by

Sesederhana Rasulullah

Cerpen esai oleh M. Abdurrasyid

KOPI, Banjarnegara – Puasa di era Corona adalah ujian nyata. Mungkin akan cukup sulit bagi kami sebagai korban PHK. Terlebih penerapan bentuk lain PSBB terjadi di mana-mana. Tak perlu persetujuan kemenkes juga tak mengapa.1

Kami sekeluarga tidak gentar dengan Corona. Meski kami bisa jadi dibuat miskin karenanya. Hati kami lapang. Ada berjuta saudara sebangsa yang memiliki nasib sama.

Bukan lagi saatnya menggedor sanubari elit negara. Pemerintah saja sudah cukup pusing memikirkan pandemi yang menggerogoti bangsa.

Kami juga memaklumi. Pemerintah memiliki prioritas tersendiri. Orang marginal seperti kami pastinya akan tetap dipikirkan. Dengar-dengar, presiden sudah memutar otak. Menggalakkan padat karya, sekadar untuk menyambung asa.2

Sayangnya, anjuran agar tetap di rumah semakin ditonjolkan. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi juga menahan diri untuk keluar. 3 Jadi, maaf saja bila nanti keberadaan  kami cukup merepotkan.

Tapi tenang saja pak presiden. Kami tidak mungkin pasrah. Apalagi mati kelaparan di rumah. 4 Akan Ada beribu-ribu jalan untuk bertahan. Tidak lagi bergantung pada majikan. Apalagi bantuan pemerintah yang tak cukup untuk kebutuhan sebulan.

Hidup di zaman modern ini, kami agaknya sudah terbuai kemewahan. Siang malam bekerja membanting tulang. Mengejar gaya hidup metropolitan.

Dahulu, kami mungkin sudah kerap diPHK saat menjelang puasa. Tanpa pesangon ataupun bingkisan balas jasa. Faktanya, sampai Corona tiba, kami masih tetap merasakan segarnya udara.

Namun puasa kali ini jelaslah anomali. Kegiatan khas Ramadhan di masjid turut berhibernasi. Bukan saja di masjid kampung. Sekelas masjid Istiqlal saja harus memangkas program kerjanya.5

Istriku juga harus berlapang dada. Merelakan pesanan aneka rupa terpaksa dibatalkan. Semuanya.

Padahal, kegiatan Ramadhan di masjid dan musholla bisa menjadi pelipur lara. Sedekahan melimpah ruah. Senyum ceria anak-anak mengaji membekas sampai di rumah. Para lansia begitu semangat menuntut ilmu disertai acara ramah tamah.

Tapi, itu dulu. Kini semua sudah berubah. Masjid memang tidak dilockdown sempurna. Hanya dibatasi saja kehidupannya. Sholat jumat tiada, protokol kesehatan menjadi prasyarat utama.6

Apalah harus dikata. Ulama juga sudah tunduk pada Corona. WHO juga seakan telah menjadi rujukan utama. Dan yang lebih menyedihkan, semua daerah mendeklasikan diri menjadi zona merah. Tanpa perlu menunggu legalitas pemerintah.

Ooo

Ramadhan kali ini, nahkoda kehidupan keluarga berada di genggamanku. Tak akan ku biarkan anak istri larut suasana. Melewatkan gerbong keberkahan berbalut nestapa.

Aku teringat nasihat kekasih junjungan. Harta benda bukanlah ukuran sejati kekayaan.Bukankah, dunia hanyalah persinggahan?7

Jika kemarin anak sulungku masih saja bersikukuh. “Pokoknya tak mau sahur kalau tidak pakai geprek langganan”. Begitu juga dengan si bungsu. Sumpah serapah bermunculan demi mainan dan jajan impian. Mengikuti tabiat tahunan ketika bulan puasa menjelang.

Mulai hari ini, akan aku ganti. Saat Corona datang dan penghasilan  menghilang. Ikat pinggang harus dikencangkan.  “Puasa itu kewajiban penuh keikhlasan, tak perlu tetek bengek yang memberatkan.”

Tahun ini aku tetap mengomandoi bahtera. Meski aku tidak bisa sendiri pula melarung dalam badai. Sang istri kupercaya memegang navigasi. Terutama untuk urusan ekonomi.

Oleh karenanya kami tidak boleh saling menyalahkan. Anak-anak harus diberi pemahaman. Mulai hidup sederhana, sesederhana Rasulullah.

Si sulung rupanya belajar memboikot. Kudapan yang kadang kala diantar bang Ojol, resmi kami ditiadakan. Menu rumahan membuatnya seharian bungkam. “Maaf, bukannya masakan ibu tidak enak. Tapi kakak benar-benar tidak selera.” Itu jawaban tersopan yang dia lontarkan.

Si bungsu mungkin masih terlampau lugu. Asal ada segelas susu, ia akan diam membisu. Melihat polah kakaknya seakan tidak mau tahu.

Aku tidak bisa tinggal diam. Dahulu kala, rasul saja sampai makan dedaunan saat diboikot. Bukan hanya sebulan, dua tahun lamanya.

Dari peristiwa itu, kami bercermin. Betapa kecil ujian akan kami jalani. Berjuang tuk menatap indah esok hari.

Ooo

Puasa pertama dan kedua telah lewat. Keharmonisan keluarga belum juga menghangat. Kami kerap menyendiri dalam kebersamaan. Tenggelam dalam dunia maya yang melenakan.

Apalagi si sulung yang memasuki usia remaja. Gadget telah menjadi candu generasi seusianya. 8 Dari bangun tidur sampai kembali ke peraduan, gadget tak bisa dilepaskan.

Kesederhanaan memang perlu digalakkan. Aku dan istri sepakat memberi contoh. Hari ini dan seterusnya, gadget akan dimuseumkan. Jika berkata, wajib menatap mata lawan bicara.

Sesederhana itu, karena rasul pun sampai rela mensejajarkan pandangan beliau. Padahal yang dihadapinya hanyalah yatim nan papa.

Hidup sederhana tanpa gadget, membuat target alquran kami semoga tak meleset. Aku ingin menyelami ibnu katsirku. Sang istri katam lebih dari satu. Si sulung mempelajari sanad ini itu. Dan si bungsu tak mau berhenti sampai ba bi bu.

Kesederhanaan juga mengajarkan kemandirian. Biasanya kami mudah memerintah dengan iming-iming imbalan. Kini, segala kebutuhan kami coba usahakan sendiri. Seorang rasul saja tidak malu untuk menjahit baju. Padahal banyak bidadari seperti Aisyah, Shafiyah binti Huyay sampai Maria Al-Qibtiyah.

Memilih sederhana bukan berarti membunuh rasa empati. Turbulensi finansial tak boleh pula menghalangi upaya berbagi. Meski sekadar kuah pelengkap nasi.

Akhir-akhir ini solidaritas umat meningkat pesat. Ada yang mengantar langsung ke tempat. Ada pula yang melayani permintaan kerabat. Meski terancam kehilangan tempat shalat.9

Ibadah puasa di masa Corona. Membuat kami sadar pengorbanan pejuang bangsa. Mewariskan generasi penerus suasana merdeka. Meski hidup berderai air mata.

Saat ini, petugas medis mungkin layak disebut pejuang. Dimana nyawa menjadi taruhan. Status sosial mereka juga tergadaikan. Ada yang akhirnya terusir. Ada pula yang hidup terisolir.10

Kita yang masih bernurani. Tidak mungkin mengurangi peduli. Meski harus menguras pundi-pundi.

Kami ajarkan itu semua pada si sulung dan si bungsu. Berkaca pada teman jauhnya di seberang pulau. Simpanan tahunan, sehari saja habis tersalurkan tanpa galau.11

Si sulung sudah mulai bisa dinegosiasi. Ia sepakat ingin juga ikut berbuat. Membeli seperangkat APD bagi perawat.

Kami semua sadar, pundi-pundinya sudah lama terhenti. Sejak pertama kali sekolah online diinisiasi. Tak sepeser pun kantong terisi.

Jatah beli data dia relakan. Geprek langganan biar indah sebagai impian. Sementara gadget turut semedi, melengkapi koleksi museum di almari.

Si bungsu rupanya hatinya tergugah. Jajan dan mainan tak lagi menjadi anak panah. Menusuk hati kami sebagai orang tua yang mencoba amanah.

Pundi-pundi si sulung kami isi. Jajan dan mainan si bungsu juga kami penuhi. Bukan dalam bentuk cash. Melainkan deposit amal sebagai bekal. Saat nanti sudah menjemput ajal.

Jika dulu anak-anak distimulus dengan marsmellow. Kini kami hendak memanfaatkan momentum. Apapun yang terjadi mesti tetap slow. 12

Kami sekeluarga menyusun rencana bersama. Sepenuh jiwa menjamu kehadiran bulan puasa. Tanpa  ada tuntutan gemerlap kemewahan. Merelakan hati selalu berbalut kesederhanaan.

Karena kami percaya. Sesederhana Rasulullah bisa menjadi obat. Teruntuk hati kami yang mulai berkarat. Semoga… tidak berlanjut sampai sekarat.

Banjarnegara, 3 Ramadhan 1441H

1. Contohnya Semarang mendorong PKM non PSBB, https://m.detik.com/news/berita/d-4991359/kota-semarang-terapkan-pkm-non-psbb-mulai-senin-ini-rinciannya

2. Program padat karya ditujukan bagi kalangan terancam miskin terutama di pedesaan. https://nasional.kompas.com/read/2020/04/07/23013151/jokowi-janjikan-program-padat-karya-tunai-di-tengah-covid-19-seperti-apa

3. Wapres mengingatkan jumlah orang miskin baru meningkat. https://m.republika.co.id/berita/q9d9ka354/wapres-jumlah-orang-miskin-baru-meningkat-dampak-covid-19

4.Berkaca pada salah satu warga marginal di Serang. https://banten.suara.com/read/2020/04/21/075000/kisah-ibu-yuli-warga-banten-kelaparan-karena-corona-akhirnya-meninggal

5.Kegiatan khas Ramadhan di masjid  Istiqlal biasanya sampai belasan. Namun karena pandemi Corona hanya tersisa dua. httpsw.msn.com/id-id/berita/nasional/ramadan-2020-masjid-istiqlal-tak-gelar-salat-tarawih-berjamaah/ar-BB12SpKB

6. Berdasarkan fatwa MUI pusat.

7. Berdasarkan hadis riwayat Bukhori Muslim. Penjelasannya dapat dilihat di tautan https://muslim.or.id/11885-hakikat-kekayaan-yang-sebenarnya.html

Hidup di dunia bagaikan musafir, ini merujuk pada hadis nabi riwayat Bukhori. Untuk lebih jelasnya silakan lihat tautan https://almanhaj.or.id/13112-hiduplah-di-dunia-ini-seakan-akan-orang-asing-atau-musafir.html

8. Kecanduan gadget melanda generasi milenial. Gadget digunakan untuk pemenuhan kehidupan sosial dan sebagainya. https://edukasi.kompas.com/read/2019/01/30/12162041/survei-bangun-tidur-generasi-milenial-langsung-pegang-hp-kamu?page=all

9. Social distancing membuat warga Muslim Amerika kehilangan moment berjamaah di masjid. Namun pelayanan umat tetap dijalankan. https://m.republika.co.id/berita/q96hvq366/tak-beroperasi-masjid-as-terancam-kehilangan-tempat

10. Kasus perawat diusir dari kontrakan pernah viral. Pemerintah akhirnya memberikan solusi. Sebagian direlokasi ke penampungan sementara yang layak seperti yang terjadi di Jakarta. https://www.wartaekonomi.co.id/read278263/ada-perawat-diusir-dari-kost-anies-sediakan-hotel

11. Seorang anak rela mendonasikan celengannya buat membeli APD. https://m.merdeka.com/jabar/viral-bocah-usia-9-tahun-berikan-tabungannya-untuk-donasi-virus-corona.html

12. Slow atau woles adalah bahasa slang yang jamak didengar dari para generasi milenial.

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA