by

Teori Konspirasi yang Gagal

KOPI, Jakarta – Pertama, waktu bom Bali pertama meledak dan menewaskan ratusan orang, teori konspirasi menyebutkan: itu bom mikro nuklir yg dikirim Israel untuk memojokkan Islam di Indonesia. Di persidangan pelakunya Imam Samudra Cs mengakui perbuatannya.

Kedua, saat menara World Trade Center New York ditabrak pesawat penumpang oleh gerombolan teroris, teori konspirasi nenyebutkan, tragedi WTC dilakukan Israel dan AS sendiri. Di pengadilan terbukti teroris binaan Osama bin Laden yang melakukannya.

Ketiga, saat ini, kasus corona yang pertama muncul di Wuhan, Cina — menurut teori konspirasi — adalah rekayasa Amerika untuk menaklukkan Cina. Sekaligus menguasai dunia. Loh? Karena AS kalah dalam perang dagang. Faktanya, AS kini jadi epicentrum baru CoV.

Mosok sih AS mau bunuh diri dengan senjata biologisnya? Lagi pula berdasarkan riset pakar virus, CoV tumbuh secara alami akibat mutasi gen dari virus SARS. Mutasi genetik di kalangan virus memang sering terjadi jika lingkungannya tidak kondusif. Akibat fenomena survival of the fittest dalam teori Darwin.

Teori konspirasi ini sering dimunculkan orang-orang tertentu untuk menjatuhkan, khususnya AS dan Israel di satu sisi. Di sisi lain untuk mengangkat kebenaran Islam tanpa reserve.

Padahal yang namanya orang fanatis bin radikalis tak hanya ada di Yahudi, Israel dan AS. Tapi ada di semua agama dan negara. Mereka adalah oknum-oknum yang mabuk kekuasaan.

Di Indonesia, kelompok maruk kuasa ini punya pertanyaan hebat: kenapa gak lock-down? Kenapa punya anggaran ratusan trilyun untuk membangun ibu kota baru, tapi tak punya anggaran untuk memberantas Corona dan lock-down? Hebat kan pertanyaannya. Jangan terkecoh dengan teori konspirasinya.

Oh ya, kelompok radikal ini di Indonesia paling demen demo di Kedubes AS. Khususnya dalam rangka membela Palestina. Demo membela Palestina dijual kepada publik Indonesia, seakan-akan membela Islam. Padahal para founding fathers Palestina cita-citanya jelas: mendirikan negara Palestina yang sekuler. Para pejuang Palestina pun yang non-muslim banyak. Jadi, Palestina bukan negara Islam walau bahasa nasionalnya Arab. Negara-negara Barat peduli Palestina — lebih peduli dari Saudi, Kuwait, dan UEA — karena faktor kemanusian dan sekularismenya tadi.

Tidak untuk membela Israel dan AS. Tahukah Anda, hampir sepertiga warga Palestina bekerja di Israel dan mencari nafkah di negeri Yahudi? AS dan sekutu Baratnya adalah donatur terbesar untuk menghidupi orang Palestina? Mana bantuan dunia Arab? Uangnya habis untuk membunuh muslim Yaman. Catat pula, tanpa penjagaan dan bantuan tentara NATO yang dipimpin AS, muslim Bosnia bisa habis dibunuh tentara Serbia.

Di Israel sendiri, populasi etnis Arab dan muslim sekarang terus membesar. Jangan salah lo, tentara Israel yang muslim juga banyak.

Memang saat ini, partai-partai yang dominan di parlemen Israel dipimpin orang garis keras dari Likud, partai radikal di Negeri Yahudi itu. Tapi, sekarang di Israel sudah tumbuh tokoh-tokoh moderat yang menginginkan perdamaian dengan Palestina. Tinggal tunggu waktu. Jumlah orang ekstrim akan makin minim. Itu hukum alam.

Intinya, jangan melihat masalah corona, AS, dan Yahudi dengan hitam putih. Jangan terkecoh dengan teori konspirasi. Untuk membantu dunia yang ekonominya terpuruk karena corona, AS sudah menggelontorkan stimulus trilyunan dolar. The FED (bank sentral AS) juga sudah menurunkan suku bunga agar ekonomi dunia tidak mandeg. Satu lagi, Israel yang ilmuwannya hebat, sudah menemukan vaksin corona. Vaksin ini pun akan segera didistribusikan ke seluruh dunia. Untuk mengatasi pandemi corona.

Mari kita hadapi pandemi corona dengan hati yang bersih. Demi kemanusiaan itu sendiri. Jangan terkecoh teori konspirasi dari kaum maruk penuh ambisi. (*)

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA