebagai tentara Allah bila melihat korban-korban tersebut? Jelas, pendapatnya irasional dan tidak kitabiah. Pengertian tidak kitabiah di sini, saya maksudkan orang yang berpendapat bahwa Covid-19 adalah tentara Allah, pernyataannya tidak sesuai dengan kandungan kitab suci. Khususnya Al-Quran.

Mengutip Quran surat Al-Anfal 25, mufasir Quran Prof. Qurais Shihab menyatakan, “Hati-hatilah dengan datangnya bencana — yaitu ujian yang bisa menimpa bukan hanya orang yang durhaka dan zalim di antara kamu. Tapi juga menimpa orang-orang lain yang baik dan tak berdosa.”

Al-Anfal 25 menyatakan: “Dan peliharalah dirimu dari fitnah (siksaan, cobaan, musibah) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaanNya.”

Kitab tafsir Muyassar — karya bersama Dr. Hikmat Basyir, Dr, Mustafa Muslim, Dr. Hazim Haidar, dan Dr. Abdul Aziz Isma’il — menjelaskan bahwa fitnah, cobaan, atau ujian itu tak hanya menimpa orang-orang zalim. Tapi juga menimpa orang-orang saleh yang hidup bersama mereka. Hal ini terjadi karena angkara murka sudah menguasai kehidupan.

Bila sudah demikian, fitnah tersebut sesungguhnya muncul akibat perbuatan manusia sendiri. Dalam surat Al-Rum 41-42 Allah menyatakan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan (tangan) manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari perbuatan mereka, supaya mereka kembali ke jalan yang benar.”

Dari ayat- ayat Quran tersebut, jelas, kenapa virus corona muncul di muka bumi. Pertama, secara Rububiyyah, Allah memang menghendaki fitnah itu menimpa manusia. Agar manusia menyadari kesalahannnya — melakukan perbuatan dosa yang merusak dirinya dan lingkungannya. Kedua, Sunnatullahnya, virus corona muncul karena dipicu oleh kerusakan alam, seperti kehancuran hutan, kemusnahan habitat berbagai spesies, dan polusi. Pelaku perusakan alam itu adalah manusia. Semua itu memunculkan bangkitnya virus-virus yang selama ini “tertidur” atau “diam” dalam habitat aslinya.

Virus corona, misalnya, secara alamiah habitat aslinya berada dalam tubuh kelelawar liar dan wild animals tertentu. Degradasi lingkungan menyebabkan habitat kelelawar dan wild animals tersebut rusak. Ironisnya lagi, ada sebagian manusia yang mengonsumsi daging kelelawar dan binatang liar tertentu yang seharusnya dilindungi seperti musang, orang utan, dan kelelawar.

Virus corona, pertama muncul dari pasar daging hewan di kota Wuhan, Provinsi Hubai, Tiongkok. Di pasar itu, dijual daging berbagai macam hewan liar. Seperti daging ular, biawak, musang, kelelawar, buaya, dan lain-lain. Dari situlah awal munculnya Covid-19. Diduga virus corona itu muncul dari daging kelelawar dan musang.

Karena kesalahan manusia sendiri, virus corona kemudian menyebar ke seluruh dunia. Padahal Nabi Muhammad menyatakan, jika ada tho’un atau wabah di suatu wilayah, maka jangan sekali-kali mendekati wilayah tersebut. Sebaliknya orang yang berada di wilayah terkena wabah, jangan sekali-kali ke luar dari wilayah itu.

Hadist Nabi tersebut sangat saintifik dan sesuai hukum alam untuk mencegah penularan wabah. Sayangnya, banyak orang melanggar hukum tadi. Dalam kasus Wuhan, banyak orang asal Wuhan (sebelum kota itu di lockdown) bepergian ke luar kota karena saat itu berbarengan dengan hari raya Imlek. Di sisi lain, banyak orang asing (nonpenduduk Wuhan) pulang ke negeri asalnya karena ada wabah corona di Wuhan. Mereka kemudian menjadi agen penyebaran Covid-19 di negerinya masing-masing.

Dari perspektif tersebut, jelas virus corona bukanlah tentara Allah untuk menghancurkan orang-orang berdosa. Covid-19 muncul karena ulah manusia sendiri yang serakah dan merusak lingkungan. Di pihak lain, Allah pun mendatangkan musibah untuk menyadarkan manusia agar berbuat baik dan tidak merusak alam.

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA