by

Suka Cita Menyambut Bulan Suci Ramadhan di Tengah Pandemik Covid-19

Cerpen Esai (1) oleh Neneng JK

KOPI, Karawang – Ramadhan adalah bulan suci yang sangat dinanti oleh umat Islam seluruh dunia. Tapi di Ramadhan 1441 Hijriah tahun ini, tidak seperti biasanya. Pandemik Covid-19 telah memudarkan harapan umat muslim untuk melaksanakan kegiatan yang biasa dilakukan di bulan Ramadhan yaitu Sholat Tarawih, buka bersama, Sahur on The Road (2), dan masih banyak kegiatan yang lainnya.

Nama ku Naina. Aku berasal dari ujung pulau paling barat di Indonesia yaitu Aceh. Aku dan keluarga ku tinggal di sebuah desa. Suasana pedesaan yang sejuk, indah, nyaman dan belum tersentuh oleh polusi.

Ketika akan memasuki bulan Ramadhan, seluruh umat Islam akan bersuka-cita menyambut datangnya bulan suci yang penuh berkah, khususnya di daerah ku, antusias dan kegembiraan begitu terasa.

Tak terkecuali dengan Umi ku (sebutan untuk Ibu ku), berangkat ke pasar sejak pagi buta untuk berbelanja daging dan kebutuhan lainnya untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan.

Di daerah ku disebut hari ‘Meugang’ istilah dalam bahasa Aceh atau ‘Munggah’ istilah dalam bahasa Sunda. Meugang dilakukan satu atau dua hari sebelum puasa.

Aku pun bersorak riang. “Horeee, bulan puasa telah tiba. Mulai nanti malam aku akan Sholat Tarawih berjama’ah bersama keluarga dan teman-teman ku di masjid yang ada di desa ku. Lalu akan dilanjutkan dengan tadarus.

“Assalamualaikum,” terdengar suara Umi yang baru pulang dari pasar. “Waalaikumsalam Umi,” jawab ku.

Umi langsung bergegas ke dapur. Lalu Umi langsung memasak daging rendang. Itu adalah masakan favorit keluarga ku. Setelah selesai memasak Umi mempersiapkan masakan ke dalam piring. Aku pun membantu membawakan masakan ke meja makan.

Setelah rapi, lalu seluruh keluarga berkumpul, dan kami pun makan bersama-sama. Istilah makan bersama dalam bahasa Aceh adalah ‘Meuramin’ atau dalam bahasa Sunda adalah ‘Papahare’.

Sementara anak laki-laki pun sibuk mempersiapkan pentungan, kaleng bekas dan beduk. Semua ini akan digunakan untuk berkeliling desa dan membangunkan warga untuk sahur.

Suara pentungan, kaleng bekas dan beduk terdengar riuh. Sambil berteriak, “Sahuuuurrrrrr….sahuuuurrrrr…..sahuuuurrrr….sahuuuurrrr.”

Kegiatan seperti ini sangat membantu warga dan merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi anak-anak. Tapi sayang, Virus Corona sudah memaksa masyarakat untuk ‘Stay at Home”.

Apalagi setelah Kementerian Agama menghimbau agar umat Islam di Indonesia menjalankan ibadah puasa Ramadhan di rumah saja (3).

“Dalam rangka untuk mencegah penyebaran lebih luas dari wabah (Covid-19) yang sedang mewabah di Indonesia dihimbau agar melaksanakan ibadah baik itu sholat dan segala aktivitas yang terkait dengan datangnya bulan suci Ramadhan diharapkan untuk tetap berada di rumah,” kata Dirjen Bimas Islam Prof. Dr. Phil. H. komaruddin Amin, MA.,dalam sebuah video conference.

“Mulai dari pelaksanaan ibadah puasa agar bisa dilaksanakan sesuai dengan fiqih puasa dan dalam pelaksanaan ibadah puasa tersebut kita berharap buka puasa bersama ditiadakan, Sholat Tarawih dilaksanakan di rumah masing-masing, kemudian Nuzulul Quran juga ditiadakan, begitu juga pelaksanaan tadarus di masjid ditiadakan.

Aku agak terkejut mendengar berita ini, aku langung memberitahu kepada Umi. “Umi, aku baru saja mendengar berita bahwa untuk semua kegiatan ibadah bulan Ramadhan harus dilaksanakan di rumah. Bagaimana ini Umi? Tanya ku ke Umi.

Umi menjawab. “Sabar ya Nai, semua ini kehendak Allah SWT. Kita tidak dapat berbuat apa pun selain berdoa dan tawaqal kepada-Nya. Keputusan ini diambil untuk mencegah penyebaran Virus Corona,” ucap Umi. “Ya Umi,” jawab ku dengan sedikit kecewa.

Yang lebih menyedihkan lagi, Kemenag juga meminta seluruh masyarakat untuk tidak mudik atau pulang kampung pada saat menjelang Idul Fitri 1441 H.

“Ya Tuhan ku, begitu besar cobaan ini.” Lirih hati ku

Mudik adalah tradisi yang sudah berlangsung dari jaman ke jaman. Seolah mudik itu wajib dilakukan pada saat lebaran tiba. Selain sungkeman dengan orang tua, kumpul bersama keluarga, dan berziarah ke makam sanak saudara yang telah meninggal dunia.

Aku juga sempat membahas soal ini dengan Umi. “Umi kita akan mudik kan?. Aku ingin bertemu Kakek, Nenek dan keluarga yang lain.” Kata ku.

Umi hanya tersenyum dan menjawab. “Kita berdoa saja ya Nai, semoga Virus Corona bisa segera berakhir dan kita bisa mudik ya,” jawab Umi.

Aku pun terdiam seribu bahasa.

Atas dasar himbauan dari Kemenag tersebut, maka masjid pun mengikuti aturan tersebut (4).

Masjid adalah tempat yang suci, rumah ibadah umat Islam. Jika Ramadhan tiba, maka masyarakat akan berbondong-bondong memenuhi masjid untuk melaksanakan ibadah Sholat Tarawih berjama’ah.

Selain Sholat Tarawih berjama’ah, kegiatan lain yang biasanya dilakukan di masjid pada saat bulan Ramadhan adalah berbuka puasa bersama, tadarus, I’tiqah dan masih banyak lagi. Tapi untuk kali ini ditiadakan.

Hanya pengumpulan zakat fitrah dan santunan anak yatim yang akan dilaksanakan. Dengan catatan untuk santunan anak yatim juga akan dilaksanakan secara online.

“Santunan yatim ini pun, pada dasarnya mereka tidak datang ke sini, tapi melalui sistem daring. Tautan terkait sudah saya sebar di semua yayasan, sudah banyak yang terdata,” jelas pengurus masjid.

Tidak sampai di situ saja. Untuk mengantisipasi kedatangan para jama’ah, pengelola masjid pun menutup gerbang masuk dan memasang himbauan di kawasan masjid bahwa masjid tidak akan buka seperti kebijakan yang disuarakan Pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia.

“Masyaallah.” Aku mengelus dada. Ini adalah ujian terberat untuk umat Islam.

Aku teringat kenangan bulan Ramadhan di tahun-tahun sebelumnya. Aku dan keluarga ku selalu melaksanakan ibadah Sholat Tarawih di masjid.

Begitu juga dengan berbuka bersama. Kami mengundang saudara, sahabat dan handai taulan untuk berbuka puasa bersama sehingga bisa mempererat silaturrahmi.

“Tapi kita tidak boleh kecewa. Ujian pasti akan berakhir.” Guman ku.

Tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan. Semua cobaan ini harus kita hadapi.

Lebih baik berpikir positif. Di balik peristiwa akan ada hikmahnya. Walaupun ditengah Pandemik Covid-19. Kegembiraan menyambut bulan Ramadhan tidak boleh surut (5).

Aku sangat setuju dengan artikel ini.

“Puasa di bulan suci Ramadhan hanya dilakukan selama satu tahun sekali. Walaupun Ramadhan tahun ini diwarnai dengan situasi Pandemik Covid-19, namun kegembiraan dan semangat untuk menyambutnya tak boleh surut,” ujar Ketua Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jakarta Selatan, Cokky Guntara.

“Banyak hikmah yang bisa dipetik di balik situasi Pandemik ini, Apa itu? Yakni umat muslim bisa punya banyak waktu untuk menjalankan amalan baik seperti membaca Al-Quran,” tambah Cokky.

Saatnya kita sebagai masyarakat untuk merenung sejenak. Karena kesibukan di luar rumah yang menjadi rutinitas, seperti bekerja, berbisnis atau bepergian seringkali menghabiskan waktu.

Umi juga berpesan kepada ku. “Naina, di tengah Pandemik Covid-19, sebaiknya kita fokus untuk menjalankan ibadah puasa, perbanyak amalan baik, sehingga ibadah puasa yang kita lakukan berkualitas dan terhindar dari perbuatan yang merusak pahala puasa,” ucap Umi.

“Baik Umi,” jawab ku.

Yang lebih mengkhawatirkan saat ini, penyebaran Virus Corona yang semakin meningkatkan berdampak pada kerentanan sosial di berbagai sektor, yaitu mulai dari sektor kesehatan, pendidikan, sosial, ekonomi hingga aktivitas beribadah di masyarakat (6).

Sampai 30 Maret 2020 sudah tercatat yang positif ada 1.414 kasus, sembuh 75 kasus, dan meninggal 122 kasus.

Aku berharap kepada Pemerintah selain berfokus utama pada penanganan Pandemik Covid-19, juga jangan mengesampingkan kondisi kesejahteraan masyarakat di masa Pandemik Covid-19 ini. Jika kesejahteraan masyarakat diabaikan, dikuatirkan akan memicu ‘kerentanan sosial’ yang masif di masyarakat.

Pandemik Covid-19 merupakan bentuk bahaya (hazard) yang memiliki potensi mengancam segi aspek kehidupan masyarakat. Kondisi kerentanan (Social Vulnerability) menjadi realitas nyata yang terjadi pada masyarakat dalam menghadapi Pandemik Covid-19. Kerentanan sosial menjadi posisi ketahanan masyarakat (Community Resilience) mengalami guncangan (Shock) akibat Pandemik Covid-19.

Sejenak aku terdiam. Sore itu aku sedang duduk di teras, sambil memandang hamparan sawah yang indah.

Di pikiran ku berkecamuk tentang apa yang akan terjadi dengan masyarakat jika wabah Virus Corona atau Covid-19 tidak segera bisa diatasi.

Instruksi physical distancing tidak berjalan dengan efektif. Sebab instruksi physical distancing dianggap menciptakan kerentanan sosial pada masyarakat. Khususnya masyarakat yang memiliki status pekerjaan informal yang sumber pemasukan ekonominya didapat sehari-hari dan tidak memiliki gaji pokok tetap. (Seperti pedagang dan ojek online).

Berdasarkan data Survei A Angkatan Kerja Nasional Badan Statistik 2019. Jumlah masyarakat yang berstatus pekerja formal sebanyak 55.272.968 orang dan masyarakat yang berstatus pekerja informal sejumlah 74.093.224 orang (7).

Data ini menunjukkan bahwa telah banyak masyarakat yang bekerja di sektor informal, dan ini yang membuat masyarakat tidak menjalankan physical distancing karena untuk mempertahankan ketahanan ekonomi keluarganya.

Dampak kerentanan sosial yang lebih signifikan lagi adalah masyarakat akan melakukan tiga tindakan yang saling berkaitan, yaitu tindakan apatis, tindakan irasional dan tindakan kriminal (8). Hal ini bisa dilihat pada fenomena di masyarakat yang terjadi saat ini.

Aku memang melihat fenomena di masyarakat saat ini, salah satu contoh tindakan apatis yaitu Pemerintah sudah menginstruksikan untuk physical distancing dan tidak boleh mudik ke kampung. Tapi apa yang terjadi, masyarakat tidak menggubris instruksi tersebut.

Selain tindakan apatis, masyarakat juga melakukan tindakan irasional yaitu salah satunya dengan meyakini berbagai bahan obat dan metode pencegahan agar tidak terkena Covid-19. Contohnya dengan metode berjemur di bawah matahari dan mengkonsumsi air perasan jeruk nipis dan teh agar terhindar dari Virus Corona.

Yang tak kalah maraknya adalah tindakan kriminal. Banyaknya terjadi pencurian, penjambretan, pencopetan, pemalakan, penjarahan bahkan pembunuhan.

Ini semua contoh nyata dari tindakan kriminal akibat Pandemik Covid-19, bisa kita ketahui dari berbagai media berita yang sudah mulai terjadi di negara-negara lain (seperti Italia, India, Cina, Amerika), bahkan di Indonesia.

Sudah semestinya Pemerintah memperhatikan aspek kesejahteraan sosial di masyarakat sebelum menerapkan kebijakan physical distancing, karantina wilayah atau lockdown. Maka masyarakat akan mendukung penuh kebijakan Pemerintah jika ketahanan social pada diri dan keluarganya terpenuhi.

Dalam hati ku berdoa. “Semoga dengan datangnya bulan Ramadhan ini, segala masalah yang di hadapi bangsa ini dan seluruh negara yang terkena dampak Covid-19 dapat segera teratasi,” ucap ku dalam hati.

Akhirnya setelah berbuka puasa, aku memanggil Umi. “Umi, kita Sholat Tarawih dimana?.” Tanya ku. “Lebih baik kita ikuti instruksi Pemerintah saja, jadi kita Sholat Tarawih berjama’ah di rumah saja ya.” Jawab Umi.

Lalu aku dan keluargaku berkumpul di ruang tengah dan melaksanakan Sholat Tarawih berjama’ah di ruang. Kemudian di lanjut dengan tadarus dan berdoa bersama.

Aku pun berusaha menerima situasi yang terjadi saat ini. Walaupun ditengah Covid-19, ibadah puasa tetap dilakukan dengan penuh suka cita dan gembira.

April 2020

Catatan:

(1) Catatan kaki dalam cerpen esai ini sangat utama ia mewakili kisah sebenarnya yang difiksikan dalam teks di atasnya.

(2) Ramadhan di Bekasi di larang buka bersama dan sahur On the Road di tiadakan. https://m.liputan6.com/news/read/4234062/ramadhan-di-bekasi-dilarang-buka-bersama-dan-sahur-on-the-road-silaturahmi-cukup-via-video-call

(3) Kementerian Agama menghimbau umat Islam untuk beribadah Ramadhan di rumah. https://www.cnbcindonesia.com/news/20200410120354-4-4-151078/lawan-covid-19-kemenag-umat-islam-ibadah-ramadhan-di-rumah

(4) Masjid Istiqlal menutup gerbang dan membatalkan seluruh kegiatan Ramadhan di masjid. https://m.liputan6.com/ramadan/read/4234005/selain-tarawih-15-kegiatan-keagamaan-di-masjid-istiqlal-dibatalkan-selama-ramadan

(5) Walaupun di tengah Covid-19, kegembiraan menyambut Ramadhan tidak boleh surut. https://nusantara.rmol.id/read/2020/04/21/431257/kegembiraan-menyambut-ramadhan-tidak-boleh-surut-meski-di-tengah-covid-19

(6) Kerentanan social dan gagalnya physical distancing. https://kolom.tempo.co/read/1326074/covid-19-kerentanan-sosial-dan-gagalnya-physical-distancing

(7) Sumber ada di no. 6

(8) Sumber ada di no. 6

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA