by

Pahlawan Itu Bernama Mawar

Elza Peldi Taher

Kala itu masih nihil kasus Corona
Kita berbangga menepuk dada
Kasus pertama belum ada
Semua merasa lega

Kala itu petinggi negeri dan pembantunya
Yakin tak ada yang terjangkit Corona
Katanya, semua berkah dari Yang Maha Kuasa
Indonesia terhindar dari petaka

Kala itu Mawar pun bekerja seperti biasa
Sebagai perawat jaga
Masker dan sarung tangan alpa
Mendekat dan menyentuh siapa saja

Tak berselang lama
Mawar merasakan gejala
Dua kali sudah dia diperiksa
Hasilnya mengarah Corona

Tepat satu minggu setelah kasus pertama Corona
Mawar masuk ruang gawat darurat
Gejala bertambah nyata
Dia suspect Corona

Jaka tertegun tak percaya
Ketika istrinya berucap lara
“Yah, aku positif Corona…
Masih bisa hidup tidak aku ya?”
Hati Jaka teriris perih duka
Dia kuatkan raga di depan istrinya

Mawar terbaring lemah di ranjang
Di Rumah Sakit tempatnya bekerja
Setelah selama lebih satu dasawarsa
Sebagai perawat jaga
Kini Mawar menjadi pasien
Karena sakit yang dideritanya

Mawar terinfeksi virus tanpa daya
Tubuhnya dihinggapi rasa lelah amat sangat
Hawa panas menyembur di sekujur tubuh
Nafasnya tersengal
Sesak menekan dada

Peluh terus membasahi tubuhnya
Air tak henti mengalir dari hidungnya
Pinggang pun terasa nyeri

Jaka masih setia menemani
Sambil menyeka peluh
Dan membalur obat gosok di pinggang istrinya
Agar rasa nyeri reda

Jaka menghibur istrinya
Dia berucap, “Allah yang memberi rasa sakit,
Allah juga yang akan menyembuhkannya”
Dia menyemangati istrinya

Hari beranjak malam
Mawar sulit menghirup udara
Ventilator mulai dikenakan
Untuk membantu pernafasan

Masih di ruang emergency
Jaka mengawasi sang istri
Kadang-kadang ventilator tak berfungsi
Jaka gelisah
Dia panggil perawat
Untuk memasang kembali ventilator

Hari berganti
Kini Jaka tak boleh lagi bertemu sang istri
Mawar dipindahkan ke rumah sakit rujukan Covid-19
Sang istri ditempatkan di ruang isolasi

Jaka menduga-duga dari mana virus itu menjangkit
Mungkin dari commuter line saat berangkat bekerja
Atau mungkin ketika istrinya berhadapan dengan pasien di rumah sakit
Karena sang istri belum dilengkapi alat pelindung diri

Sang istri pun tak tahu
Hanya kabar selentingan
Mawar pernah merawat seorang warga asing
Melacak jejak sang virus pun masih gelap

Kondisi Mawar makin memburuk
Ditambah riwayat dia pernah radang paru-paru
Malaikat pencabut nyawa semakin dekat
Hingga ruh terpisah dari raga

Innalillahi wa innailahi roji’un…
Mawar dipanggil sang Khalik
Menyisakan tak henti-hentinya tangis Jaka dan kedua anaknya

Jaka dan kedua anaknya menangis sedu sedan
Mereka tak bisa memasuki ruang isolasi
Kedua anaknya tak bisa melihat wajah jenazah ibunya
Jaka tidak bisa menatap wajah istrinya untuk terakhir kalinya

Jaka memeluk kedua anaknya
Dia membisikan, “Mama adalah pahlawan”
Sang istri memang menjadi kebanggaan keluarga
Tak pernah menunjukkan lelah setelah bekerja

Jaka mengingat ucapan istrinya menjelang ajal
“Aku hidup untuk orang yang aku sayangi
Dan mati untuk orang yang aku sayangi,
termasuk untuk profesi aku”…

Pondok Cabe, 13 April 2020

Elza Peldi Taher, Penulis buku “Manusia Gerobak”

Kunjungi juga kami di www.ppwinews.com dan www.persisma.org

Ingin berkontribusi dalam gerakan jurnalisme warga PPWI…? Klik di sini

Comment

WARTA MENARIK LAINNYA